Ekonomi dan Bisnis

Harga Karet Anjlok Lagi, Pasar Muui Haruyan HST Pun Sepi

Di tengah kenaikan harga BBM Bersubsidi, harga Karet di HST Kalsel kembali anjlok. Daya beli masyarakat pun turun

Penulis: Hanani | Editor: Hari Widodo
Dok BPost
Aktivitas di Pasar Muui Haruyan, Kecamatan Haruyan Kabupaten HST. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BARABAI- Di tengah kenaikan harga BBM Bersubsidi, nasib malang dialami petani karet di Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST) Kalsel.

Petani di GST, kini kembali merasakan anjloknya harga karet. Jika sebelumnya sempat dikisaran Rp 9.000 hingga Rp 10.000 per kilogram, sekarang anjlok menjadi Rp 6.000 per kilogram.

Kepala Desa Lokbuntar, Kecamatan Haruyan, Ataillah Sarbini kepada banjarmasinpost.co.id, Jumat (16/9/2022) mengatakan, anjloknya harga karet sejak Agustus 2022 lalu.

“Sekarang ada penaikkan harga BBM oleh pemerintah pusat. Dampaknya, daya beli masyarakat kian rendah,”ungkapnya.

Baca juga: Petani Karet di Kabupaten Tapin Keluhkan Harga Anjlok, Dinas Pertanian Sampaikan Penyebabnya

Baca juga: Petani di Kabupaten Barito Kuala Keluhkan Harga Karet Turun pada Saat Harga Sembako Naik

Rendahnya daya beli tersebut, jelas Kades terlibat dari makin sepinya pengujung pasar mingguan.

Pasar mingguan tersebut, adalah  Pasar Muui yang menjadi salah satu pusat transaski jual beli masyarakat di Kecamatan Haruyan.

“Untuk mengukur daya beli masyarakat, bisa di lihat di Pasar Muui. Ketika harga karet sempat membaik, pasar ramai pembeli. Sekarang sepi,”kata Kades.

Dijelaskan, sepinya pembeli di Pasar Muui diakui  para pedagang, sejak harga karet anjlok. Diduga juga dampak kenaikan harga BBM, sehingga kemampuan masyarakat memenuhi kebutuhannya pun berkurang.

Untuk menutupi kebutuhan hidup sehari-hari, menurut Kades warga saat ini beralih Bertani tanaman holtikultura.

Baca juga: Harga Karet di Kalsel Turun Hingga Rp 5000 Per Kilogram, Petani Pilih Tidak Menoreh

Seperti menanam jagung, cabai, terung, timun, kacang panjang serta jenis sayuran lainnya. Untuk memasarkan hasil pertanian pun, warga menghadapi kondisi jalan yang kian tak mulus, akibat berkali-kali diterjang banjir.

“Biasanya menghindari jalan berlubang, warga petani mencari jalan alternatif tapi harus mutar. Itu artinya, mengeluarkan biaya BBM lebih banyak,”pungkas Kades. (banjarmasinpost.co.id/hanani)

 

 

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved