Opini Publik

Kebersamaan dan Permainan Tradisional

Olahraga tradisional balogo diselenggarakan dalam rangka memperingati Hari Olahraga Nasional (Haornas) ke-39.

Editor: Eka Dinayanti
istimewa
Teguh Pamungkas, Pegiat di Perpustakaan dan Kampung KB Desa Gunung Melati, Batu Ampar, Tanahlaut 

Oleh : Teguh Pamungkas (Pegiat di Perpustakaan dan Kampung KB Desa Gunung Melati, Batu Ampar, Tanahlaut)

BANJARMASINPOST.CO.ID - ADA pemandangan menarik pada Selasa (13/9) di halaman Kantor Gubernur Banjarmasin. Olahraga tradisional balogo diselenggarakan dalam rangka memperingati Hari Olahraga Nasional (Haornas) ke-39. Event festival olahraga tersebut untuk melestarikan permainan tradisional Kalsel.

Permainan tradisional mengingatkan kita membuka lembaran kisah di masa lalu. Teringat dulu, di saat membuka pintu rumah sebenarnya kita mau mengenal dunia luar selain dari sekolah, ingin bermain dengan teman-teman.

Dari adanya bermain bersama teman-teman, secara langsung kita belajar sosial, menyapa dan memahami kehadiran teman sebaya, tetangga serta lingkungan. Pada saat itu tanpa disadari anak diajarkan kepekaan atau empati akan kehadiran orang lain.

Ketika itu, anak-anak dengan kreatif membuat mainan-mainan yang bermodalkan dari bahan-bahan alam. Atau dari barang yang tidak terpakai dan barang bekas. Dengan menggunakan alat-alat yang sederhana terciptalah mainan yang sangat menarik yang berhasil diolah bersama-sama.

Dari bahan tempurung kelapa “logo” dibuat. Dengan sentuhan tangan yang lincah tempurung kelapa diukir hingga berbentuk bundar, daun atau layang-layang yang selanjutnya direkatkan dengan dempul atau bahan aspal agar kuat saat dimainkan. Ada pula batang pohon diolah menjadi gasing. Selain itu, botol air mineral dan kulit jeruk bali yang disulap menjadi mainan mobil-mobilan. Kaleng bekas dan pelepah pisang sebagai media bermain masak-masakan ala chef atau koki.

Apabila waktu bermain datang -sore hari atau liburan sekolah- maka itu adalah momen kebebasan. Merasa sesuka hati bisa bermain bersama teman-teman, asyik bermain di luar rumah. Pulang ke rumah sesekali di sela-sela bermain tatkala perut lapar atau kehausan, selepas itu kembali ke arena bermain. Dengan teman-teman bahagia bermain di tempat lapang dan sawah, di situ juga muncul berbagai ragam permainan diadakan.

Di tempat lapang permainan balogo beraksi. Logo didirikan berderet pada garis-garis yang melintang, siapa orang atau regu yang paling banyak merobohkan logo lawan, maka ia menjadi pemenangnya. Tempat yang luas juga menjadi sarana bermain bahadang atau bagasing. Suara riuh ramai canda tawa mengiringi permainan bahadang dan bagasing, sungguh menyenangkan bermain bersama teman-teman.

Seiring waktu dan pergantian generasi, lambat laun permainan-permainan rakyat (tradisional) mulai tergeser. Di saat memasuki liburan sekolah tak tampak anak-anak bermain dengan ramai. Seandainya ada pun kemunculannya kadang-kadang saja permainan itu dimainkan oleh anak-anak. Bagaimana dengan permainan petak umpet, lompat tali dan enggrang? Bernasib sama, kini menjadi sebuah pemandangan yang langka.

Bukan Sekadar Bermain
Permainan tradisional berjalan secara beriringan dengan belajar mengenal sesama. Selain itu bermain bersama mengembangkan kreativitas anak atau pemuda. Bermain bukanlah semata-mata mengisi waktu saja, tetapi bermain sebagai sarana mengasah kepekaan sosial. Berisikan kepuasan lahir dan batin di antara orang-orang.

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved