Berita Tanahlaut

Gundah Kesulitan Memasarkan, Petani di Kabupaten Tanahlaut Ini Terpaksa Tebangi Kayu Gaharunya

warga Desa Bumiasih, Kecamatan Panyipatan, Tanahlaut, terpaksa mulai menebangi kayu gaharu yang susah payah ia rawat selama ini.

Penulis: Idda Royani | Editor: Eka Dinayanti
banjarmasinpost.co.id/roy
Sunardi (kanan, berdiri) curhat mengenai kesulitannya menjual pohon gaharu saat mengikuti pertemuan membahas Gerakan Revolusi Hijau di Pantai Batakan Baru, Desa Batakan, Senin (21/11) sore. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, PELAIHARI - Impian Sunardi mendapatkan hasil berlimpah dari usaha penanaman kayu gaharu berujung gundah dan gelisah.

Bahkan, kini warga Desa Bumiasih, Kecamatan Panyipatan, Kabupaten Tanahlaut (Tala), Kalimantan Selatan (Kalsel), ini terpaksa mulai menebangi kayu gaharu yang susah payah ia rawat selama ini.

Hal itu ia lakukan karena kebingungan memasarkan atau menjual kayu gaharunya yang kini telah berusia delapan tahun atau telah masa panen.

Sekadar diketahui, masa panen gaharu mulai usia lima tahun.

Di sisi lain, Sunardi kini juga kesulitan mencari lahan untuk bercocok tanam sayuran atau palawija untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.

Baca juga: Kebakaran di Kalsel - Api Membara di Tanahlaut, Rumah Makan di Gunungraja Lumat Tinggal Puing

Baca juga: Sepasang Muda-mudi Asyik Berduaan di Kamar Kos, Satpol Tanahlaut Juga Temukan Barang Ini

Pasalnya, tegakan kayu gaharu tumbuh subur tinggi dan rimbun menyebabkan area sekitar tak memungkinkan lagi untuk ditanami.

"Dari sekitar 700 batang yang saya tanam, saat ini sudah 250 batang yang saya tebang dan saya bakar. Penebangannya ini masih terus lanjut. Lahannya mau saya tanami tanaman lain. Rencananya hendak saya tanami lombok," ucap Sunardi, Selasa (22/11/2022).

Ia menuturkan delapan tahun silam dirinya ikut menanam pohon gaharu atas anjuran pemerintah.

Saat itu dinyatakan prospek nilai ekonomi kayu gaharu sangat menggiurkan.

Apalagi kala itu kayu gaharu ditanam sebagai tanaman sela di antara larikan tanaman karet.

"Saat itu bibitnya diberi oleh pemerintah, juga ada dibantu biaya penanamannya," papar Sunardi.

Terobsesi mendapatkan hasil berlimpah, Sunardi merawat kayu gaharunya tersebut dengan memberi pupuk secara berkala.

Pohon beraroma wangi itu pun tumbuh subur melampaui tanaman karetnya.

"Sangat rimbun gaharunya sehingga tanaman karetnya malah kalah, kurang subur. Mau menanam tanaman lain juga tak bisa lagi karena pohon gaharunya begitu rimbun," kata Sunardi.

Halaman
123
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved