Kampusiana

Angkat Kisah Putri Gunung Kayangan, Sendratari Politala Pukau Undangan Dies Natalis

Ihwal Gunung Kayangan tersebut terceritasajikan pada acara Dies Natalis XIII Politeknik Negeri Tanahlaut (Politala)

Penulis: Idda Royani | Editor: Hari Widodo
Sihabudin Chalid untuk BPost
MEMUKAU - Penampilan Sendratari Gunung Kayangan memukau tamu undangan Dies Natalis XIII Politala di kampus setempat, Kamis (29/9/2022) siang. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, PELAIHARI - Seperti di daerah lainnya di Kalimantan Selatan (Kalsel), legenda besar pada masa silam juga ada di Kabupaten Tanahlaut (Tala). Di antaranya cerita yang berkaitan dengan Gunung Kayangan.

Ihwal Gunung Kayangan tersebut terceritasajikan pada acara Dies Natalis XIII Politeknik Negeri Tanahlaut (Politala), Kamis (29/9/2022) siang, di kampus setempat.

Seluruh undangan pun terpukau oleh penampilan kelompok seni kampus setempat yang menampilkan Sendratari Putri Gunung Kayangan.

Tarian tersebut menceritakan tentang sebuah kerajaan yang ramai dan makmur rakyatnya. Namun sang Raja masih belum dikaruniai keturunan.

Baca juga: Ratusan Mahasiswa Politala Jalani Yudisium, Direktur : Softskill Diperkuat Untuk Kesuksesan Hidup

Baca juga: Wikan Sakarinto Beri Pencerahan SMK se-Kalsel di Kampus Politala, Ini Pesan Pentingnya

Sang Raja pun kemudian menggelar upacara adat yang meminta bantuan kepada seorang damang atau tokoh adat dayak. Tujuannya agar dikaruniai keturunan dan kerajaan maupun rakyat tetap makmur.

Tak lama setelah mengadakan upacara, Raja tertidur kemudian ada suara yang datang ke dalam mimpinya, menyuruh sang Raja untuk memerintahkan anaknya kelak untuk bertapa di Gunung Kayangan.

Ketika terbangun dari tidurnya, sang Raja sangat terkejut dan terharu ketika melihat istrinya hamil.

Belasan tahun pun berlalu, putri tercinta telah tumbuh menjadi seorang remaja. 

Raja pun menuruti perintah dalam mimpinya kala itu. Ia menyuruh putrinya untuk bertapa di Gunung Kayangan (Gunkay).

Sang permaisuri begitu berat hati melepaskan kepergian anak tercinta karena dari Putri Gunung Kayangan inilah yang mempunyai tetesan darah dari Putri Junjung Buih.

Setiba di Gunung Kayangan, sang putri dicegat roh jahat dan terjadilah perang. Rakyat pun membantu pasukan sang putri an akhirnya roh jahat itu dapat dikalahkan.

Irama musik dan gamelan yang mengiringi sendratari tersebut menambah kian ciamiknya penampilan para penari.

Tepuk tangan pun seketika membahana seiring  berakhirnya pertunjukkan sendratari yang dimainkan oleh kalangan mahasiswa dan sivitas akademika Politala tersebut.

Pendiri Politala yang juga Ketua Dewan Penyantun Dr H Sihabuddin Chalid juga turut terlibat pada persembahan sendratari itu. Ia yang menciptakan Tari Legenda Gunung Kayangan tersebut.

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved