Berita Tanahbumbu

Kesulitan Dapat Solar, Nelayan di Kabupaten Tanah Bumbu Ini Banyak Beralih Jadi Buruh Bangunan

Anggota Kelompok Nelayan KUB Citra Brasil Kusan Hilir, Kabupaten Tanbu, banyak jadi buruh bangunan karena sulit dapat solar untuk kapalnya melaut.

Penulis: Man Hidayat | Editor: Alpri Widianjono
HAKIM UNTUK BPOST
Kapal-kapal nelayan di Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) di Batulicin, Kabupaten Tanah Bumbu (Tanbu), Provinsi Kalimantan Selatan. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BATULICIN - Sulit mendapatkan solar untuk kapal, menjadi kendala utama di kalangan nelayan Kabupaten Tanah Bumbu (Tanbu), Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel). 

Keluhan sulitnya BBM ini, banyak yang memilih alih profesi atau mengerjakan pekerjaan sambilan saat tak dapat BBM untuk melaut. 

Sementara kabarnya, pemerintah menyiapkan tiga jaring pengaman sosial jelang kenaikan harga BBM.

Selain Bantuan Langsung Tunai (BLT) dan Bantuan Subsidi Upah (BSU), pemerintah juga menyiapkan subsidi transportasi untuk angkutan umum sampai dengan ojek dan nelayan, serta untuk perlinsos tambahan.

Meskipun belum ada kepastian kapan penyaluran dan besarannya, namun rencana bantuan ini sudah menuai sorotan.

Baca juga: Tersangka Kasus Narkoba Meninggal Pasca Ditangkap, Ditreskrimum Polda Kalsel Gelar Rekonstruksi

Baca juga: Polres HST Akui Bubarkan Judi di Aruh Adat, Amankan Pelaku dan Bikin Kesepakatan

Baca juga: Tiga Bulan Usai Operasi di RSUD Ulin Banjarmasin, Bayi Kembar Siam Asal Kalteng Diperbolehkan Pulang

Salah satu yang menjadi sorotan adalah efektifitas bantuan ini membantu masyarakat yang menjadi sasaran penerima. 

Khususnya untuk kalangan nelayan yang selama ini tidak hanya dipusingkan soal harga BBM, tapi juga pasokan BBM untuk melaut. Sejumlah persoalan itu seperti dikeluhkan nelayan di Tabanio belum lama tadi.

"Nelayan kami sekarang, banyak yang menangis karena sangat sulit mendapatkan BBM untuk melaut, " kata Hasan, Ketua Kelompok Nelayan KUB Citra Brasil Kusan Hilir, Kabupaten Tanbu, kepada Banjarmasinpost.co.id, Kamis (1/9/2022). 

Bebeberapa bulan memang saat ini seakan tak bisa bertahan lagi dengan sulitnya mendapatkan BBM untuk nelayan.

"Ada beberapa kelompok nelayan yang saat ini kesulitan dapat BBM. Kami terpaksa beli dieceran karena di SPBU tidak bisa mengambil dan SPBN sungai loban juga tidak pernah bisa, " katanya.

Baca juga: Tolak Kenaikan BBM Bersubsidi, Begini Alasan Nelayan di Kotabaru Kalsel

Baca juga: Tersangka Kasus Narkoba Meninggal Pasca Ditangkap, Ditreskrimum Polda Kalsel Gelar Rekonstruksi

Baca juga: Tim Inafis Polres Tanbu Kalsel Pastikan Jenazah Korban KM Teman Niaga, Ini Identitas Korban

Tak heran, teman nelayan sudah banyak yang beralih bekerja bangunan karena sekarang ini tak bisa keluar kelaut. Belum lagi hasilnya, cuaca buruk dan harganya yang turun. 

"Banyak yang kerja bangunan untuk penuhi keperluan karena digaji per hari. Rata-rata, mereka bisa dibayar per hari Rp 100 ribu bila kerja bangunan, " katanya. 

Mendengar kabar subsidi, memang sudah pernah dengar, namun sudah dari dulu. Nyatanya, tak pernah diterima.

"Makanya kami berencana mengadu ke dewan untuk membantu mencarikan solusi agar kami bisa tetap ke laut mencari ikan, " katanya. 

Mereka hanya mengharapkan kelancaran mendapatkan BBM dan lebih bagus lagi bila subsidi itu memang benar-benar adanya.

(Banjarmasinpost.co.id/Man HIdayat)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved