Korupsi di Kalsel

Sidang Perkara Korupsi Oknum Pegawai Bank di Marabahan, Jaksa Hadirkan Lima Saksi

Perkara dugaan korupsi oknum pegawai bank berplat merah pada cabang Marabahan disidangkan di Pengadilan Tipikor Banjarmasin

Penulis: Achmad Maudhody | Editor: Hari Widodo
Banjarmasinpost.co.id/Achmad Maudhody
Saksi persidangan perkara korupsi oknum pegawai bank plat merah Cabang Marabahan diambil sumpah di Pengadilan Tipikor Banjarmasin, Senin (19/9/2022). 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Lebih dari enam bulan dalam penyidikan, perkara dugaan korupsi oknum pegawai bank berplat merah pada cabang Marabahan, Batola, Kalsel disidangkan di Pengadilan Tipikor Banjarmasin

Dipimpin Ketua Majelis Hakim, Aris Bawono Langgeng dan dua Anggota Majelis, Ahmad Gawi dan Arief Winarno, sidang kedua ini beragendakan pemeriksaan saksi, Senin (19/9/2022).

Lima saksi dihadirkan dalam upaya pembuktian oleh Tim Jaksa Penuntut Umum Kejati Kalsel dan Kejari Batola. 

Sedangkan terdakwa, Muhammad Ilmi yang didampingi tim penasihat hukumnya hadir secara virtual dari Rutan Marabahan.

Baca juga: Ditetapkan Jadi Tersangka Dugaan Korupsi Pengadaan Lahan Disporpar, ASN HSS Ini Merasa Jadi Korban

Baca juga: Tim BAP DPD Pertanyakan Kasus Dugaan Korupsi Penyertaan Modal Perseroda di Kabupaten Tanbu

Baca juga: Banding Vonis Perkara Korupsi Abdul Wahid, Begini Isi Memori Banding Jaksa KPK

Lima saksi yang dihadirkan yakni mantan kolega terdakwa di tempatnya bekerja yakni Andrean Asmanto, Pebe Banga, M Arifin, Hadi Saputra dan Safril Haryo. 

Dari keterangan para saksi dalam persidangan terungkap, awal terciumnya dugaan korupsi terdakwa Ilmi ketika audit internal dilakukan oleh kantor wilayah yang membawahi kantor cabang tempat terdakwa bertugas sebagai relationship manager. 

Dimana terdakwa memiliki tugas untuk menerima permohonan kredit dari calon debitur dan melakukan pengecekan keabsahan data serta agunan. 

Empat kredit investasi dengan nama debitur masing-masing Kurniawan Ramadhan, Samidi, M haris budiman dan Fitrianoor itu juga menjadi sasaran audit karena macet pembayarannya. 

"Audit oleh auditor Kanwil itu Bulan November Tahun 2021," kata Saksi Andrean.  

Ada empat kredit investasi yang ditangani terdakwa diduga bermasalah yakni terkait keabsahan agunannya yang keempatnya merupakan alat berat. 

Setelah dilakukan audit didapati bahwa selain agunan yang fiktif, diduga empat debitur pengaju kredit tersebut juga fiktif.   

Padahal dalam dokumen dan data pengajuan kredit yang diinput dalam sistem, terdakwa menyertakan pula hasil surveinya berupa foto dengan barang agunan. 

"Kata auditor debitur tidak ditemukan. Alamatnya palsu," ujar Andrean. 

Dalam dalil dakwaan Tim Jaksa Penuntut Umum salah satunya Harwanto, terdakwa Ilmi disebut merugikan keuangan negara mencapai Rp 5,9 miliar dari empat kredit investasi yang ditanganinya itu. 

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved