Bisnis

Baca BPost Hari Ini 28 Agustus 2022, Kupas Tuntas Sulitnya Mendapatkan Tiket Umrah

Kabid Penyelenggaraan Haji dan Umrah H Rusbandi, Sabtu (27/8), mengatakan banyak travel umrah sulit mendapatkan tiket.

Penulis: Salmah | Editor: M.Risman Noor
banjarmasinpost.co.id/siti bulkis
Rombongan umrah PT Ipah Mandiri Utama saat menunggu keberangkatan di Bandara Syamsudin Noor, Senin (16/5/2022). Tiket umrah kini makin sulit didapat. Kemenag menduga ada aksi borong. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Kabid Penyelenggaraan Haji dan Umrah H Rusbandi, Sabtu (27/8), mengatakan banyak travel umrah sulit mendapatkan tiket.

Bahkan beberapa waktu lalu puluhan peserta PT Bhuana Etam Lestari mengundurkan diri.

Sulitnya mendapatkan tiket ditengarai Rusbandi karena ada agen besar yang memborong tiket. Akibatnya travel kecil kesulitan mendapatkannya.

“Apalagi travel yang pusatnya di Jakarta. Di Banjarmasin cuma cabang. Awalnya mereka mematok harga murah, ternyata ada kenaikan tiket pesawat,” urai Rusbandi.

Baca juga: Madrasah Aliyah Manbaul Ulum Kabupaten Banjar Boyong Piala Bergilir Rektor Uniska Kalsel

Baca juga: Pengurus Aisyiyah dan Muhammadiyah Kabupaten HSU Ikut Sosialisasi Konsumsi Jamu Kemasan

Kenaikan tiket pesawat untuk umrah, terang Rusbandi, merupakan imbas dari naiknya harga bahan bakar avtur. “Sekarang umrah sudah tidak ada lagi yang di bawah Rp 30 juta untuk yang 9 hari,” rincinya.

Ia mengaku Kemenag Kalsel tidak bisa berbuat banyak untuk tiket dan travel karena itu adalah kewenangan pasar.

H Saridi, Ketua Serikat Penyelenggara Umrah dan Haji Indonesia Kalsel dan FK Patuh (Penyelenggara Travel Umroh dan Haji), mengatakan kenaikan biaya umrah bukan karena soal pajak tapi karena kenaikan harga minyak dunia.

“Ini sesuai surat keputusan menteri perhubungan nomor 68 tahun 2022. Isinya adalah maskapai diperbolehkan menaikkan harga tiket 10-20 persen,” kata Saridi. Akibatnya biaya umrah ada kenaikan Rp 3 juta-Rp 5 juta per tiket.

Lantas kenapa harga tiket khususnya untuk umrah naik tidak terkendali? Menurut Saridi, ini akibat supply dan demand tidak seimbang setelah pandemi Covid-19. Terlebih kebijakan Arab Saudi tidak bisa ditebak.

“Selain itu kenaikan tarif akibat perbedaan budaya antara Arab Saudi dan Indonesia. Ini karena miskomunikasi. Satu contoh adalah saat kita booking hotel dan bayar, setelah kita datang, kamar tidak tersedia, ini sering dialami,” beber Saridi.

Mau tahu lebih lengkap beritanya, baca edisi cetak Banjarmasin Post hari ini Minggu 28 Agustus 2022.(banjarmasinpost.co.id/salmah/milna sari)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved