Tajuk

Negeri Para Pelaut

kejayaan para pelaut atau nelayan ini terutama di Tanahlaut, Kalimantan Selatan, mulai memudar.

Editor: Eka Dinayanti
banjarmasinpost.co.id/roy
Kapal nelayan Swarangan sandar di dermaga setempat. Saat ini sebagian nelayan Swarangan tak bisa melaut karena kesulitan mencukupi kebutuhan solar. 

BANJARMASINPOST.CO.ID - SEJAK dulu Indonesia dikenal sebagai negara maritim, hampir sebagian wilayah Nusantara dikelilingi lautan.

Tak heran bila hal ini menjadikan nenek moyang bangsa Indonesia seorang pelaut yang pemberani.

Seperti yang digambarkan dalam lagu anak-anak yang melegenda “Nenek Moyangku Pelaut”.

Mereka lah manusia-manusia pemberani yang menantang ombak dan badai di lautan.

Bukan hal yang aneh pula bila sebagian masyarakat Indonesia berprofesi sebagai nelayan.

Berkat keberanian dan keuletan nelayan inilah kita bisa menikmati dan merasakan hasil laut Indonesia.

Namun, kejayaan para pelaut atau nelayan ini terutama di Tanahlaut, Kalimantan Selatan, mulai memudar.

Bukan karena hasil laut yang berkurang, karena laut tak pernah berhenti memberikan kekayaannya, tapi karena sulitnya nelayan menyediakan bahan bakar, solar.

Jatah kuota solar untuk nelayan melaut hanya diberikan sekadarnya, jauh dari jatah untuk cukup melaut, tentu saja hal itu berdampak pada hasil tangkapan.

Kalau pun melaut, hanya bisa di sekitar pesisir dengan hasil yang tak seberapa, sementara hasil penjualan tetap dan harus dibagi antara pemilik kapal dan Anak Buah Kapal, keuntungan tak seberapa.

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    Tribun JualBeli
    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved