Berita Tanahlaut

Cuma Miliki HP Jadul, Sejumlah Sopir Angkutan Umum di Tanahlaut Harapkan Ini Pada Pemerintah

Kalangan sopir angkutan umum di Talamengaku pusing terhadap penerapan cara baru pembelian BBM subsidi jenis pertalite.

Penulis: Idda Royani | Editor: Eka Dinayanti
banjarmasinpost.co.id/roy
Kalangan sopir angkutan umum sabar menunggu penumpang di Terminal Tanah Habang, Pelaihari.. Mereka senang didatangi polisi dan diberi sembako, Rabu (7_9) siang. , 

BANJARMASINPOST.CO.ID, PELAIHARI - Mulai diterapkannya aplikasi My Pertamina untuk pembelian pertalite di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) memunculkan kegundahan sebagian masyarakat.

Contohnya kalangan sopir angkutan umum di Kabupaten Tanahlaut (Tala), Kalimantan Selatan (Kalsel).

Beberapa orang dari mereka, Kamis (8/9/2022), mengaku pusing terhadap penerapan cara baru pembelian bahan bakar minyak (BBM) subsidi jenis pertalite tersebut.

"Saya cuma punya HP (handphone) jadul, yang cuma bisa untuk menelepon dan mengirim SMS (short message service). Ya jelas gak bisa kalau harus memperlihatkan barcode segala," ucap M Mishan.

Sopir angkutan penumpang L300 jurusan Pelaihari-Sungaidanau ini juga mengaku gaptek (gagap teknologi).

Baca juga: Dampak kenaikan BBM, Diskopperindag Batola Prediksi Bahan Pokok Naik Pekan Depan

Baca juga: Ringankan Beban Hidup Masyarakat Pascakenaikan BBM, Polres Tanahlaut Bagi-bagi Sembako

Andai pun misal kemudian mampu membeli smartphone, belum tentu bisa menggunakan aplikasi My Pertamina.

Karena itu warga Desa Pulausari, Kecamatan Tambangulang, ini berharap pemerintah tidak memberlakukan sesuatu yang hanya akan menyulitkan orang-orang kelas bawah seperti dirinya.

"Harapan saya dan kawan-kawan para sopir angkutan di Tala ini, kalau bisa kami para sopir tidak usah lah diharuskan menggunakan aplikasi itu untuk membeli BBM di SPBU," harapnya.

Baca juga: Pasien Covid 19 di RSHB Pelaihari Tanahlaut Sisa Satu, Dirawat Gunakan Oksigen Tekanan Tinggi

Dikatakannya, kenaikan harga BBM saat ini pun telah cukup membebani hidup.

"Jangan lah lagi kami dibikin pusing oleh cara baru pembelian BBM," tandasnya diiyakan sejumlah sopir lainnya.

Apalagi saat ini penghasilan harian pun cenderung menurun karena makin banyak masyarakat yang memiliki sarana transportasi.

"Sehari kadang cuma dapat Rp 100 ribu, sedangkan ongkos BBM dalam sehari bisa habis Rp 150 ribu. Kalau cuma dapat tarikan tiga atau empat orang, pasti nombok," sebut Mishan yang telah 20 tahun menjadi sopir angkutan penumpang.

(banjarmasinpost.co.id/roy)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved