BPost Cetak

Pengembang Kurangi Promosi Rumah, REI Kalsel Berharap Plafon Subsidi Dinaikkan

Pengembang perumahan bersubsidi di Kalimantan Selatan semakin terjepit pasca-kenaikan harga BBM

Editor: Hari Widodo
BPost Cetak
Banjarmasinpost edisi cetak, Minggu (18/9/2022). 

BANJARMASINPOST.CO.ID - Pengembang perumahan bersubsidi di Kalimantan Selatan semakin terjepit pasca- kenaikan harga BBM pada 3 September 2022.

Harga bahan bangunan meningkat sejak isu kenaikan harga BBM bergulir. Sementara pemerintah belum menyetujui usulan Realestate Indonesia (REI) untuk menaikkan harga jual rumah bersubsidi sebesar tujuh persen.

Di sisi lain, daya beli masyarakat dalam kondisi tak bagus akibat pandemi Covid-19 yang disusul kenaikan harga BBM.

Saat ini pengembang memerlukan modal nyaris Rp 200 juta untuk membuat satu rumah tipe 36 atau rumah Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR).

Sementara, berdasarkan Keputusan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Nomor 242/KPTS/M/2020, plafon harga rumah bersubsidi untuk Kalimantan (kecuali Kabupaten Murung Raya dan Kabupaten Mahakam Ulu) Rp 164,5 juta.

Dengan kondisi ini, pengembang di Kalsel harus memutar otak untuk membuat Rumah MBR agar tetap untung. Bledug Anggoro dari PT Anggoro Karya, yang juga anggota REI Kalsel, mengemukakan ada beberapa trik yang diterapkan pihaknya menghadapi kondisi ini. “Jadi kami memperbanyak stok bahan bangunan. Kemudian, promo dibatasi untuk menekan ongkos produksi. Demikian juga gimik,” jelasnya.

Pengembang lain, Ridwan, juga mengaku harus memutar otak tetap bisa membangun dan menjual rumah bersubsidi. “Kami membuat rumah yang diefisienkan. Jika dulu kami jual dengan dapur, saat ini kami kurangi tanpa dapur,” kata dia. Dia pun berharap plafon Kredit Perumahan Rakyat (KPR) bersubsidi disesuaikan.

Muhammad Fudail, warga Kuin Utara Banjarmasin, berharap sebaliknya. Dia berencana membeli rumah bersubsidi di kawasan Handil Bakti Kabupaten Baritokuala (Batola). Berkas persyaratan sudah dipersiapkan. Pegawai swasta ini berharap pemerintah tidak menaikkan plafon harga rumah bersubsidi tahun ini karena itu akan meningkatkan harga rumah.

Bila mengaju usulan REI maka akan ada kenaikan sebesar 12 juta. “Kalau harus menambah lagi 12 juta cukup berat juga. Belum lagi harus memenuhi kebutuhan pokok yang lain,” ujarnya kepada Bpost, Jumat (16/9).

Ketua DPD REI Kalsel Ahyat Sarbini mengatakan saat ini kondisi mereka dilematis. Terlebih sejak pemerintah menaikkan harga BBM.

Ahyat pun meminta pemerintah menaikkan harga rumah bersubsisi, yang tak berubah beberapa tahun terakhir.

“Jadi plafon terendah Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) Rp 164,5 juta itu wajib dinaikkan.
Kemarin pemerintah mau menaikkan FLPP, tapi takut inflasi,” katanya. Ahyat pun berharap pemerintah mengeluarkan kebijakan lain untuk mendukung perumahan masyarakat berpenghasilan rendah.

Sebelumnya, Ketua Umum REI Totok Lusida mengharapkan kenaikan harga rumah bersubsidi pada 2022 sebesar tujuh persen. Selain tidak pernah mengalami penyesuaian sejak tiga tahun lalu, harga bahan bangunan terus meningkat.

Direktur Jenderal Perumahan Kementerian PUPR Iwan Suprijanto mengatakan perhitungan kenaikan harga rumah bersubsidi sudah dilakukan dan telah disampaikan kepada Kementerian Keuangan. Hal ini karena harga rumah bersubsidi mesti ditetapkan dengan Peraturan Menteri Keuangan (PMK). (lis/msr/kontan)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved