Berita Banjarmasin

10 Spesies Ikan Sungai di Banjarmasin Terkontaminasi Mikroplastik, Lais Paling Banyak Tercermar

Sepuluh ikan sungai di Banjarmasin terkontaminasi mikroplastik. Lais, paling banyak tercemar

Penulis: Frans Rumbon | Editor: Hari Widodo
banjarmasinpost.co.id/Muhammad Tabri
Ilustrasi-Ikan Lais termasuk satu dari ikan sungai di Banjarmasin yang terkontaminasi mikroplastik. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Rantai makanan penduduk di Banjarmasin, berpotensi tercemar mikroplastik akibat Sampah Plastik yang mencemari sungai-sungainya.

Hal ini pun disampaikan oleh Peneliti Ekspedisi Sungai Nusantara (ESN)  Prigi Arisandi, setelah melakukan penelitian di beberapa sungai di Banjarmasin.

Bahkan Tim ESN dan juga Perkumpulan Telapak Kalimantan Selatan, menemukan ada sekitar 10 spesies ikan yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat mengandung mikroplastik yakni 53 partikel mikroplastik per ekor.

"10 ekor ikan yang diteliti adalah ikan Patung, Seluang, Tembubuk, Lompok, Lais, Nila, Puyau, Sili-sili, Handungan dan Ikan Senggiringan ternyata telah terkontaminasi mikroplastik. Ikan lais paling banyak tercemar dengan kandungan dalam lambungnya sebesar 135 partikel mikroplastik," ungkapnya.

Baca juga: PascaSungai Alalak Tercemar Minyak, Warga Mandi di Sungai Rasakan Gatal hingga Panas Pada Kulit

Baca juga: VIDEO Sungai Bitahan Kabupaten Tapin Diduga Tercemar Batu Bara, Lahan Pertanian Terdmpak

Dibeberkannya juga bahwa salah satu penyebab utama tercemarnya ikan oleh mikroplastik adalah banyaknya sampah plastik yang ditemukan di sungai-sungai, seperti di Sungai Barito, Sungai Martapura dan Sungai Kuin. 

Dan hal ini lanjutnya dikarenakan  tidak adanya sistem pengumpulan sampah untuk pemukiman-pemukiman di Sungai Kuin, Sungai Martapura dan Sungai Barito.

Kemudian tidak ada iuran atau retribusi yang standar pada tingkat kelurahan dan minimnya sarana tempat sampah, dan minimnya papan himbauan/larangan atau sarana edukasi kepada publik untuk ikut menjaga sungai dan tidak membuang sampah ke sungai.

Termasuk juga rendahnya kesadaran masyarakat untuk membuang sampah pada tempatnya.

Pemko Banjarmasin sendiri sebenarnya sudah membuat kebijakan untuk menekan kasus plastik di Banjarmasin, namun hal ini menurutnya masih belum benar-benar efektif.

“Pemko Banjarmasin sejak 2016 telah memiliki Peraturan Wali Kota nomer 18 Tahun 2016 tentang pengurangan kantong plastik, namun 70 persen sampah yang paling banyak dijumpai di kolong-kolong pemukiman warga adalah sampah kantong plastik, botol air minum sekali pakai, sachet dan styrofoam," jelasnya.

Prigi juga menerangkan berdasarkan penyusuran yang dilakukan di Sungai Barito, Sungai Kuin dan Sungai Martapura ditemukan sampah dari sekitar 10 produsen banyak ditemukan.

Dan para produsen yang sampahnya banyak ditemukan ini pula yang harusnya ikut bertanggungjawab membersihkan sampahnya agar tidak mengancam kesehatan warga Banjarmasin dan Kalsel.

”Produsen yang sampahnya tidak bisa diolah secara alami harus bertanggungjawab mengolah sampah, mereka harus ikut mengurangi sampah plastik bungkus produk agar tidak mencemari sungai, selain meredesign packaging, produsen-produsen ini juga harus ikut membersihkan sampah plastik yang mencemari Barito, Martapura dan Kuin,” katanya.

Tim ESN dan Perkumpulan Telapak pun telah melakukan inventarisasi dan brand audit pada sejak kemarin hingga hari ini Senin (5/9/2022) di kawasan Pasar Lama (Sungai Martapura), Kawasan Banjar raya/Tempat pelelangan Ikan (Sungai Barito) dan sepanjang Sungai Kuin dan hasilnya 70 persennya adalah sampah plastik tas kresek/Kantong plastik, styrofoam, botol plastik, popok dan 30 persen adalah sampah bermerk yang terdiri dari bungkus/packaging makanan/minuman, bungkus personal care(peralatan mandi/cuci/pembersih ruangan). 

Baca juga: Kampanyekan Stop Kantong Plastik, Alfamart Lakukan Pembagian Tas Belanja

Sampah plastik sachet makanan dan minuman mendominasi sampah plastik bermerk, produsen besar seperti Unilever, Wings, Indofood, Mayora, Ajinomoto, P&G, Unicharm, Danone, Cocacola dan Nabati. 

"Brand-brand besar ini sampahnya paling sering dijumpai, dan produsen ini harus dimintai pertanggungjawaban agar ikut membersihkan sampah mereka yang memenuhi kolong-kolong di permukiman penduduk di sepanjang Sungai Martapura, Sungai Kuin dan sungai Barito,” ujar Jualiade selaku Ketua Perkumpulan Telapak Kalimantan Selatan.(Banjarmasinpost.co.id/Frans Rumbon)


Keterangan foto (kiriman ESN) : Warga memanfaatkan air di sungai-sungai di Banjarmasin.

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved