Opini Publik

Meneguhkan Kembali Nilai Pancasila

Pancasila sejatinya harga mati. Setiap silanya ada nilai guna bagi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Editor: Eka Dinayanti
banjarmasinpost.co.id
Dr Syaiful Bahri Djamarah MAg Dosen PAI Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Antasari Banjarmasin 

Oleh: Dr Syaiful Bahri Djamarah MAg, Dosen PAI Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Antasari Banjarmasin

BANJARMASINPOST.CO.ID - PERINGATAN hari lahirnya Pancasila 1 Juni 2022 telah kita lewati. Tinggal menghitung hari lagi, kita akan memperingati 77 tahun Indonesia merdeka, setelah diproklamasikan pada 17 Agustus 1945. Peringatan tahun ini memang terasa berbeda bukan karena pandemi Covid 19 belum berakhir, tetapi juga karena persoalan nilai-nilai Pancasila masih menjadi topik diskusi yang hangat di berbagai media massa baik elektronik maupun cetak. Khususnya terkait soal fenomena munculnya benih-benih sikap intoleransi di kalangan generasi muda dan masyarakat pada umumnya.

Bagi bangsa ini, Pancasila sejatinya harga mati. Setiap silanya ada nilai guna bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Sebagai ideologi terbuka, Pancasila adalah landasan ideal yang kokoh, menjadi jembatan bagi segala perbedaan. Sebagai pemersatu bangsa, Pancasila memiliki kekuatan yang kokoh untuk membentengi bangsanya dari paparan benih-benih sikap intoleransi. Oleh karena itu, tidak ada tempat dan ruang sejengkal pun bagi benih-benih sikap intoleransi,

Benih Sikap Intoleransi
Akan tetapi, faktanya tidak demikian. Fenomena adanya benih-benih sikap intoleransi terlihat jelas dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Beberapa hasil penelitian telah menemukan adanya fenomena benih-benih sikap intoleransi di kalangan masyarakat. Ada beberapa anggota masyarakat yang mengalami perlakuan intoleransi.

Hasil penelitian Litbang Kompas pada 17-19 Mei 2021 menyebutkan, bahwa ada 19,3 persen responden mengalami perlakuan intoleransi, baik karena agama, suku, ras, dll. dan 80,1% responden menjawab tidak pernah mengalami intoleransi. Dari 19,3% yang mengalami perlakuan intoleransi itu, lebih banyak (51,9%) terjadi di media sosial seperti Instagram, WhatsApp, dan Twitter daripada lewat TV, koran, dan majalah (15,7%), dan di rumah, sekolah, serta kantor (20,7%) (Kompas, 2/6 2021).

Sementara itu, dua buah laporan penelitian survei yang telah dilakukan pada tahun 2017 dan 2022 mengisyaratkan adanya fenomena benih-benih sikap intoleransi di kalangan generasi muda. Hasil penelitian survei Komunitas Pancasila Muda pada Mei 2020 menemukan bahwa 19,5% pengguna (usia 18-25 tahun) Instagram dan Facebook tidak yakin Pancasila relevan bagi kehidupan mereka. Pada tahun 2017, CSIS menemukan, 9,5% kaum milenial setuju Pancasila sebagai ideologi negara diganti.

Apa arti dari semua ini? Artinya, di kalangan anak bangsa ini sudah banyak yang terpapar benih-benih sikap intoleransi. Nilai-nilai Pancasila nampaknya mulai tergerus oleh benih-benih sikap intoleransi. Angka 48,3

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved