Opini Publik

Anak, Televisi dan Pendidikan

Pada tahun 2008 Yayasan Pendidikan Media Anak bersama Koalisi Nasional mengkampanyekan Hari Tanpa Televisi.

Editor: Eka Dinayanti
istimewa
Teguh Pamungkas, ASN Dinas PPKB dan PPPA Kabupaten Tanah Laut 

Oleh: Teguh Pamungkas, ASN Dinas PPKB dan PPPA Kabupaten Tanah Laut

BANJARMASINPOST.CO.ID - TANGGAL 23 Juli diperingati sebagai Hari Anak Nasional. Di hari itu pula diperingati Hari Tanpa Televisi. Pada tahun 2008 Yayasan Pendidikan Media Anak bersama Koalisi Nasional mengkampanyekan gerakan tersebut.

Hal itu muncul karena kekhawatiran para orangtua akan tontonan yang tidak sesuai dengan usia anak di mana bisa berdampak buruk untuk perkembangan anak. Selain itu sebagai sikap keprihatinan terhadap acara yang kurang berkualitas dan upaya mengurangi ketergantungan masyarakat karena menonton televisi.

Saat di rumah menerapkan jam belajar bagi anak adalah pilihan tepat. Biasanya para orangtua menentukan waktu belajar antara pukul 19.00-21.00 Wita. Niat membersamai anak belajar sayangnya tidak mulus, terkadang anak ingin nonton televisi karena di jam itu sedang tayang film kesukaan. Yang semestinya momen berkumpul keluarga dan evaluasi belajar berganti menikmati sajian televisi.

Bukan hanya film kartun, ada sinetron dan tayangan-tayangan lainnya ikut andil memberikan pengaruh pada pola pikir dan perilaku anak. Anak-anak lebih terpacu mengakrabi televisi dari pada dengan buku, lebih suka terpaku di depan televisi. Pakar komunikasi Deddy Mulyana dan Idi Subandy Ibrahim melihat candu seseorang terhadap televisi dituangkannya dalam buku “Bercinta dengan Televisi” (1997). Lantas, bagaimana kita menyikapi terhadap tayangan televisi?

Televisi di Rumah
Sekarang hampir di tiap rumah warga mempunyai pesawat televisi. Apalagi kini begitu banyak channel televisi yang bisa diakses, mulai dari stasiun televisi internasional, nasional dan televisi lokal dengan menawarkan beragam acara yang menarik.

Dahulu pesawat televisi merupakan barang langka, kalaupun ada kehadirannya terbatas seperti di balai desa. Saat warga berkumpul nonton televisi pada momen itu pula dijadikan sebagai media interaksi masyarakat. Karena jarak antarrumah warga yang saling berjauhan terbentang persawahan dan hutan. Terkadang kepala desa sengaja menginformasikan pengumuman penting untuk warganya di malam hari, ketika warga berkumpul di balai desa menonton televisi.

Jika dikonsumsi dengan benar tayang televisi sebagai media informasi, pendidikan dan kontrol sosial (social control). Jangan sampai anak-anak yang semestinya belajar malah memilih menonton televisi atau memegang gadget. Yang dikhawatirkan para orangtua sebenarnya bukan tayangannya, tetapi dampak dan sejauh mana orangtua dan masyarakat melakukan pendampingan saat anak-anak menonton televisi. Karena anak bisa saja meniru apa yang ada di televisi.

Anak-anak “membungkus” apa yang disimak, adegan demi adegan. Tugas orangtua menjauhkan tayangan televisi yang berisikan materi perundungan, kekerasan dan kejahatan. Rawan anak-anak merekam terus meniru dari yang dilihat dan didengar, sebab audio visual sarana yang paling cepat dalam menyampaikan pesan.

Selain pesan disampaikan dengan cepat ke audiens, televisi merupakan media komunikasi yang searah. Dari si pembuat pesan -melalui acara televisi- informasi disampaikan, tetapi informasi yang disampaikan tidak bisa diinterupsi maupun disanggah. Nah, anak-anak pun menjadi pasif, hanya bisa menonton dan mendengar, tidak bisa mengutarakan dan mengulas pendapat.

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved