Religi

Cerita Dibalik Perintah Puasa Asyura Diuraikan UAH, Terbebasnya Nabi Musa As dari Kerjaan Fir'aun

Ustadz Adi Hidayat terangkan soal Puasa Asyura, simak penjelasan tentang puasa yang dikerjakan di Bulan Muharram tersebut

Penulis: Mariana | Editor: Irfani Rahman
kanal youtube Adi Hidayat Official.
Ustadz Adi Hidayat ungkapkan soal hikmah Puasa Asyura 

BANJARMASINPOST.CO.ID - Ibadah yang dianjurkan bagi umat muslim adalah puasa, tak terkecuali puasa di Bulan Muharram. Ustadz Adi Hidayat ( UAH) menjelaskan cerita dibalik perintah puasa Tasu'a dan Puasa Asyura.

Selepas bulan Zulhijah 1443 Hijriyah nantinya berakhir, maka akan memasuki tahun baru dimulai 1 Muharram 1444 Hijriyah.

Ada amalan-amalan sunnah yang bagus dikerjakan umat Islam, salah satunya puasa di Bulan Muharram.

Di Bulan Muharram terdapat amalan sunnah yang tidak ditemukan di bulan-bulan lain, yaitu puasa Tasua'a dan Asyura.

Baca juga: Doa Ketika Bercermin Dijabarkan Ustadz Khalid Basalamah, Allah Berikan Kecantikan dan Ketampanan

Baca juga: Keutamaan Shalat Tahajud Dijelaskan Ustadz Abdul Somad, Berikut Tips Cara Membiasakan Bangun Malam

Puasa Asyura yakni puasa yang dikerjakan pada tanggal 10 Muharram, sedangkan puasa Asyura pada tanggal 9 Muharram. Kedua puasa ini hukumnya sunnah bagi umat muslim.

Ustadz Adi Hidayat menceritakan Nabi Muhammad SAW sewaktu berada di Madinah menyaksikan orang-orang Yahudi melaksanakan ibadah puasa. Nabi SAW pun mengkonfirmasi kebiasaan puasa kaum tersebut yang bertepatan dengan tanggal 10 di bulan Muharram.

"Kebiasaan puasa kaum Yahudi itu sesuai dengan tanggal puasa Asyura yang ditunaikan di hari ke-10 di bulan Muharram. Nabi bertanya kepada para sahabat dan kaum Yahudi saat itu, kaum Yahudi menjawab mereka melakukan puasa untuk mensyukuri nikmat Allah SWT yang telah diberikan kepada Musa As dan pengikut beliau dari kekejaman Fir'aun laknatullah," terang Ustadz Adi Hidayat dikutip dari kanal youtube Adi Hidayat Official.

Kaum Yahudi menyatakan tanggal 10 Muharram adalah waktu yang baik sebab Allah telah menyelamatkan Nabi Musa As dan Bani Israil.

Lantas Rasulullah SAW pun menanggapi, dirinya lebih berhak melestarikan dan  menyempurnakan syariat-syariat Nabi Musa.

Nabi Muhammad SAW memberikan contoh kepada para sahabat untuk menerapkan puasa sebagai syukur kepada Allah SWT atas perlindingan Allah kepada Nabi Musa dan kaumnya di masa lampau.

Baca juga: Adakah Amalan 1 Muharram? Buya Yahya Ingatkan Berpegang Pada Hadist Shahih

Baca juga: Cara Menghilangkan Penyakit Hati, Begini Penjelasan Ustadz Khalid Basalamah

Tak hanya saat itu, Nabi SAW juga mencontohkan puasa tersebut rutin dilakukan di tahun-tahun berikutnya yang dikenal dengan puasa Asyura bertepatan 10 Muharram. Hadist ini diriwayatkan Imam Al-Bukhari.

"Hadist ini setidaknya mengonfirmasi tiga hal yang menjadi keistimewaan serta dapat kita raih hikmahnya, serta dapat melestarikan hukum yang ada di dalamnya, pertama saya lebih berhak melestarikan syariat Nabi Musa, hal ini menunjukkan syariat yang dibawa nabi mulai dari nabi Adam bersumber dari Tuhan yang sama" jelas Ustadz Adi Hidayat.

Syariat itu menimbulkan ketundukkan dan kepatuhan dan menciptakan kedamaian yang disebut Islam. Maka dari itu sejak Nabi Adam As hingga nabi Muhammad SAW membawa risalah yang sama, diin yang sama yaitu syariat Allah SWT.

Inilah peran Nabi SAW untuk menutup dan menyempurnakan risalah yang dibawa nabi sebelumnya sesuai dengan masa dan eranya.

Puasa Asyura 10 Muharram
Puasa Asyura 10 Muharram (Tribunstyle.com)
Halaman
12
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved