Breaking News:

Jendela

Healing Manusia Modern

Kita perlu penyembuhan. Namun penyembuhan yang kita lakukan rupanya hanya di permukaan.

Editor: Eka Dinayanti
istimewa
Mujiburrahman 

Oleh: Mujiburrahman

BANJARMASINPOST.CO.ID - CHARLES le Gai Eaton menuturkan satu kisah menarik dalam bukunya Reflections (2018: 47-48). Alkisah, seorang Guru Sufi yang sering memandu murid-muridnya untuk berzikir mengingat Allah, memanggil salah seorang muridnya. “Wahai muridku, pergilah kau ke taman dan petiklah beberapa kuntum bunga, lalu bawa kemari.” Si murid mengangguk, lalu bergegas menuju taman. Entah mengapa, murid itu lama sekali tidak kembali. Ketika akhirnya dia datang, wajahnya tampak pucat. Anehnya lagi, dia hanya membawa sekuntum bunga yang sudah layu. Ia menyerahkan bunga itu kepada Sang Guru. Guru tersenyum dan berkata, “Mengapa kamu lama sekali? Mengapa justru bunga layu ini yang kau petik?” Murid menjawab, “Saya tadi mau memetik banyak bunga, tetapi terhenti, tidak berani karena bunga-bunga itu terus-menerus berzikir dan bertasbih kepada Allah. Setelah lama menunggu, akhirnya ada sekuntum bunga yang berhenti berzikir dan bertasbih. Saya pun segera mengambilnya. Inilah bunga itu.”

Orang boleh percaya atau tidak dengan kisah di atas. Bagi kita manusia modern yang seringkali lalai, lupa akan kehadiran Allah, kisah tersebut mungkin tak terbayangkan dan mustahil. Sejak bangun tidur, lalu sibuk beraktivitas hingga tidur lagi, tak ada yang memenuhi hasrat, perasaan dan pikiran kita kecuali kesenangan, kekayaan, kekuasaan dan ketenaran. Pandangan kita terlalu pendek. Hati dan pikiran kita telah ditutupi oleh keinginan-keinginan rendah hawa nafsu. Sebagian kita memang ada yang sempat menunaikan ibadah, salat dan berdoa. Namun ibadah itu seperti gerak mekanik tanpa penghayatan dan ingatan pada Allah. Dalam beribadah pun kita lupa pada-Nya. Kita orang-orang modern ini tinggal di kota-kota yang padat, yang dipenuhi dengan gedung-gedung megah, didesain oleh para arsitek hebat, dan dibangun dengan teknologi yang canggih. Setiap hari kita menaiki kendaraan bermesin yang kita ciptakan guna mempercepat mobilitas kita. Hampir semua yang ada di seputar kita ad lah barang-barang ciptaan manusia.Kita menikmatinya sekaligus terperangkap di dalamnya karena kita semakin jauh dari alam ciptaan Tuhan yang perawan. Melihat gunung, pantai, laut dan sawah yang luas kiranya lebih mudah mendorong kita ingat pada sang Pencipta dibanding melihat satu pot bunga di sudut gedung yang mewah.

Mungkin karena kehidupan kita semakin keras dan berat, kita pun perlu rekreasi, menghibur diri menikmati alam yang asli, yang jauh dari kota. Orang sekarang menyebutnya healing, artinya penyembuhan. Ungkapan ini menunjukkan, kita mengakui bahwa diri kita sedang sakit dan perlu penyembuhan. Namun penyembuhan yang kita lakukan rupanya hanya di permukaan. Ibarat orang yang sakit, badannya panas karena peradangan, kemudian dikasih obat penurun panas dan pengurang rasa sakit, sementara sebab utama sakitnya tidak diobati. Penyakit kita yang sebenarnya adalah lupa pada Allah sehingga kita tak takut pada murka-Nya dan tak bersyukur pada nikmat-Nya. Lebih aneh lagi, sebagian ilmuwan modern yang mengkaji alam mengatakan, tidak ada apapun di alam ini yang menunjukkan Tuhan itu ada. Rupanya bagi mereka, sesuatu itu hanya ada kalau bisa diindera. Tali temali hukum alam, dan keterkaitan alam satu sama lain, bagi mereka dianggap sebagai suatu kenyataan yang ada dengan sendirinya, tak ada yang menciptakannya. Agar tampak pintar, mereka berdalih, jika Tuhan menciptakan alam ini, mengapa Dia biarkan ada kejahatan dan penderitaan di dalamnya? Mereka tak mau mengerti, jika Tuhan itu Maha Sempurna, maka wujud yang diciptakan-Nya pastilah tidak sama dengan-Nya, yakni tidak sempurna.

Kemudian akibat ulah tangan manusia sendiri menuruti hawa nafsunya yang sombong dan serakah, dia gunakan sains dan teknologi untuk mengeksploitasi alam. Bumi digali, gunung dipangkas, hutan dibabat, asap mengepul di mana-mana. Muncullah pemanasan global. Iklim berubah dan tak tentu arah. Musim panas justru sering hujan, dan sebaliknya. Cuaca menjadi ekstrem. Musim panas sangat panas, dan musim dingin sangat dingin. Di satu wilayah terjadi kebakaran hutan, di wilayah lain terjadi banjir besar. Bencana demi bencana datang. Banyak orang yang peduli, membantu para korban, tetapi sebab utama bencana itu, yakni perusakan alam, tetap tak dihentikan.

Padahal, bagi kaum beriman, alam adalah tanda-tanda kehadiran Allah. Keindahan alam dan segala manfaat yang dikandungnya untuk kelangsungan hidup seluruh makhluk merupakan wujud dari cinta kasih dan rahmat-Nya, yakni sifat-Nya yang feminin (jamâl). Di sisi lain, kedahsyatan alam yang tak mampu dikendalikan manusia, dan bencana-bencana yang terjadi, menunjukkan sifat-Nya yang maskulin (jalâl), yang membuat kaum beriman merinding dan takut kepada-Nya. Baik rahmat-Nya ataupun murka-Nya, keduanya mengharuskan manusia untuk mendekat kepada-Nya. Dekat itu ditunjukkan oleh kesadaran yang selalu berusaha ingat kepada-Nya. Alhasil, meski kita bukan seorang wali, demi kedamaian hati dan kesejahteraan hidup, kita wajib sesantiasa berusaha mengingat Allah. Jika kita melupakan-Nya, Dia akan melupakan kita, bahkan kita akan lupa pada diri kita sendiri. Allah tidak perlu diingat, kitalah yang perlu ingat kepada-Nya. (*)

 

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved