Berita Banjarmasin

Ormas Laung Kuning Bertandang ke Komisi IV DPRD Kalsel, Budaya Banjar Harus Tetap Lestari

Dewan Perwakilan Cabang (DPC) Laung Kuning Banjar dan Komisi IV DPRD Provinsi Kalsel sepakat untuk bersinergi memajukan seni budaya daerah.

Penulis: Rifki Soelaiman | Editor: Eka Dinayanti
banjarmasinpost.co.id/rifki soelaiman
Audiensi Ormas Laung Kuning dengan Komisi IV DPRD Provinsi Kalimantan Selatan. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Kemajuan teknologi saat ini memang sedang masif-masif nya berkembang.

Ironisnya, dengan pesatnya perkembangan teknologi tak menutup kemungkinan budaya serta adat istiadat yang dulu akan tergerus, bahkan terlupakan.

Terlebih Indonesia sekarang sedang bersiap untuk menjadikan Kalimantan Selatan sebagai daerah penyangga Ibu Kota Negara (IKN) baru di Kaltim nanti.

Hal ini tentunya bisa menjadi faktor utama kearifan lokal di Kalimantan Selatan terkikis, bahkan dilupakan oleh warga aslinya.

Baca juga: Begini Penjelasan SPBU dan Pertamina di Banjarmasin Terkait Isu Pemakaian Pertalite Cepat Habis

Baca juga: Hubungan Sesama Jenis di Banjarmasin, Sosiolog ULM : Prilaku Menyimpang Ibarat Virus Mematikan

Dengan latar belakang itu, Dewan Perwakilan Cabang (DPC) Laung Kuning Banjar dan Komisi IV DPRD Provinsi Kalsel, Kamis (22/9/2022), sepakat untuk bersinergi memajukan seni budaya daerah.

Diwakili Ketua DPC Laung Kuning Banjarbaru, Abdul Haris Effendy menyampaikan audiensi pihaknya ke Komisi IV dikarenakan kekhawatirannya dengan seni budaya asli Banjar yang kian hari kian tergerus oleh zaman.

“Agar budaya Banjar ini lebih dipatenkan, lebih diperhatikan. Sehingga, budaya ini tidak tergerus oleh zaman,” katanya.

Melalui audiensi tersebut, Haris mengatakan ada budaya Banjar yang saat ini sudah terlupakan oleh masyarakat, terutama anak muda.

“Contohnya seperti Laung. Ini kan sebenarnya hal kecil yang kami pakai, namun banyak anak muda yang tak mengetahui dengan laung ini,” tandasnya.

Kemudian lanjut Haris, beberapa seni budaya lainnya seperti Kuntau, tarian-tarian banjar, bahasa Banjar, merupakan contoh dari budaya Banjar yang semakin kesini semakin tergerus.

“Hal-hal seperti itu yang jadi perhatian bagi kami. Dengan tujuan generasi berikutnya tak melupakan budaya asli dari Banjar sendiri,” kata pria yang mengenakan pakaian yang didominasi warna kuning.

Baca juga: Pendapatan Tanahlaut Diproyeksi Naik 16 Persen pada Anggaran Perubahan 2022

Baca juga: Realisasi Perekaman KTP Elektronik di Kalsel Belum Capai 99 Persen, Dukcapil Sebut Faktor Geografis

Ditanyakan terkait kenapa berwarna kuning, Haris menjelaskan warna kuning sendiri merupakan warna kekeramatan.

“Ia juga berharap kedepannya akan dibentuk dewan adat Banjar. Sebagaimana suku lainnya, mereka punya dewan adatnya. Tujuannya biar lebih terstruktur untuk pengembangan budaya Banjar,” tegasnya.

Aspirasi tersebut juga disambut positif oleh Ketua Komisi IV DPRD Provinsi Kalsel, M Lutfi Saifuddin.

Ia mengatakan aspirasi yang disampaikan oleh teman-teman Laung Kuning terkait dengan budaya serta pengakuan hukum terhadap masyarakat adat, sekaligus bisa menjadi benteng pelestarian budaya Banjar.

“Tentunya dengan peran-peran dari semua pihak, salah satunya organisasi Laung Kuning ini. Seni budaya serta kearifan lokal di Kalsel tetap terjaga di tengah arus modernisasi,” tandasnya.

( Banjarmasinpost.co.id/rifki soelaiman)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved