Jendela

Budaya Akademik Kita

setelah adanya ponsel dan media sosial, banyak mahasiswa sibuk membaca dan memproduksi tulisan singkat tidak berbobot bahkan berisi omong kosong

Editor: Eka Dinayanti
istimewa
Mujiburrahman 

Oleh: Mujiburrahman

BANJARASINPOST.CO.ID - KETIKA saya kuliah S-2 di McGill University, Kanada, saya pernah mendengar cerita tentang kegigihan dan kehebatan ilmuwan Jepang ahli kajian Islam, Toshihiko Izutsu (1914-1993). Konon, beliau pernah bertekad tidak akan keluar kamar sampai benar-benar menguasai bahasa Arab. Di dalam kamar, dia tidak bertapa, tetapi belajar mandiri alias otodidak. Hasilnya sungguh menakjubkan. Dia tidak hanya berhasil menerjemahkan Alqur’an ke bahasa Jepang dengan baik dan indah, tetapi juga dapat memahami teks-teks bahasa Arab klasik kelas berat seperti karya Sufi besar, Ibn al-‘Arabi.

Suatu hari, seorang senior saya, yang saat itu masih S-3 di McGill University, bercerita bahwa dia tengah mengambil kursus bahasa Jerman. Tokoh ini dikenal sebagai penerjemah buku yang sangat produktif. Ketika itu, dia sudah menerjemahkan sekitar 50 buku dari bahasa Inggris, Arab dan Perancis ke bahasa Indonesia. Saya pun bertanya kapadanya, “Mengapa Anda harus cape belajar bahasa Jerman melalui kursus, tidak belajar mandiri saja?” Dia menjawab, “Kita ini bukan orang Jepang atau bangsa lain yang terbiasa belajar mandiri. Kita ini umumnya masih bermental budak. Kalau tidak dipaksa oleh guru melalui serangkaian pelajaran, latihan dan ujian, kita tidak bisa.”

Kita tentu perlu berhati-hati dengan ungkapan “bangsa A mampu belajar mandiri, sedang bangsa B tidak” karena dapat terjerumus ke jurang esensialisme dan rasisme. Namun, tak salah kiranya jika kita mengatakan bahwa kebanyakan orang, bangsa apapun, sulit mempelajari sesuatu secara mandiri. Kita umumnya malas mempelajari sesuatu jika tidak ada tekanan dan paksaan dari luar. Inilah yang dimaksud oleh senior saya di atas dengan ‘mental budak’ itu. Dulu Bung Karno juga pernah mengkritik bangsanya sendiri dengan ungkapan ‘mental kuli’. Kuli itu adalah pekerja kasar, upahnya rendah, keahliannya tidak istimewa, dan perkerjaannya harus diawasi langsung.

Di dunia akademik seperti perguruan tinggi, etos belajar mandiri itu sangatlah penting. Seorang mahasiswa bukan lagi anak kecil yang baru belajar membaca dan menulis. Dia sudah melewati masa pendidikan yang panjang, dari taman kanak-kanak hingga sekolah menengah. Apalagi para dosen, yang telah melalui jenjang pendidikan strata 2 bahkan strata 3. Dengan modal dasar pendidikan yang telah diraih sebelumnya itu, sudah selayaknya seorang mahasiswa, lebih-lebih dosen, mampu belajar secara mandiri. Karena kemampuan belajar mandiri itulah pula, di perguruan tinggi diwajibkan penelitian. Berbeda dengan sekolah, perguruan tinggi tidak hanya mengajarkan ilmu, tetapi juga mengembangkan dan memproduksi ilmu melalui penelitian dan karya ilmiah.

Salah satu unsur penting dalam etos belajar mandiri adalah kecintaan pada ilmu. Cinta itu tentu tidak datang tiba-tiba. Cinta ilmu lahir dari kesadaran seseorang bahwa ilmu itu bermanfaat, mendatangkan kebaikan bagi kehidupan, dan kebaikan itu adalah kebahagiaan. Orang baru mengenal manfaat ilmu dan menghayati keindahannya setelah mempelajarinya dengan saksama. Cinta ilmu itu lahir dari pengalaman menggali ilmu, mengajarkannya, menyebarluaskannya dan mengamalkannya. Singkat kalimat, ilmu melahirkan cinta kepadanya ketika ia menjadi fungsional dalam kehidupan sehingga membuat diri seseorang mengalami transformasi lahir dan batin.

Kampus yang dihuni oleh civitas akademika, yakni masyarakat akademik, sudah seharusnya memiliki etos cinta ilmu itu, baik mahasiswa, lebih-lebih dosennya. Cinta ilmu itu akan tumbuh subur jika di lingkungan kampus tercipta budaya akademik yang baik. Budaya akademik itu bisa berupa haus akan ilmu, rasa ingin tahu yang tinggi, berpikir kritis dan analitis serta mampu memecahkan masalah. Secara lahiriah, budaya akademik terlihat dalam perilaku rajin membaca, suka berdiskusi, menulis dan menerbitkan karya-karya ilmiah. Budaya akademik juga tercermin dalam sikap yang menjunjung tinggi kejujuran ilmiah, terbuka dan menghindari penjiplakan atau plagiarisme.

Kenyataannya, banyak perguruan tinggi kita masih belum memiliki budaya akademik yang baik. Budaya membaca mahasiswa kita umumnya masih rendah. Apalagi setelah adanya ponsel dan media sosial, banyak mahasiswa sibuk membaca dan memproduksi tulisan singkat dan tidak berbobot bahkan berisi omong kosong dan ujaran kebencian belaka. Perilaku mahasiswa ini tidak menutup kemungkinan juga menimpa dosen. Kita tentu merasa sedih ketika ada dosen ketahuan menjiplak karya mahasiswanya atau sarjana lain. Kita juga miris mengetahui dosen-dosen yang terjebak bisnis jurnal predator atau membayar penulis joki demi memperoleh gelar profesor.

Demikianlah, ketika kita masih belum sampai ke level cinta pada ilmu, maka budaya akademik yang berlaku tidak begitu baik, jika bukannya buruk. Dalam kondisi demikian, diperlukan sejenis imbalan dan hukuman. Bagi yang berprestasi, diberi hadiah. Bagi yang tidak berprestasi, diberi sanksi. Agar semua ini jalan, dibuatlah aplikasi elektronik untuk mengontrol laporan kinerja akademik. Akhirnya, birokrasi akademik menjadi ribet. Namun, begitulah jika kita harus diancam dengan neraka dan diberi harapan dengan surga. Kepada mahasiswa dikatakan, “Jika kamu tidak memenuhi syarat akademik ini, kamu tidak bisa ujian skripsi.” Kepada dosen dikatakan, “Jika kamu tidak menulis buku dan/atau artikel jurnal, tunjangan sertifikasi atau tunjangan kehormatanmu akan kami cabut.”

Seharusnya, mahasiswa, dosen, lebih-lebih guru besar, tidak perlu sampai diancam dengan sanksi dan diiming-imingi dengan hadiah seperti itu. Seharusnya mereka seperti Rabi’ah al-Adawiyah, yang beribadah bukan kerena takut neraka atau mengharap surga, tetapi karena cinta. Namun apa mau dikata, kenyataannya tidak demikian. Jika hal ini berlangsung lama, maka yang akan menonjol di kampus bukanlah budaya akademik, melainkan politik. Orang-orang lebih ramai berebut kekuasaan ketimbang membicarakan wacana keilmuan. Civitas akademika berubah menjadi civitas politika! (*)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved