Berita Batola

Harga Beras Lokal di Batola Melejit, Distan TPH Sebut Dipicu Kenaikan BBM

Kenaikan harga beras lokal turut terjadi di Batola yang merupakan sentra padi lokal. Distan TPH menyebut dipicu kenaikan harga BBM

Penulis: Muhammad Tabri | Editor: Hari Widodo
Banjarmasinpost.co.id/Muhammad Tabri
Pedagang beras lokal di Jalan Veteran, Kecamatan Marabahan, Selasa (15/11/2022). 

BANJARMASINPOST.CO.ID, MARABAHAN - Dikenal sebagai lumbung padi di Kalimantan Selatan tak membuat Kabupaten Barito Kuala terhindar dari kenaikan harga beras. 

Kenaikan harga beras lokal ini turut terjadi di beberapa waktu belakang, bahkan terbilang cukup tinggi. 

Disampaikan Safiah, pedagang beras di Marabahan, harga beras jenis siam yang menjadi konsumsi masyarakat setempat paling banyak mengalami kenaikan. 

Seperti Siam Pandak dan Arjuna, jika biasanya dijual 10 ribu rupiah per liter kini harganya sudah 13 ribu rupiah. 

Baca juga: Kenaikan BBM, Upah Angkut dan Penggilingan Ikut Andil Meningkatnya Harga Beras Lokal

Baca juga: Stok Menipis, Beras Lokal dan Daging di Kalsel Disorot Saat Rakor Pengendalian Inflasi

Baca juga: Suplai Menurun, Penjual Beras Lokal di Banjarmasin dan Banjarbaru Terpaksa Naikkan Harga

Untuk Siam Mayang yang baru dipanen, dulunya per liter 13 ribu rupiah kini menjadi 15 ribu rupiah dan 17 ribu rupiah per liter untuk yang usang. 

"Rata-rata beras lokal ada mengalami kenaikan. Mulai 1.000 rupiah hingga 3.000 rupiah per liter," ungkap Safiah Selasa (15/11/2022). 

Tidak hanya harga beras lokal yang melejit naik, bahan baku berupa padi kering juga naik merangkak di Batola. 

Kabar ini diungkapkan Ahmad, warga Desa Antar Jaya yang turut mengalami kondisi ini beberapa bulan terakhir. 

"Ya memang begitu. Sebelum beras naik, padi yang dijual petani juga mengalami kenaikan harga," ujar Ahmad. 

Ia pun menjelaskan, beberapa faktor penyebab naiknya harga padi di antaranya petani mengalami gagal panen dan biaya tanam hingga panen juga semakin mahal. 

Kemudian dampak dari terbatasnya hasil panen menyebabkan pasokan berkurang, hingga turut menyebabkan harga terkerek naik. 

"Kalau dulu kisaran harga padi siam paling 60 ribu rupiah hingga 75 ribu rupiah per blek, sekarang sudah mencapai 110 ribu hingga 115 ribu rupiah," ucap Ahmad. 

Sementara itu, disampaikan Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura (Distan TPH) Batola, Murniati, kenaikan harga beras bukan disebabkan petani gagal panen. 

Melainkan adanya kenaikan BBM yang belakangan ini turut menjadi pemicu yang cukup besar dalam biaya pertanian. 

"Dengan adanya kenaikan BBM, maka upah panen, ongkos angkut, hingga transportasi jadi naik. Perani pun tidak punya pilihan selain menaikkan harga," terang Murniati. 

Baca juga: Pasokan Beras Lokal di Kalsel Mulai Berkurang, Pedagang Datangkan dari Jawa dan Sulawesi

Ia pun menjelaskan, di Batola sendiri saat ini memiliki lahan tanam total 106.432 hektare pada masa tanam 2021-2022.

Adapun luasan lahan yang rusak karena Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) dan dampak perubahan iklim (DPI) sekitar 7.000 hektare.

Sedangkan lahan yang gagal panen sama sekali atau puso hanya sekitar 3234 hektare. 

(Banjarmasinpost.co.id/Muhammad Tabri) 

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved