BKKBN Kalsel

BKKBN Kalsel Gelar Diskusi Panel Sekaligus Fasilitasi Evaluasi Rencana Tindak Lanjut Kasus Stunting

Asisten Setdaprov Kalsel, H Nurul Fajar Desira, buka Diskusi Panel BKKBN, Sekaligus Fasilitasi Evaluasi Rencana Tindak Lanjut Kasus Stunting.

Penulis: Frans Rumbon | Editor: Alpri Widianjono
BANJARMASINPOST.CO.ID/FRANS RUMBON
Diskusi Panel Audit Kasus Stunting dan Manajemen Kasus Stunting, sekaligus Fasilitasi Evaluasi Rencana Tindak Lanjut Audit Kasus Stunting Kabupaten/Kota se Kalimantan Selatan di Hotel Rattan Inn Banjarmasin, Senin (7/11/2022). 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Bertempat di Hotel Rattan Inn Banjarmasin, Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Kalimantan Selatan (Kalsel) menyelenggarakan diskusi, Senin (7/11/2022).

Materi yang diangkat mengenai Kasus Stunting dan Manajemen Kasus Stunting, sekaligus Fasilitasi Evaluasi Rencana Tindak Lanjut Audit Kasus Stunting Kabupaten/Kota se Kalsel 2022.

Kegiatan ini dibuka Ketua Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) Kalsel yang juga Wakil Gubernur Kalsel, H Muhidin, diwakili Asisten Pemerintah dan Kesra Setdaprov Kalsel, H Nurul Fajar Desira.

Peserta dalam kegiatan yang dilaksanakan selama tiga hari ini adalah Organisasi Perangkat Daerah Keluarga Berencana (OPD-KB) dari seluruh kabupaten dan kota.

Kepala Perwakilan BKKBN Kalsel, H Ir Ramlan, menerangkan, kegiatan yang digelar tersebut sangatlah strategis dalam upaya penanganan kasus stunting di Kalsel.

"Kegiatan ini sangat strategis sekali, yakni untuk audit kasus stunting dan rencana tindaklanjutnya," katanya.

Kemudian, Ramlan menambahkan, masing-masing kabupaten maupun kota di Kalsel sudah melakukan audit juga sebelumnya.

"Jadi di sini kami ingin melihat bagaimana manajemen audit kasus stunting. Tentunya dari 13 kabupaten kota, permasalahan yang dihadapi berbeda-beda," jelasnya.

Selanjutnya, Ramlan juga membeberkan bahwa berdasarkan hasil survei sementara, angka kasus stunting di Kalsel mulai mengalami penurunan.

Jika sebelumnya masih tertahan di 30 persen hingga sempat menduduki peringkat keenam tertinggi kasus stunting di Indonesia, kini justru mampu ditekan menjadi 20 persen.

"Beberapa waktu lalu, kami sempat berdiskusi dengan Kepala Dinkes Kalsel. Berdasarkan survei Status Gizi Indonesia, nilainya sudah 20 persen di 2022. Jadi, tinggal sekitar 6 persen saja lagi kita turunkan agar bisa mencapai 14 persen saja," pungkasnya. (AOL/*)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved