Jendela

Islam sebagai Kepasrahan

Dengan kepasrahan, manusia tidak akan sombong jika berhasil dan tidak akan putus asa jika gagal.

Editor: Eka Dinayanti
istimewa
Mujiburrahman 

Oleh: Mujiburrahman

BANJARMASINPOST.CO.ID - DI tengah ladang yang panas, seekor anjing yang kehausan, tetap setia mengikuti tuannya yang berjalan, hingga tiba di bawah satu pohon yang rindang. Anjing itu tampak lega, menemukan pelindung dari panas. Namun, ketika si tuan berjalan lagi, anjing yang lelah dan kehausan itu tetap mengikutinya, meskipun mungkin ia akan mati kehausan dan kelelahan. Si tuan kemudian berkata di dalam hatinya, “Alangkah setia anjing ini. Betapa besar kepercayaannya kepadaku. Bahkan saat membahayakan hidupnya sekalipun, dia tetap setia. Andai aku seperti ini kepada Tuhan, setia dan percaya pada-Nya. Betapa mulianya!”

Nurcholish Madjid sering menekankan, secara bahasa, Islâm artinya tunduk, patuh dan pasrah. Menurut Alqur’an, Islâm adalah agama para Nabi dan Rasul, yang ditutup dan disempurnakan oleh Nabi Muhammad. Islam juga adalah agama alam semesta, karena seluruh semesta ini tunduk dan pasrah pada kehendak-Nya. Hukum alam adalah ciptaan dan kehendak Tuhan, dan seluruh semesta tak bisa tidak harus tunduk pada tertib hukum alam itu. Islam juga adalah agama kemanusiaan, karena dalam diri manusia ada fitrah, kejadian mula-mula yang asli, yang primordial, yang percaya pada Tuhan dan cenderung pada kebaikan, kebenaran, keindahan dan keadilan.

Namun, jika alam dan malaikat tak bisa tidak harus tunduk pada kehendak Tuhan, maka manusia diberi kebebasan memilih untuk tunduk atau membangkang. Manusia diciptakan dalam citra Tuhan, sebagai makhluk yang memiliki kebebasan terbatas. Ini sebabnya, kadangkala manusia ingin menjadi Tuhan, berkuasa menuruti segala macam kehendaknya, termasuk membunuh manusia lainnya. Manusia ingin hidup selama-lamanya (Alqur’an menyebutnya hingga seribu tahun), seolah abadi seperti Tuhan. Manusia ingin dirinya dipuja-puji dan dihormati seperti Tuhan. Singkat kalimat, ketika manusia menolak tunduk, berislam kepada Tuhan, dia akan menuhankan dirinya sendiri.

Sebaliknya, manusia yang tunduk, yang berislam kepada Tuhan, adalah orang yang menyadari keterbatasan dirinya. Ia sadar bahwa kemampuan dan pengetahuannya terbatas. Ia sadar bahwa hidupnya dibatasi oleh ruang dan waktu. Ambisinya yang menyala untuk berkuasa hanyalah ilusi karena sesungguhnya dia tidak bisa mengendalikan banyak hal dalam hidup ini. Apalagi impiannya untuk hidup selama mungkin, pada akhirnya dia akan mati juga. Kesadaran ini akan mengingatkannya pada kekuatan dan kekuasaan Tuhan yang tak terbatas. Jika hatinya ingin tenang, maka dia harus tunduk dan pasrah, berislam kepada Tuhan. Ini adalah pilihan logis dan realistis.

Lantas, kepasrahan itu artinya, pasrah kepada apa? Pasrah kepada perintah dan larangan Tuhan. Dalam ungkapan lain, pasrah dan tunduk kepada hukum moral yang diwahyukan Tuhan. Menurut Fazlur Rahman, kepasrahan kepada hukum moral yang dikandung Alqur’an disebut Islâm, dan manifestasinya dalam kehidupan disebut ibadah, yakni pengabdian kepada Allah. Ibadah mencakup berbagai ritual sekaligus aktivitas keseharian yang dilaksanakan sebagai wujud dari ketundukan kepada Allah. Dengan cara ini, manusia akan menjadi normal. Kata Gai Eaton, di zaman modern ini orang sering salah mengartikan bahwa normal itu artinya mengikuti orang banyak. Padahal, normal berasal dari kata ‘norm’, yakni norma. Jadi, orang yang normal adalah orang yang mengikuti norma.

Apakah kepasrahan akan melahirkan fatalisme, pasrah kepada nasib, tidak mau berjuang dan berusaha? Bisa saja demikian, jika kita memahami kepasrahan sebagai suatu keputusasaan. Namun, ini tentu bukan yang diajarkan agama. Manusia dilarang berputus asa dari rahmat Allah. Apapun kesulitan yang dihadapinya, dia wajib berjuang untuk menyelesaikannya, tetapi pada saat yang sama dia harus menyadari bahwa perjuangannya tidak akan berhasil tanpa pertolongan Allah. Di sini kepasrahan berlaku mulai awal hingga akhir. Di awal manusia berjuang, mengikuti hukum sebab-akibat yang diciptakan-Nya, dan ini merupakan wujud dari kepasrahan kepada kehendak-Nya. Setelah berjuang, dia pun tunduk dan pasrah, menyerahkan hasilnya kepada keputusan Allah.

Alhasil, ketundukan dan kepasrahan itu justru merupakan kekuatan, bukan kelemahan. Dengan kepasrahan, manusia tidak akan sombong jika berhasil dan tidak akan putus asa jika gagal. Manusia juga siap menerima apa yang telah dan akan terjadi, karena dia menyadari bahwa dirinya serba terbatas, dan segalanya takkan berlaku tanpa kehendak dan kuasa Allah. Seperti cerita di awal tulisan ini, si anjing tak ragu mempertaruhkan hidupnya karena ia percaya penuh pada tuannya. Bukankah ini suatu kepasrahan paripurna? Hanya karena ego dan kesombongan diri, manusia tidak mau pasrah pada Tuhan sehingga dia tak bisa mengecap kedamaian dan ketenangan hati. (*)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved