Ekonomi dan Bisnis

Terdampak Kenaikan BBM, Penjualan Pertamax di Unit Bisnis Pertashop Milik Bumdes di Tapin Turun

Bisnis pertashop badan usaha milik desa (BUMDes) di Kabupaten Tapin alam penurunan penjualan sejak kenaikan BBM

Penulis: Stanislaus Sene | Editor: Hari Widodo
Banjarmasinpost.co.id/Stanislaus Sane
Salah satu pertashop di Kecamatan Piani, Kabupaten Tapin dari enam Pertashop BUMDes hasil kerjasama Pertamina dengan Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kabupaten Tapin, Rabu (28/9/2022). 

BANJARMASINPOST.CO.ID,  RANTAU - Seiring berjalannya waktu, pasca kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM) secara serentak, Bisnis pertashop badan usaha milik desa (BUMDes) di Kabupaten Tapin sangat terdampak, Rabu, (28/09/2022).

Kepala Bidang Pengembangan Ekonomi Desa Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kabupaten Tapin, Iwan Satriansyah mengatakan meskipun sangat terdampak unit usaha yang satu ini masih bisa bertahan.

"Terdampak akibat kenaikan harga BBM menimbulkan daya beli masyarakat sangat berkurang khususnya jenis Pertamax," jelasnya.

Iwan mengatakan bisnis Pertashop yang menjadi andalan BUMDes di Tapin ini hanya satu-satunya ada Kalsel dan saat ini sudah ada enam titik.

Baca juga: Untungnya Jadi Pemasukan PADes, Desa di Tapin Mulai Mengembangkan Usaha Pertashop

Baca juga: Resmikan Pertashop di Gunung Sari Kotabaru, Bupati Sayed Jafar : Sangat Membantu Masyarakat

"Terkait terdampaknya jenis usaha ini, kita sudah melakukan monitoring dan memang sebagian besar pengelola mengakui berkurangnya pembelian oleh masyarakat," jelasnya.

Iwan mengatakan di Kecamatan Hatungun, para pelaku usaha Pertashop ini mengakui alami penurunan pembelian hingga 40 persen.

"Sedangkan di Desa Suato Lama, Kecamatan Salam Babaris kurang lebih 12 sampai 15 persen penurunan," jelasnya.

Sementara itu, Manager Keuangan Pertashop BUMDes Mitra Usaha, Kecamatan Salam Babaris, Zainal Arifin mengatakan bahwa dampaknya kenaikan harga BBM jenis pertamax ini sangat terasa.

"Sebelumnya, pada April 2022 harga Pertamax dari Rp. 12.750 perliter naik ke harga Rp. 14.850 pada september 2022  ini sangat terasa berkurangnya daya beli masyarakat," jelasnya.

Ia mengatakan memang sangat terasa. Hanya karena posisi di gunung jadi tidak ada pilihan lain.

"Di tempat kita memang yang ada hanya eceran jadi mau tidak mau harus beli. Dan allhamdulillah penjualan masih sampai 850 liter per hari," lanjutnya.

Ia mengakui hari pertama sesudah kenaikan, penjualan mencapai 1.100 liter per hari, hari kedua turun ke 850 liter perhari dan hari ketiga menjadi 820 liter perhari.

Baca juga: Pertamina Tingkatkan Pertumbuhan Ekonomi Desa Melalui Kemitraan Outlet Pertashop

"Sementara itu, penjualan BBM jenis Pertamax ini sebelum terjadi kenaikan, masih di harga 9.200 perliter, penjualan bisa mencapai 2.000 liter perhari," ungkapnya.

Meskipun demikian, ia mengakui dengan harga yang saat ini, masih menguntungkan bagi BUMDes dan mampu menyumbang PADes sebesar Rp 5 juta per bulan. (Banjarmasinpost.co.id/Stanislaus sene).

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved