Religi

Cara Memulai Berhijrah, Buya Yahya Imbau Perbanyak Ikuti Majelis Ilmu

Penceramah Buya Yahya menjelaskan kiat-kiat berhasil dalam berhijrah.Buya Yahya mengingatkan perbanyak mengikuti majelis ilmu.

Editor: M.Risman Noor
capture kanal youtube Al-Bahjah TV
Buya Yahya berikan penjelasan mengenai cara mengajak keluarga berhijrah 

BANJARMASINPOST.CO.ID - Penceramah Buya Yahya menjelaskan kiat-kiat berhasil dalam berhijrah.

Bukan suatu yang gampang namun bukan berarti tak bisa hijrah, Buya Yahya menjelaskan satu cara yang bisa dilakukan untuk memulainya.

Salah satu cara hijrah dikatakan Buya Yahya yang merupakan pengasuh Pondok Pesantren Al-Bahjah adalah memperbanyak mengikuti majelis ilmu.

Hijrah adalah berpindah dari suatu kondisi, keadaan, tempat dan lainnya yang krang baik atau buruk ke suatu hal yang baik dan disukai Allah SWT.

Buya Yahya menerangkan cara-cara dalam berhijrah dapat dimulai dengan memperbanyak renungan diri di majelis ilmu.

"Merenunglah dengan diri sendiri semampunya, hanya saja kerap manusia lemah dan tidak gampang menyadari, maka belajar itu penting," jelas Buya Yahya dikutip Banjarmasinpost.co.id dari kanal youtube Al-Bahjah TV.

Baca juga: Waniita Lebih Dianjurkan Shalat di Rumah, Buya Yahya Ingatkan Kaum Laki Berangkat ke Masjid

Baca juga: Ustadz Adi Hidayat Beberkan Amalan Usai Shalat, Ingatkan Pentingnya Berdzikir

Buya Yahya mengimbau agar di suatu majelis harus ada kurikulumnya, tidak melulu satu bahasan atau materi saja.

Salah satu yang harus masuk kurikulum adalah renungan diri, sehingga bagi yang mengaji dapat dibantu untuk hijrah.

"Misalnya mengerti sesuatu itu dosa namun diri tidak sadar bahwa hal itu tidak boleh dilakukan, jenis dosa atau kesalahan yang kerap dianggap sepele, misalnya berani dengan orangtua sebatas memukul, padahal maknanya luas," papar Buya Yahya.

Kasus sehari-hari misalnya, seorang anak segera berangkat sekolah namun sebelumnya sarapan terlebih dahulu.

Tiba-tiba teman sekolahnya menghampiri dan mengajak buru-buru ke sekolah takut terlambat.

Karena dibilang kesiangan dan takut terlambat, maka anak itu bergegas ke sekolah setelah cuci tangan, salaman dengan Ibu dan ngebut naik sepeda.

"Sampai di sekolah, anak itu balik lagi ke rumah sedangkan temannya masuk kelas. teman anak itu pun menunggu di kelas dan merasa bingung mengapa anak itu balik ke rumah lagi, ternyata anak itu merasa bersalah karena tak mencuci piring sehabis sarapan, dan tidak rela jika yang mencuci piring adalah Ibunya," jelasnya.

Alangkah seringnya seorang anak sengaja membiarkan piring setelah makan agar dicuci oleh Ibunya.

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved