tajuk

Candu Otot Instan

Satu fenomena yang mencuat adalah penggunaan steroid bagi beberapa oknum atlet binaraga.

Editor: Eka Dinayanti
PBFI KALSEL UNTUK BPOST
Binaragawan saat berkompetisi di Kejuaraan Provinsi Kalimantan Selatan di Banjarmasin pada 2021. 

BANJARMASINPOST.CO.ID - OLAHRAGA seyogyanya bertujuan untuk menyehatkan tubuh. Kini, tujuan olahraga juga punya tujuan lain seperti memperbaiki penampilan hingga menjadi sumber penghasilan dan prestasi.

Sayangnya, ketika olahraga tak lagi sekadar mencapai kebugaran tubuh, seperti menjadi atlet, ada saja yang dilakukan yang malah jauh dari tujuannya.

Bahkan, membuat tubuh terancam berbagai penyakit hingga berujung kematian.

Satu fenomena yang mencuat adalah penggunaan steroid bagi beberapa oknum atlet binaraga.

Mereka berusaha mencapat otot yang paten dengan cara instan. Padahal, banyak bahaya yang mengadang bagi binaragawan yang jadi pecandunya.

Hal Ini terungkap dari pengakuan satu atlet di Kalsel. Dia mengaku memakai steroid agar cepat mendapatkan otot yang bisa bersaing di kejuaraan.

Hasilnya, dia mengaku mendapatkan prestasi yang diinginkan. Otot instannya mengantarkannya jadi juara.

Meski menyadari bahayanya, namun demi otot instan, sang binaragawan tetap melakoninya.

Bahkan, dia seolah rela berbagai ancaman seperti impotensi, gagal jantung dan lainnya bakal menghampiri jika jadi pecandu steroid itu.

Sebenarnya, mantan atlet binaraga Indonesia, Ade Rai sempat mengutarakan kecemasannya terkait fenomena ini.

Dalam data yang diungkapnya beberapa waktu lalu, ada sekitar 75 persen atlet yang menggunakan obat terlarang dan doping untuk mendapatkan otot yang mumpuni.

Praktis, ini menjadi tantangan khusus buat Indonesia, terutama PABBSI, mereka harus pelan-pelan memprioritaskan ajang binaraga di Indonesia benar-benar adil dan baik.

Caranya dengan melakukan tes doping. Deteksi penyalahgunaan obat sejatinya mudah dilakukan lewat tes.

Para atlet tak boleh terbuai oleh sukses instan dalam profesinya sebagai atlet binaraga. Badan berotot itu asosiasinya sehat dan kuat.

Jadi jangan sampai salah. Penyalahgunaan obat adalah korupsi dalam prestasi.

Bila atlet sakit, pengurus organisasi bisa cari atlet lain. Sementara itu atlet harus menanggung risikonya sendiri, termasuk risiko meninggal dunia.

Bagaimanapun, untuk mendapatkan sesuatu itu ada proses, termasuk otot. Semua yang instan, termasuk mendapatkan tubuh ideal tak akan bertahan baik. (*)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved