BTalk Mom & Kids

BTalk - Pesan Psikolog Jehan Safitri pada Orangtua Ketika Anak Mulai Tertarik Lawan Jenis

Dosen di Prodi Psikologi FK ULM, Jehan Safitri, menjadi narasumber BTalk Mom & Kids Banjarmasin Post tentang anak mulai menyukai lawan jenis.

Penulis: Salmah | Editor: Alpri Widianjono
BANJARMASINPOST.CO.ID/SALMAH SAURIN
Dosen psikologi di Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat (Prodi Psikologi FK ULM), Jehan Safitri, MPsi, menjadi narasumber acara BTalk Mom & Kids dalam perbincangan mengenai perkembangan remaja yang mulai tertarik kepada lawan jenis, dipandu jurnalis Banjarmasin Post, Tania Anggrainy, Sabtu (1/10/2022). 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Tak terasa anak yang tadinya bayi, hingga kemudian beranjak besar. Tak terasa pula mereka menjadi remaja. Orangtua terkaget-kaget saat mengetahui mereka mulai menyukai lawan jenis.

Terlebih hal itu semakin cepat sebagai dampak kemajuan teknologi. Bagaimana orangtua menyikapinya, bagaimana pula memberi pengertian kepada anak mengenai hubungan antara pria dan wanita?

Dosen psikologi di Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat ( Prodi Psikologi FK ULM), Jehan Safitri, MPsi, menjelaskan seputar perkembangan remaja yang tertarik terhadap lawan jenis.

Perbincangan dengan Jehan dipandu Tania Anggrainy, jurnalis BPost, pada BTalk Mom & Kids yang disiarkan langsung di kanal Youtube Banjarmasin News Video, Instagram Banjarmasin Post dan Facebook BPost Online, Sabtu (1/10/2022) pukul 16.00 Wita.

Dipaparkan Jehan, memang di era teknologi digital sekarang ini keberadaan gadget dengan beragam media sosial banyak memengaruhi anak-anak dan remaja.

Baca juga: Perpanjangan Masa Berlaku Paspor Belum Diterapkan di Kalsel, Ini Alasannya

Baca juga: Kabar Gembira Masa Berlaku Paspor Jadi 10 Tahun, Berikut Syarat Mendapatkan Paspor

"Banyak video bertebaran yang menayangkan berbagai hal. Termasuk menormalisasikan hal-hal yang tabu dan tak boleh dilakukan secara dini," ujarnya.

Lantas bagaimana menyikapi saat anak mulai tertarik dengan lawan jenis? Memang di saat pubertas, anak remaja akan terlihat suka lawan jenis dan orangtua perlu bijak menghadapinya.

"Kuatkan benteng dari keluarga. Sebab kita tidak bisa mengondikasikan lingkungan luar rumah agar sesuai dengan keinginan kita. Jadi kita yang harus membentuk anggota keluarga kita," terangnya.

Dindingnya adalah dari sudut pandang agama. Dengan landasan agama yang baik maka anak pun bisa diberi pemahaman mana yang boleh dan tidak.

"Agar anak aman dalam proses tumbuh dan berkembang maka sumber kebahagiaan itu harus ada di rumah. Dan suasana yang agamis yang harus mewarnai kehidupan di rumah," jelas Jehan.

Baca juga: Tim SAR Gabungan Masih Lakukan Pencarian Dua Korban Longsor Tambang Emas Kotabaru

Baca juga: Tim Gabungan Masih Lakukan Pencarian WNA Tenggelam di Perairan Tanjung Mangkok Kotabaru

Pendekatan agama itu indikatornya jelas dan anak akan sepaham, begitu juga dengan sekolah juga akan sepaham, sehingga anak akan bisa menerima.

Diutamakan juga sikap orangtua yang terlebih dulu memberi contoh sehingga anak akan meniru.

Saat anak pubertas, maka perlu banyak menjalin komunikasi dengan anak. Hanya saja tidak semua orangtua bisa berkomunikasi secara nyaman dengan putra-putrinya.

"Menjalin komunikasi dengan anak, harus dibiasakan sejak dini. Jangan sampai hingga anak pubertas, baru mencoba berkomunikasi. Anak akan sulit berinteraksi dengan orangtua," tukasnya.

Jika saat anak dewasa, baru kemudian diajak ngobro dari hati ke hati, maka anak jadi canggung karena tidak terbiasa.

Baca juga: Banjarmasin Tak Jadi Ibu Kota Provinsi KADIN: Fokus Jadi Kota Perdagangan dan Jasa

Baca juga: Kebakaran di Desa Beringin HSU Sabtu Dinihari, Api Lumat Deretan Rumah Kayu

"Ketika anak masih kecil, jangan dianggap cerita anak tidak penting. Apalagi kadang anak bercerita berulang dan kita mengabaikan atau malas mendengarkan," ujar Jehan.

Anak perlu orang yang bisa menjadi tempat mengutarakan sesuatu, menyampaikan pendapat, berkeluh kesah dan bersukaria. Jangan dipotong atau dialihkan atau dihindari apa yang anak komunikasikan.

Jika merasa tak ada figur yang bisa nyaman berinteraksi dan memberikan solusi, maka anak akan mencari di luar rumah, sehingga tak heran jika ia lebih merasa berkomunikasi nyaman dengan orang lain atau menulis di media sosial.

(Banjarmasinpost.co.id/Salmah Saurin)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved