Korupsi di Kalsel

Sidang Korupsi Bank BUMN di Marabahan, Saksi Sebut Terdakwa Terima Imbalan Loloskan Debitur Fiktif

Terdakwa perkara korupsi Bank BUMN di Marabahan disebut saksi Terima Imbalan Loloskan Debitur Fiktif

Penulis: Achmad Maudhody | Editor: Hari Widodo
Banjarmasinpost.co.id/Achmad Maudhody
Pemeriksaan keterangan saksi dalam sidang dugaan korupsi oknum pegawai sebuah Bank BUMN cabang Marabahan di Pengadilan Tipikor Banjarmasin, Senin (26/9/2022). 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Sidang perkara dugaan korupsi dengan terdakwa oknum mantan pegawai Bank BUMN pada cabang Marabahan, Barito Kuala (Batola) yang merugikan negara ditaksir Rp 5,9 miliar kembali digelar di Pengadilan Tipikor Banjarmasin, Senin (26/9/2022).

Sidang dibuka oleh Ketua Majelis Hakim, Aris Bawono Langgeng bersama dua Anggota Majelis, Ahmad Gawi dan Arief Winarno. 

Sedangkan terdakwa, Muhammad Ilmi yang didampingi penasihat hukumnya hadir secara virtual dari Rutan Marabahan. 

Tim Jaksa Penuntut Umum dari Kejati Kalsel dan Kejari Batola menghadirkan empat saksi pada sidang kali ini. 

Baca juga: Sidang Perkara Korupsi Oknum Pegawai Bank di Marabahan, Jaksa Hadirkan Lima Saksi

Baca juga: VIDEO Vonis bagi Mantan Pegawai Bank di Banjarmasin Penjara 5 Tahun, Pakai Uang Nasabah untuk Judi

Satu di antaranya Supervisor di Kantor Cabang Perbankan tempat terdakwa bekerja sebelumnya, Didiet Pramudito. 

Sedangkan tiga saksi lainnya yakni Rizanie Setiawan, Agus Setiadi dan Iwan Fitriady merupakan PNS termasuk dari Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Kota Banjarmasin. 

Dari fakta-fakta persidangan kembali terungkap hal-hal terkait praktik korupsi yang diduga dilakukan terdakwa. 

Melalui kesaksian Didiet terungkap, terdakwa mengakui dalam rapat pasca audit bahwa Ia menerima sejumlah uang jika berhasil meloloskan pengajuan empat kredit investasi yang rupanya menggunakan dokumen palsu tersebut. 

"Dia (terdakwa) mengaku dapat imbalan Rp 800.000 ditambah proyek, Rp 3 juta satu proyek kalau pengakuannya di rapat setelah audit," kata Didiet. 

Imbalan itu dijanjikan oleh pihak ketiga kepada terdakwa yang juga menjadi penyuplai data calon debitur bermasalah tersebut. 

"Dia (terdakwa) bilang, berkas pengajuan didapat dari pihak ketiga, semua sudah lengkap," ujar Didiet. 

Meski demikian, dalam sidang ini Jaksa Penuntut Umum terus menggali kesaksian dari Didiet yang merupakan supervisor administrasi kredit. 

Dari pertanyaan-pertanyaannya kepada saksi, Jaksa terlihat heran soal bagaimana data empat permohonan kredit yang ternyata palsu itu bisa lolos tanpa terdeteksi oleh tim administrasi kredit, supervisor hingga pimpinan pada kantor cabang tersebut. 

Sejumlah kejanggalan juga dipertanyakan Jaksa Penuntut Umum kepada saksi Didiet yakni keempat debitur fiktif itu seluruhnya berstatus cerai. 

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved