Ekonomi dan Bisnis

Harga Karet Jatuh, Disbunak Kalsel Dorong Petani Olah karet Jadi Barang Setengah Jadi

Disbunak Kalsel mendorong petani karet di Kalsel tidak menjual karet dalam bantuk mentah. Tetapi, menjadi barang setengah jadi

Penulis: Nurholis Huda | Editor: Hari Widodo
Kolase BPost
Petani karet sedang menyadap karet membaik. (Kanan) Kadisbunak Kalsel, Hj Suparmi. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Sudah dalam satu bulan ini, harga Karet di Kalimantan Selatan (Kalsel) mengalami penurunan yang cukup signifikan.

Petani karena di Kalsel mengeluhkan karena harga karet bahkan ada yang sampai Rp 6000 per kilo.

"Ya harapan kami bisa jaya lagi harga karet ini seperti dua bulan sebelumnya," kata Basuni, petani karet asal sungai alang Kabupaten Banjar, Jumat (23/9/2022) 

Namun, jika kualitas  karet dengan kadar air yang lebih kering. Maka, itu akan tinggi.

Dimana, berdasarkan data Dinas Perkebunan dan Peternakan (Disbunak) Kalsel, karet dengan Kadar Kering Karet (K3) 100 persen, harganya hanya berkisar antara Rp 18 ribu sampai dengan Rp 19 ribu Rupiah per kilogram.

Baca juga: Harga Karet Anjlok Lagi, Pasar Muui Haruyan HST Pun Sepi

Baca juga: Petani Karet di Kabupaten Tapin Keluhkan Harga Anjlok, Dinas Pertanian Sampaikan Penyebabnya

Baca juga: Harga Karet di Kalsel Turun Hingga Rp 5000 Per Kilogram, Petani Pilih Tidak Menoreh

Harga tersebut mengalami penurunan sekitar Rp 3 ribu per kilogram dari harga normal di kisaran Rp 21 sampai Rp 22 ribu. 

Di tingkat Unit Pengolahan dan Pemasaran Bokar (UPPB), karet dengan kualitas K3 60 sampai 65 persen, harganya tercatat sebesar Rp 10 hingga Rp 11 ribu per kilogram

Kepala Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan (DIsbunak) Kalsel, Suparmi  menjelaskan, terjadinya penurunan harga karet ini dipicu oleh berkurangnya permintaan ekspor dar Kalsel.

Kondisi ini, sebut Suparmi, bisa terjadi karena stok karet yang berlimpah di negara tujuan ekspor.

“Penyebabnya karena berkurangnya permintaan ekspor. Bisa jadi di negara tujuan ekspor, stoknya masih ada,” lontarnya Suparmi.

Karena itu, lanjutnya, guna mengurangi beban petani karet, pihaknya lanjut Suparmi bekerjasama dengan pihak terkait, membantu dalam meringankan biaya produksi, salah satunya bantuan bahan pembeku lateks atau cairan pembeku getah karet.

“Kita bantu mengurangi beban petani karet, misalnya bahan pembeku lateks,” kata Suparmi.

Agar tidak bergantung harga pasar global, maka Pemprov Kalsel menurut Suparmi terus mengupayakan agar produksi karet Kalsel tidak lagi diekspor ke luar negeri dalam bentuk bahan baku saja, melainkan barang sudah jadi.

“Kami tekankan ekspor Kalsel nanti tidak hanya sebatas bahan baku tapi kita arahkan ke barang sudah jadi,” kata Suparmi.

Baca juga: Tingkatkan Nilai Tawar, Diskopukmperindag Tabalong Berharap Ada Koperasi Bagi Petani Karet

Selain itu, lanjut Suparmi, pihaknya juga mendorong petani, agar tidak hanya memproduksi karet dalam bentuk Lum maupun Sit Angin saja.

Akan tetapi bisa memproduksi karet dalam bentuk setengah jadi, atau hilirisasi industri karet, agar karet punya nilai tambah yang lebih. (Banjarmasinpost.co.id /Nurholis Huda) 
 

 

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved