Opini Publik

Pancasila, Antara Hafal dan Amal

Terkait Pancasila, banyak warganegara yang tidak hafal. Media massa dan media sosial sering memberitakannya, biasanya dengan nada humor.

Editor: Eka Dinayanti
bpost cetak
Ahmad Barjie B, Komisi Informasi dan Komunikasi MUI Kalsel Mahasiswa Pascasarjana UIN Antasari 

Oleh: Ahmad Barjie B, Komisi Informasi dan Komunikasi MUI Kalsel

BANJARMASINPOST.CO.ID - SEORANG Ketua DPRD sebuah kabupaten di Jawa Timur mengundurkan diri dan minta maaf kepada masyarakatnya karena tidak hafal Pancasila. Di antara komentar netizen, “…menyedihkan sekali ada pejabat yang tidak hafal Pancasila, bagaimana mau mengamalkan kalau tidak hafal.”

Kalau boleh beropini, penulis tidak setuju Ketua DPRD tersebut mengundurkan diri kalau alasannya semata karena tidak hafal sila-sila dalam Pancasila, kecuali ada alasan lain yang lebih mendasar. Minta maaf kepada masyarakat boleh saja, tetapi tidak perlu sampai mengundurkan diri.

Penulis juga tidak setuju dengan komentar netizen tersebut, karena terkesan mewajibkan hafal Pancasila sebagai prasyarat untuk mengamalkannya. Hafal Pancasila tentu bagus, terlebih bagi pejabat publik, baik di jajaran legislatif, eksekutif maupun yudikatif dan sebagainya. Tetapi hafal sila-sila Pancasila tidak otomatis yang bersangkutan juga mau dan mampu mengamalkannya. Berapa banyak di negeri ini orang-orang yang hafal Pancasila, bahkan mengaku-aku sebagai paling Pancasilais, atau suka berkoar “Aku Pancasila”, tetapi perilakunya tidak sesuai bahkan bertentangan dengan sila-sila Pancasila.

Kecuali kalau istilah hafal di sini disamakan artinya dengan asal katanya dari bahasa Arab, yaitu hafizha-yahfazhu-hifzhan, yang artinya menjaga dan memelihara secara benar serta mengawasi dari penyimpangan, maka hafazh tersebut termasuk selalu membaca, menghafal, menghayati, mengamalkan dan melestarikannya, sebagaimana orang yang hafizh Alquran. Tetapi hafal dalam bahasa Indonesia artinya hanya dititikberatkan pada tertanam dalam ingatan dan mampu mengucapkan di luar kepala (KBBI, 1990).

Penulis lebih respek kepada orang-orang yang tidak begitu hafal urutan Pancasila, dan tidak pula mengklaim diri sebagai paling Pancasilais, tetapi kehidupan dan pengamalan sehari-harinya sudah mencerminkan sila-sila Pancasila. Peribahasa Arab berbunyi: dalalatul haal, afshahu min dilaalatil maqaal (Bukti sikap dan perbuatan lebih utama daripada perkataan).

Seorang penceramah menganalogikan dengan urutan nabi/rasul dalam Islam. Setiap muslim wajib mengimani para rasul yang 25 orang, mulai Nabi Adam as sampai Nabi Muhammad saw. Walaupun tidak hafal semua namanya atau tertukar urutannya tidak mengapa, yang penting mengimaninya, sebab iman kepada para rasul termasuk Rukun Iman.

Tidak Begitu Hafal
Terkait Pancasila, memang masih banyak warganegara yang tidak hafal. Media massa dan media sosial sudah sering memberitakannya, biasanya dengan nada humor. Kebanyakan mereka yang tidak hafal sila-sila Pancasila itu orang-orang awam, kurang terpelajar. Tetapi tidak mustahil ada juga kalangan terpelajar, seperti kasus di atas.

Dulu di tahun 1990-an, kami sering menertawakan karena ada seorang ibu tetangga yang tidak hafal Pancasila, urutan dan kalimatnya tidak tepat, padahal ia seorang guru SD. Kami memaklumi, mungkin karena faktor usia atau daya ingat dan daya hafalnya lemah. Tetapi ia tetap mampu menjadi guru yang baik hingga pensiun di tahun 2000-an. Institusi tempatnya bekerja pun tidak mempersoalkan, atau mungkin juga tidak pernah menanyakan.

Selama ini kebanyakan masyarakat yang hafal sila-sila Pancasila adalah kalangan terpelajar, khususnya siswa-siswa SD sampai SMA sederajat. Hal itu disebabkan mereka memang diwajibkan oleh gurunya, dulu guru Pendidikan Moral Pancasila (PMP) atau guru Pendidikan Kewarganegaraan (PKn), untuk menghafalnya. Apalagi, setiap upacara bendera pagi Senin atau hari-hari besar nasional mereka juga selalu mendengarkan teks Pancasila dibacakan.

Terkait Semangat
Menghafal Pancasila sebenarnya mudah, apalagi jika disertai semangat, khususnya semangat hidup bernegara dalam NKRI yang berfalsafah Pancasila. Semangat bernegara ini akan berbanding lurus jika para pejabat dan petinggi negara juga benar-benar memiliki jiwa yang sama dalam bentuk pengabdian yang optimal kepada rakyatnya. Apabila rakyat melihat dan menilai para pejabat negara betul-betul menghayati dan mengamalkan semua sila dalam Pancasila, bukan hanya dalam bentuk ucapan verbal, maka semangat rakyat akan meningkat.

Sekarang semangat rakyat kelihatannya menurun, bukan saja dalam bentuk tidak hafal sila-sila Pancasila, termasuk juga untuk hal-hal lain, misalnya memasang bendera Merah Putih, memasang foto presiden dan wakilnya, menghafal nama-nama menteri kabinet dan sebagainya. Ikut pemilu pun banyak yang enggan, dan baru mau mencoblos kalau ada imbalan uang atau materi.

Indonesia sudah merdeka hampir 80 tahun, dan usia Pancasila pun kurang lebih sama, meskipun perumusannya beberapa kali mengalami perubahan substansial dan redaksional. Di usia negara dan Pancasila yang tidak lagi muda, persoalan Pancasila sudah seharusnya beranjak dari verbalitas ke realitas pengamalan. Dulu ada 30-an butir P4 sebagai jabaran dari lima sila Pancasila. Berapa pun jabarannya, yang penting kita menghayati dan mengamalkannya.

Taat kepada Tuhan YME dan toleran terhadap agama yang berbeda, menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, kebenaran dan keadilan, mengeratkan persatuan dan menjauhi perpecahan, menjunjung prinsip-prinsip demokrasi yang sehat dan memperjuangkan keadilan sosial yang merata bagi seluruh rakyat, hakikatnya kita mengamalkan Pancasila. Wallahu A’lam. (*)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved