Opini Publik

Banjarmasin Post dan Tuntutan Era Konvergensi

dengan bertambahnya usia, diharapkan tampilan Banjarmasin Post kian apik dan kian atraktif, kontennya semakin beragam.

Editor: Eka Dinayanti
istimewa
Djoko Subinarto (Kolumnis dan Bloger) 

Oleh: Djoko Subinarto (Kolumnis dan Bloger)

BANJARMASINPOST.CO.ID - A newspaper is the center of a community. It’s one of the tent poles of the community, and that’s not going to be replaced by web sites and blogs.”
-Michael Connelly

DI era di mana dunia kian terdigitalisasi dan konvergensi media adalah keniscayaan, serta model jurnalisme clickbait kian mengemuka, Banjarmasin Post diharapkan tetap teguh mengabdi hanya kepada kebenaran dan kepentingan publik.

Tanggal 2 Agustus ini, koran Banjarmasin Post genap berusia 51 tahun. Sejarah mencatat cikal bakal Banjarmasin Post adalah koran kampus, Mimbar Mahasiswa, yang penuh dengan idealisme. Meski demikian, jujur saja, tidak ada institusi media yang berdiri sekarang ini dengan hanya bermodal hitung-hitungan dari sisi idealisme. Tapi, selalu dibarengi dengan hitung-hitungan dari segi bisnis.

Sebagai bagian dari industri media cetak arus utama modern, salah satu tantangan utama bagi Banjarmasin Post tentu saja adalah bagaimana mempertahankan kepercayaan publik sehingga ia dapat tetap bertahan di tengah jurnalisme clickbait serta di tengah kecenderungan melorotnya minat khalayak untuk membaca surat kabar.

Saya sendiri pertama kali berkenalan dengan Banjarmasin Post ketika adik ipar ibu saya mendapat promosi dari kantornya dan perlu pindah tugas dari Bandung ke Banjarmasin, di pertengahan tahun 1980-an. Sewaktu menyempatkan pulang ke Bandung dari Banjarmasin, ia memberi oleh-oleh saya beberapa eksemplar koran Banjarmasin Post. Sejak itu, saya pun memintanya untuk mengirimkan secara berkala beberapa eksemplar koran Banjarmasin Post via paket pos ke Bandung. Di masa itu, semua koran hanya memiliki versi cetak, yang terbit dalam format broadsheet 12 kolom. Tahun 1980-an, belum ada internet yang kita kenal seperti sekarang. Kini, berkat internet, koran versi cetak dapat ditampilkan lewat e-paper secara daring, yang bisa diakses dari mana saja.

Akan tetapi, berkat internet pula, siapa pun kini bisa pula memproduksi informasi, terlepas apakah informasi itu bernilai atau tidak, dan menyebarkannya ke seantero jagat dengan cepat serta seketika alias real time. Nah, di tengah kemajuan dahsyat teknologi informasi dan komunikasi, yang menimbulkan guncangan-guncangan hebat di pelbagai sektor bisnis sekarang ini, Banjarmasin Post, seperti media-media cetak lainnya, setidaknya dihadapkan pada tuntutan bagaimana mempertahankan model bisnis format cetaknya.

Menurut pengamatan Judi Milestones, mantan wartawan CNN, yang kemudian memilih berkarir sebagai konsultan media, bisnis industri media dewasa ini telah mengalami perubahan besar lantaran perkembangan teknologi informasi. Kemajuan teknologi digital tak pelak telah membuat perubahan besar dalam cara orang mengkonsumsi produk-produk media massa. Lahirnya internet telah mendorong digitalisasi informasi, yang memungkinkan khalayak dapat dengan mudah dan cepat mengakses pelbagai informasi termutakhir. Imbasnya, minat orang untuk untuk membaca surat kabar pun menyurut.

Hitung-hitungan statistik, secara global, telah terjadi penurunan tiras surat kabar di pelbagai belahan bumi. Ini sebuah sinyal nyata bahwa secara umum orang memang semakin enggan membaca surat kabar. Membaca saja sudah enggan, apalagi harus berlangganan. Orang-orang, terutama mereka yang lebih muda, sekarang ini lebih suka membaca berita lewat internet. “Buat apa berlangganan atau membeli surat kabar, toh semuanya telah tersedia lewat internet,” demikian paling tidak yang ada dalam pikiran mereka.

Akibat tiras terjun bebas, raihan iklan media cetak kian seret. Celakanya, ongkos produksi terus naik. Buntutnya, beberapa surat kabar di negeri ini terpaksa gulung tikar lebih cepat. Sejumlah lainnya memilih mengurangi jumlah rubrik dan halamannya serta menyetop edisi Minggu-nya. Sedangkan beberapa lainnya kini harus berjalan dengan tertatih-tatih, antara hidup segan mati tak mau.

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved