Berita Banjarmasin

Bangunan Ambruk di Banjarmasin Drastis Meningkat Sejak Lima Tahun Terakhir, Ini Analisa BPBD

Bangunan ambruk yang terjadi di sepanjang tahun 2022, menjadi yang tertinggi dalam lima tahun terakhir ini di Banjarmasin

Penulis: Noorhidayat | Editor: Hari Widodo
Banjarmasinpost.co.id/Rifki Soelaiman
Ilustrasi-Situasi rumah Ismed dari dalam rumah, bagian belakang rumah terlihat ambruk dan puing-puingnya berserakan. Kondisi ini, meningkat selama lima tahun terakhir. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Bangunan ambruk yang terjadi di sepanjang tahun 2022, menjadi yang tertinggi dalam lima tahun terakhir ini di Banjarmasin, Kalimantan Selatan (Kalsel).

Melihat dari data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Banjarmasin, dari Januari hingga bulan Oktober 2022, ada sebanyak 14 kasus bangunan ambruk.

"Tahun 2022, pertama terjadi bulan April lalu, terakhir pada 1 Oktober kemarin, rumah roboh di Benua Anyar," ujar Analis Mitigasi Bencana BPBD Kota Banjarmasin, Hanafi, Kamis (6/10/2022).

Adapun rincian kasus bangunan ambruk lima tahun terakhir, tahun 2018 empat kasus, tahun 2019 tiga kasus, tahun 2020 dua kasus, tahun 2021 delapan kasus, dan di tahun 2022 hingga Oktober sebanyak 14 kasus.

Baca juga: Bangunan Ruko Ambruk di Banjarmasin, Begini Catatan Sejarah Pasar Lima

Baca juga: Toko Bangunan di Pasar Lima Banjarmasin Ambruk, Empat Orang Berhasil Selamatkan Diri

Baca juga: Satu Ruangan TK di Banjarmasin Timur Ambruk saat Renovasi

Jika melihat data di atas, mulai tahun 2021 sampai 2022 terjadi peningkatan yang cukup drastis.

Adapun kesimpulan hasil analisa penelitian dari 17 kasus bagunan ambruk di Banjarmasin, yang terjadi pada tahun 2018 sampai 2021 oleh Hanafi pada awal tahun 2022 tadi.

Pertama, pondasi kayu yang mengandalkan sunduk dan kalang sering patah akibat modifikasi atau penambahan bangunan baru.

Kedua, klang dari pondasi terlepas dari tumpuan kepala ceurucuk galam akibat pergerakan tanah.

Ketiga, bangunan ambruk akibat terjadi erosi (rumbih) atau pengikisan tanah oleh air pada pondasi bangunan di bantaran sungai.

Keempat, peningkatan rumah roboh terjadi pasca banjir pada bulan Januari 2021.

Sebelumnya, dalam pemberitaan bangunan ambruk di Banjarmasin, menurut Kabid Wasbang Dinas PUPR Kota Banjarmasin, Agus Suyatno, sering terjadi diduga karena gagal kontruksi pada pondasi bangunan serta usia bangunan yang sudah tua, yang membuat bangunan tersebut ambruk atau miring.

Agus pun mengklaim, pihaknya selama ini sudah bergerak ketika mendapat laporan bangunan miringbsecara resmi maupun ada informasi dari masyarakat.

"Langkah kami adalah menemui pemilik bangunan dan langsung melihat ke lokasi bangunan yang di maksudkan, ketika ada mendapat laporan atau informasi dari masyarakat," ucap Agus.

Selanjutnya, pihaknya bakal menyarankan pemilik bangunan untuk membuat Sertifikat Layak Fungsi (SLF) untuk memastikan bangunan tersebut masih layak atau tidaknya untuk dihuni.

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved