Breaking News:

Opini Publik

Mewujudkan Banjarmasin Baiman Bauntung Batuah

Baiman, bauntung dan batuah merupakan gambaran konsepsi manusia sempurna yang diharapkan oleh masyarakat Banjar agar dipraktikkan dalam keseharian

Editor: Eka Dinayanti
istimewa
Ahmad Syawqi, (Pustakawan UIN Antasari Banjarmasin) 

Oleh : Ahmad Syawqi, (Pustakawan UIN Antasari Banjarmasin)

BANJARMASINPOST.CO.ID - MENARIK ketika kita mencermati tema yang diangkat dalam HUT Kota Banjarmasin yang ke-496 (24 September 1526 – 24 September 2022) dengan ungkapan “Banjarmasin Baiman Bauntung-Batuah”. Ungkapan ini merupakan bentuk konsep filosofis yang lahir sebagai manifestasi akulturasi nilai kearifan lokal dan ajaran Islam terutama untuk daerah yang penduduknya atau suku bangsanya mayoritas Islam. Akulturasi ini juga merupakan produk kecerdasan leluhur suku bangsa tersebut dalam menerima agama Islam (iman, ilmu, amal) mengadopsinya menjadi produk budaya (peradaban) dalam bentuk pola pikir, pola perilaku dan pola material.

Salah satu produk budaya, (peradaban) dari suku Banjar yang sering kita temukan pada pola pikir berupa gagasan atau konsep filosofis sebagai sistem keyakinan atau basis dalam menempuh kehidupan, etos atau watak adalah suatu doa yang diberikan oleh kakek, nenek atau orangtua kepada cucu ataupun anaknya adalah “ Mudahan cu ai atau nak ai, ikam menjadi manusia nang baiman, bauntung dan batuah.” (Semoga cucu atau anak, kamu menjadi manusia yang beriman, bermanfaat dan mulia).

Baiman, Bauntung dan Batuah
Istilah baiman, bauntung dan batuah merupakan gambaran tentang konsepsi manusia sempurna yang diharapkan oleh masyarakat Banjar agar bisa dipraktikan dalam hidup keseharian. Termasuk juga dalam upaya mewujudkan masyarakat Kalsel khususnya Banjarmasin.

Baiman maknanya adalah orang yang beriman. Orang beriman berarti harus paling tidak mengetahui rukun iman dan dasar-dasar ketauhidan. Iman menjadi fondasi bagi kehidupan orang Banjar. Untuk menjadi orang yang beriman, maka setiap orangtua mendidik anak-anaknya agar belajar membaca Al-Qur’an, belajar bacaan salat, belajar salat, dan sebagainya. Dengan fondasi baiman, diharapkan dalam kehidupan kita dapat menjadi manusia yang bauntung.

Dalam implementasinya masyarakat yang baiman adalah mereka yang hidup beriman dan bertaqwa dalam perilaku, yakni percaya dan yakin kepada Allah, Maha Kuasa dari segala-galanya, percaya kepada Rasul, memegang dengan kuat iman sebagai pegangan hidup, segala pekerjaan dan perilaku percaya kepada, diawasi, dan mendapat balasan dari Allah. Sebagai bukti hidup beriman, maka orang hendaknya taat mematuhi ketentuan agama, beribadah sesuai rukun iman dan rukun Islam berdasarkan iman yang kuat sebagai pegangan hidup, menjalankan salat, mematuhi orangtua, agar hidup bauntung, dan hanya berani karena Allah.

Bauntung maknanya adalah bermanfaat atau berguna, bukan hanya untung. Untung dalam bahasa Banjar berarti bernasib baik. Dengan berbasis pada iman, dan dibekali ilmu keagamaan, maka insyaallah kehidupannya akan membawa manfaat dan berguna bagi dirinya sendiri, orang lain, masyarakat dan lingkungan. Jika asas manfaat dan berguna ini dengan landasan iman dan digunakan menurut proses keilmuan, maka kehidupannya insyaallah akan bernasib baik. Jadi nasib baik, bukan karena keberuntungan semata, tetapi ada koridor keimanan yang menjadi basis dari proses keilmuan untuk pemanfaatan dirinya.

Dalam implementasinya masyarakat yang Bauntung adalah mereka yang hidupnya bernasib baik, selalu berezeki, tidak rugi dalam berusaha dan berdagang, dan bekerja secara halal, cepat, lancar, dengan hasil yang bagus dan baik, berusaha mencari berkah, selamat dari marabahaya, diberi kemudahan, bermanfaat dan bernilai positif, untuk kebaikan diri sendiri, orang lain, masyarakat, sehingga sukses di dunia dan di akhirat.

Untuk mencapai hidup bauntung maka orang hidup harus berdasarkan iman, memandang bahwa harta bukan ukuran segala-galanya, bauntung itu penting, tidak hanya kaya, orang bauntung disukai orang banyak dan orang pintar kalah dengan orang bauntung. Di samping itu tidak lupa meminta doa dengan orangtua dan alim ulama, agar hidup bauntung, juga membahagiakan, membanggakan, dan tidak mengecewaan orangtua. Termasuk juga ketika dalam berusaha dan berdagang; bekerja dengan niat mencari berkah; berlandasan kehalalan, dengan proses memudahkan, cepat, dan lancar; hasil yang bagus, baik, bermanfaat, dan bernilai positif; untuk kebaikan diri sendiri, orang lain dan masyarakat; menuju sukses di dunia dan di akhirat.

Batuah maknanya adalah menjadi manusia yang mempunyai harkat dan martabat, bahkan dalam taraf tertentu bisa menjadi karamah. Namun secara awam manusia yang diharapkan paling tidak memiliki martabat yang mulia baik di dunia maupun di akhirat. Tahap ketiga ini memadukan antara kebermanfaatan manusia dalam konteks amaliah dunia dan amaliah akhirat berbasis iman yang kuat dan keilmuan yang mumpuni. Jika dapat disodorkan sosok yang demikian, dapat dijadikan referensi untuk sosok Urang Banua adalah Syekh Muhammad Arsyad al Banjari yang diberi gelar Datu Kalampayan, atau sosok lainnya seperti KH. Muhammad Zaini Abdul Ghani atau yang dikenal dengan Guru Sekumpul.

Untuk mencapai hidup batuah, maka orang harus memiliki kelebihan dalam bakat, keistimewaan, atau keahlian khusus, mendasarkan hidup pada iman, suka menolong, menjadi berkah bagi orang lain. Perilakunya baik dan patut ditiru, terhormat hidupnya, memiliki harkat dan martabat, menghias diri dengan akhlak mulia untuk memiliki dunia dan akhirat.

Berharap dengan implementasi nilai-nilai Baiman, Bauntung, Batuah dalam masyarakat Kalsel khususnya Banjarmasin akan menjadikan negeri Baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur yang merupakan dambaan dan impian seluruh manusia sebagai negeri yang selaras antara kebaikan alam dan kebaikan perilaku penduduknya. penduduknya subur dan makmur, namun tidak lupa untuk bersyukur. (*)

 

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved