Berita Batola

Dikenal Sebagai Sentranya, Begini Cara Petani Batola Menanam Jeruk Siam Banjar

Dikenal sebagai sentra jeruk di Kalimantan Selatan (Kalsel), Petani Batola punya cara menanam jeruk Siam Banjar

Penulis: Muhammad Tabri | Editor: Hari Widodo
Banjarmasinpost.co.id/Muhammad Tabri
Petani jeruk Siam Banjar di Kecamatan Marabahan saat menyiapkan lahan untuk ditanami, Rabu (9/11/2022). 

BANJARMASINPOST.CO.ID, MARABAHAN - Dikenal sebagai sentra jeruk di Kalimantan Selatan (Kalsel), Kabupaten Barito Kuala (Batola) memang memiliki banyak petani jeruk siam Banjar yang tersebar di sebagian besar wilayahnya. 

Di samping itu, selain jeruk yang dihasilkan lebih berair dan manis, di Batola juga terdapat sentra pembibitan jeruk. Yaitu di Desa Sungai Kambat, Kecamatan Cerbon. 

Dari potongan cerita yang disematkan banyak orang terkait jeruk dan pembibitannya, menarik pula diketahui cara menanam jeruk yang ada di Bumi Ije Jela. 

Terutama berkenaan dengan kontur tanah yang kebanyakan berair dan pasang surut, sehingga perlu teknik penanaman tertentu yang harus dilakukan. 

Baca juga: KalselPedia - Jeruk Siam Banjar Kabupaten Batola Tembus Pasar Pulau Jawa

Baca juga: Dinilai Unggul, Bibit Jeruk Siam di Batola Hingga Kini Jadi Mata Pencaharian Warga Sungai Kambat

Diungkapkan Sarpin, warga Marabahan, untuk menanam bibit jeruk perlu beberapa hal yang harus diperhatikan, agar tumbuh kembang jeruk bagus dan berumur panjang. 

Di antaranya membuat undakan tanah lebih tinggi dari permukaan tanah yang lain atau berair. 

Kemudian sekitar sepekan atau sepuluh hari sebelum bibit jeruk ditanam tanah harus ditaburi kapur dolomit. 

"Tujuannya agar kadar asam pada tanah yang akan ditanami berkurang, jadi bibit bisa tumbuh normal," ucap Sarpin, Rabu (9/11/2022). 

Usai penanaman, lanjutnya, bibit kan tumbuh dan berbuah dalam satu hingga dua tahun ke depan. Terutama jika bibit yang ditanam sudah lumayan besar dengan kisaran tinggi 80 hingga 100 cm. 

"Tapi tiga hingga empat kali berbuah pada tahap asal penanaman ini tidak dipetik atau diambil. Karena masih dianggap buah pemula," beber warga yang kesehariannya bertani ini. 

Adapun terkait perawatan, di sepanjang tahun hanya perlu diperhatikan batang jeruk agar tetap bersih dari tanaman liar, serta sesekali dilakukan pemupukan. 

Ditanya mengenai biaya dalam berkebun jeruk, Sarpin mengaku kini mulai terbilang mahal. 

Pertama, mengenai harga kapur dolomit yang ia beli di toko pertanian. Jika dulu harganya berkisar 30 ribu rupiah per zak untuk berat 50 kg, kini harganya mencapai 50 ribu rupiah. 

Baca juga: Dosen ULM Datangi Warga Sungai Alat Astambul Banjar, Ajari Bikin Jelly dan Dodol Jeruk Siam

Kedua, di samping harus menyiapkan lahan, membuat bedengan untuk menanam bibit jeruk juga perlu biaya. 

"Jadi satu bedengan dengan luas sekitar 1,5 × 1,5 meter dengan tinggi 60 cm, itu upah membuatnya 40 ribu rupiah," tutur warga yang sudah cukup berpengalaman menanam jeruk ini. 

Meski demikian, ia tetap menanam dan berharap dari penanaman jeruk di sela bertani padi ini bisa menambah penghasilan. (Banjarmasinpost.co.id/Muhammad Tabri) 


 

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved