Berita Batola

Kembangkan Jagung Hibrida hingga Bank Rumput, Warga Transmigrasi Jadi Petani Sukses di Batola

Sukses menjadi petani di Batola, warga transmigrasi ini sempat merasakan susahnya menolah tanah yang asam hingga menjadi pertanian yang subur.

Penulis: Muhammad Tabri | Editor: Eka Dinayanti
banjarmasinpost.co.id/Muhammad Tabri
Anton Sutono (39), petani sukses Batola dalam budidaya rumput pakan ternak dan jagung hibrida saat ditemui di kebunnya , Jumat (22_7) 

BANJARMASINPOST.CO.ID, MARABAHAN - Jadi warga transmigrasi ke Kalimantan tak memupuskan impian Anton Sutono (39) jadi sukses.

Meskipun melalui cara bertani, yang notabene harus berjibaku dengan tanah dan terik matahari.

Ceritanya berawal dari ikut orangtua dalam program transmigrasi ke Kabupaten Barito Kuala pada 1997 silam, saat itu ia baru menamatkan pendidikan di bangku SMP.

Ditempatkan di Desa Sido Makmur, Kecamatan Marabahan, warga asal Semarang ini mengolah lahan untuk bertanam palawija, di samping menerima jatah makan dari pemerintah yang menyelenggarakan program transmigrasi.

"Awalnya datang ke sini ya sulit, beradaptasi dengan lahan baru yang asam, lalu mengolahnya," aku Anton saat ditemui di rumahnya, Jumat (22/7/2022).

Baca juga: Duta Bahasa Kalsel Sambangi Anak-anak di Kawasan Terpencil Batola

Kawasan sekitar ia bermukim pun saat itu masih berupa hutan galam, belum terjamah masyarakat bertani maupun aktivitas lainnya.

Berbagai usaha dalam pertanian pun Anton coba, mulai dari menanam palawija, berkebun jeruk, karet, penggemukan sapi, bertanam jagung hibrida hingga budidaya rumput pakan ternak.

Melalui sejumlah usaha tani tersebut pun ia rasakan berbagai pengalaman, baik suka sekaligus dukanya.

"Akses di sini dulunya susah, sekarang sudah jauh berbeda. Jalan terbuka dan leluasa dilewati," ucap Anton.

Dulu, saat awal-awal menekuni penggemukan sapi, ia juga kerap mengalami krisis pangan ternak.

Karena kawasan semak masih sering diterpa Karhutla saat kemarau panjang.

Kondisi ini acap kali harus membuatnya keliling ke desa lain untuk mencari rumput pakan ternak.

Tentunya harus mengeluarkan biaya lebih untuk mengangkutnya.

"Inilah salah satu alasan saya mengembangkan budidaya rumput pakan ternak, memaksimalkannya dengan tanaman lain dalam tumpang sari," ujar ayah beranak dua ini.

Halaman
123
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved