Berita Batola

Ranggaman Masih Jadi Pilihan Saat Panen Padi di Batola Kalsel, Ini Alasan Petani

Peran ranggaman (alat pemanen padi tradisional) masih pilihan utama petani di Kabupaten Barito Kuala Batola) saat musim panen padi tiba

Penulis: Muhammad Tabri | Editor: Hari Widodo
Banjarmasinpost.co.id/Muhammad Tabri
Warga di Kelurahan Ulu Benteng, Kecamatan Marabahan memanen padi dengan menggunakan ranggaman, Selasa (30/8/2022). 

BANJARMASINPOST.CO.ID, MARABAHAN - Di tengah berkembangnya berbagai alat pertanian yang semakin modern, peran ranggaman (alat pemanen padi tradisional) masih pilihan utama petani di Kabupaten Barito Kuala Batola). 

Seperti yang dilakukan Fatma (55) warga Kelurahan Ulu Benteng, Kecamatan Marabahan.

Ia memanen padi yang menguning dengan ranggaman di tangan kanannya. 

Menurut Nenek Fatma, ia sudah terbiasa dengan alat potong padi kecil ini sejak puluhan tahun, jauh sebelum ada mesin panen otomatis atau menggunakan arit. 

Baca juga: Hama Tikus Turunkan Hasil Panen Padi di Jingah Habang Banjar Kalsel

Baca juga: Padi Terendam Setinggi Paha, Petani Desa Kramat HSU Panen Padi Dengan Jukung

"Dengan cara ini lebih praktis, meskipun harus memakan tenaga lebih banyak," ujarnya, Selasa (30/8/2022). 

Nenek Fatma pun menjelaskan, dengan menggunakan ranggaman bisa lebih selektif memilih tangkai padi yang benar-benar matang. Sehingga yang masih berwarna hijau tidak diambil. 

Selain itu, harga ranggaman yang dijual juga terbilang murah, bahkan bisa dibuat sendiri dengan sedikit keterampilan. 

"Kalau beli paling kisaran 3 hingga 5 ribu rupiah. Kadang juga cuman bikin sendiri di rumah," tuturnya saat ditemui di hamparan padi yang menguning. 

Cara kerja ranggaman sendiri cukup simpel, biasanya ditaruh di sela jemari tangan. Lalu bagian mata pemotong dari silet diarahkan ke tangkai padi sambil ditekan menyamping. 

Baca juga: VIDEO Warga Papagaran Panen Padi Buyung, Madin Sebut Sekitar 25 Persen Ladang Tertutup Longsor

Dengan gesekan yang cukup, maka tangkai padi sudah terpotong dan posisinya terjepit di jemari. Selanjutnya di kumpulkan dalam wadah seperti bakul dan sejenisnya. 

"Setelah dikatam, lalu diirik (dilindas pakai kaki untuk merontokkan biji pada dari tangkainya) terakhir diangin (untuk memisahkan padi yang berisi dan hampa), pungkas Nenek Fatma. 

Dengan begitu, biji padi atau gabah dilabang (dijemur) sebelum disimpan dalam karung agar bertahan dalam waktu yang lama. (Banjarmasinpost.co.id/Muhammad Tabri) 

 

 

 

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved