selebrita

Insiden Mata Kru Panji Petualang Disembur Ular Kobra, Ini Cara Heru Gundul Beri Pertolongan Pertama

Pawang ular Panji Petualang memang memiliki banyak koleksi ular hasil rescue yang dipelihara olehnya dengan baik dan aman

Penulis: Kristin Juli Saputri | Editor: Edi Nugroho
YouTube PANJI PETUALANG
Salah satu kru Panji Petualang mengalami insiden berbahaya. Salah satu matanya disembur ular kobra. Matanya menjadi iritasi setelah terkena semburan bisa ular kobra Jawa. Heru Gundul memberikan pertolongan pertama untuk korban. 

BANJARMASINPOST.CO.ID - Salah satu kru youtuber Panji Petualang disembur ular kobra hingga akhirnya tumbang.

Pawang ular Panji Petualang memang memiliki banyak koleksi ular hasil rescue yang dipelihara olehnya dengan baik dan aman.

Nahas sebuah insiden menimpa salah satu kru Panji Petualang yang sedang berinteraksi dengan ular kobra di kandang.

Hal tersebut diketahui dari video kanal youtube PANJI PETUALANG unggahan 11 Agustus 2022.

Baca juga: Inilah Babak Baru Karir Angelina Sondakh Kini, Intip Gaya Ibu Keanu Massaid Saat Syuting Video Klip

Baca juga: Isi Teguran Atta Halilintar untuk Thariq Halilintar yang Tak Fokus Masa Depan, Sejak Enam Bulan Lalu

Seorang kru Panji Petualang disembur oleh ular kobra Jawa tepatnya mengenak salah satu matanya sehingga menjadi cedera.

Bisa semburan ular kobra tersebut membuat mata korban menjadi iritasi sehingga terasa perih dan sulit dibuka.

Heru Gundul, guru Panji Petualang lantas turun tangan memberikan pertolongan pertama untuk korban.

Mata korban yang tersembur bisa ular kobra langsung ditetesi cairan madu mata.

Hal tersebut dilakukan agar bisa ular yang ada di mata dapat keluar.

Pengobatan semburan kobra ini ada beberapa cara sebenarnya, ini madu mata, “ kata Heru Gundul.

“Ini iritasinya udah parah banget sampe gak bisa dibuka, “ beber Panji Petualang.

Baca juga: Perilaku Nassar Pada Nasywa Tuai Pujian Desy Ratnasari, Akui Perjuangan Mantan Suami Muzdalifah

Baca juga: Reaksi Ferry Irawan Saat Venna Melinda Alami Tanda Kehamilan, Sejak Pagi Hari Sebelum Beraktivitas

Air mata korban terus mengalir setelah ditetesi madu mata.

Namun, Heru Gundul mengatakan itu tidak perlu dicemaskan pasalnya merupakan efek dari kinerja madu mata itu sendiri.

Pertolongan pertama sendiri dilakukan untuk mengeluarkan bisa dari mata korban sesegera mungkin.

“Ini pertolongan pertama jadi dia ngeluarin air mata, jadi bisa itu walaupun dia bentuk cair tapi begitu dia terkena udara teroksidasari itu dia akan menjadi kristal, “ jelas Heru Gundul.

Hal mengejutkan ditemukan Panji Petualang yakni biji mata korban menghilang seketika mata menjadi putih sesaat setelah ditetesi madu mata.

Namun, ternyata biji mata korban masih ada hanya saja bersembunyi sehingga tidak terlihat oleh Panji Petualang.

Setelah itu, tahap berikutnya adalah mencuci mata yang iritasi dengan air kelapa muda atau cairan infus atau air biasa.

Dari ketiga air tersebut semuanya dapat membersihkan kristal bisa ular kobra namun kinerjanya berbeda-beda.

“Yang bagus sebenarnya pakai air kelapa muda tapi karena susah jadi pakai larutan ini, air biasanya pun bisa tapi dalam jumlah yang banyak, “ sambung Heru Gundul.

Simak video selengkapnya: klik

Bisa Ular Kobra Semburan Racunnya Tidak untuk Membunuh, Studi Jelaskan

Gigitan kobra dengan bisa ular yang mematikan adalah kecelakaan alami, hampir setiap spesies ular mengembangkan kemampuan menyuntikkan racunnya untuk melumpuhkan mangsanya.

Namun, racun pada beberapa spesies ular hanya untuk melumpuhkan mangsa dan bukan untuk pertahanan.

Akan tetapi, studi baru menunjukkan bahwa beberapa ular benar-benar mengembangkan bisa mereka untuk mengusir pemangsa potensial, termasuk manusia.

Para ilmuwan internasional, dalam sebuah studi menunjukkan jenis unik dari racun dan strategi envenomation yang berevolusi pada setidaknya tiga kesempatan.

Kobra dan rinkhal, spesies ular kobra meludah berleher cincin yang biasanya ditemukan di Afrika Selatan, adalah ular yang memiliki kekerabatan dekat yang memiliki kemampuan menyemburkan bisa cukup jauh.

Sehingga, pada manusia yang tidak waspada akan merasakan efek tidak menyenangkan dari semburan bisa ular kobra ini.

Dilansir dari Science Alert, Sabtu (23/1/2021 silam), kandungan bisa ular kobra yang meludah memiliki bahan kimia berbahaya, jika terkena mata, maka akan dapat melumpuhkan kornea.

Hal itu akan menyebabkan rasa sakit yang hebat dan dalam dosis tinggi dapat menyebabkan kebutaan.

Taring ular ini seperti pistol air dan racun yang membutakan tidak sepenuhnya tepat untuk melumpuhkan mangsa. Jadi para peneliti melihat ini sebagai kesempatan sempurna untuk menyelidiki sejarah evolusi ular dari karakteristik ular berbisa yang tidak biasa ini.

Ular pertama kali mengembangkan kemampuan untuk menyuntikkan racun antara 60 hingga 80 juta tahun yang lalu.

Sejak itu, ribuan spesies ular dalam superfamili Colubroidea telah mengubah resep aslinya dan memodifikasi bagian mulut mereka agar sesuai dengan kebutuhan makanan mereka.

Dalam studi ini, peneliti menggunakan fosil sebagai kalibrasi dengan teknik penanggalan molekuler pada genom sejumlah ular kobra meludah (Naja species), rinkhals (Hemachatus haemachatus), dan kerabat spesies ini yang tidak meludah (Walterinnesia aegyptia dan Aspidelaps scutatus).

Hasil studi yang telah dipublikasikan di jurnal Science ini menunjukkan kobra meludah Afrika mengembangkan kebiasaan mereka antara 6,7 hingga 10,7 juta tahun yang lalu. Sedangkan kerabat dekat mereka dari Asia mengikutinya pada 4 juta tahun kemudian.

Rinkhal sulit dijelaskan, tetapi kemampuan menyemburkan bisa telah terpisah dari kobra meludah lainnya pada lebih dari 17 juta tahun yang lalu.

Berdasarkan analisis racun pada bisa ular kobra tersebut, peneliti mengungkapkan bahwa penampilan mereka tampak memiliki lebih banyak kesamaan satu sama lain, daripada kerabat yang tidak meludah.

Kecuali kandungan racun neurotoksik pada spesies ular kobra Naja philippinensis.

Efek kimia pada racun yang menyakitkan juga telah diuji dengan menggunakan jaringan dan saraf yang hidup.

"Kami menguji bagaimana komponen racun memengaruhi saraf penginderaan rasa sakit dan menunjukkan bahwa kobra yang meludahkan racunnya menyebabkan rasa sakit yang lebih efektif dibandingkan kobra yang tidak meludah," kata ahli saraf Irina Vetter dari University of Queensland, Australia.

Selain itu, dari jumlah hasil menunjukkan kobra meludah dan rinkhal menggunakan kembali racun dan taring mereka secara independen, berubah menjadi mekanisme pertahanan yang mampu mengurangi ancaman dari predator besar.

Namun, peneliti tidak bisa memastikan predator besar yang dimaksudkan. Mereka menduga berdasarkan bukti yang ada, kemungkinan predator besar adalah primata, sebab ular telah memengaruhi neurologi dan perilaku primata.

"Sangat menarik untuk berpikir bahwa nenek moyang kita mungkin telah mempengaruhi asal mula senjata kimia pertahanan pada ular," kata pakar bisa ular Nick Casewell dari University of Liverpool, Inggris.

Ironisnya, dengan memahami hubungan evolusi antara racun dan tubuh kita sendiri, kita berada pada posisi yang lebih baik dalam mengidentifikasi mekanisme potensi untuk kelas pengobatan baru.

Sifat analgesik dari bisa ular derik, misalnya, ternyata dapat memberi kesempatan untuk sembuh pada jutaan orang yang hidup dengan nyeri neuropatik.

"Racun penyebab rasa sakit dari bisa hewan dapat menjadi alat yang berguna untuk membantu kita memahami sinyal rasa sakit pada tingkat molekuler," kata ahli biologi molekuler University Queensland, Sam Robinson.

Selain itu, kata dia, manfaat bisa ular juga dapat membantu peneliti mengidentifikasi target baru untuk obat penghilang rasa sakit di masa depan.

Dapatkan informasi lainnya di Googlenews, klik : Banjarmasin Post

(Banjarmasinpost.co.id/Kristin Juli Saputri)

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved