Kampusiana

LK3 Banjarmasin Gelar Diskusi Publik, Libatkan Mahasiswa Berbagai Perguruan Tinggi di Kalsel

Lembaga Kajian Keislaman dan Kemasyarakatan (LK3) Banjarmasin, menggelar diskusi publik dengan fokus tema terkait Hukuman Mati

Editor: M.Risman Noor
banjarmasinpost.co.id
Acara Diskusi digelar LK3 di Hotel Nasa Banjarmasin yang diikuti mahasiswa dari berbagai universitas 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Lembaga Kajian Keislaman dan Kemasyarakatan (LK3) Banjarmasin, menggelar diskusi publik dengan fokus tema terkait Hukuman Mati dari Perspektif Agama-Agama, Problematika, dan Perkembangannya dalam RKUHP, di Hotel Nasa Banjarmasin, Kamis (25/8/2022).

Sebelum diskusi dimulai, Imparsial, LSM yang bergerak di bidang pengawasan dan penyelidikan pelanggaran HAM di Indonesia, memutar film dokumenter yang berjudul Menanti Keadilan.

Pemutaran film tersebut, sebagai gambaran bahwa saat ini vonis hukuman mati dianggap tak lagi layak lantaran bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan.

Apalagi saat ini vonis hukuman mati itu juga kerap dianggap menyasar masyarakat kelas ekonomi ke bawah.

Menceritakan sedikit tentang film dokumenter itu, singkatnya film itu mengisahkan seorang terpidana atas nama Zulfikar Ali, warga negara Pakistan yang ditangkap polisi pada November 2004, dengan tuduhan kepemilikan 300 gram heroin.

Baca juga: Launching MTQ Nasional ke 29 di Kalsel Wamennag Optimis Gelaran Sukses

Baca juga: Jabatan Mardani di Bendahara Umum PBNU Diganti Gus Gudfan, Gus Yahya Berikan Alasan

Beberapa tahun berlalu, tepatnya pada tahun 2016, nama Zulfikar Ali masuk dalam daftar eksekusi mati.

Namun, ekekusi ditunda, lantaran banyaknya protes terkait keputusan itu, satu diantaranya adalah surat yag berisi penolakan dari Presiden RI ke-3 BJ Habibie. Hingga tahun 2018, nasib Zulfikar Ali pun tak kunjung mendapatkan kejelasan.

Akibat kondisi kesehatannya yang terus menurun sejak dipenjara pada 2004, ditambah fasilitas kesehatan di lembaga pemasyarakatan yang tidak memadai, Zulfikar Ali wafat pada tanggal 31 Mei 2018.

Dalam film dokumenter itu, juga ditampilkan catatan dugaan penyimpangan kasus yang membelit Zulfikar Ali.

Seperti, saat Zulfikar Ali ditahan selama sebulan sejak ditangkap, tidak ada didampingi penerjemah dan pengacara. Bahkan, Zulfikar Ali tidak diizinkan memghubungi Kedutaan Besar (Kedubes) Pakistan.

Halaman
123
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved