Serambi Ummah

Perjanjian Pranikah Masuk Kategori Hukum Mubah, Simak Penjelasannya

Perjanjian pranikah masuk dalam kategori hukum mubah artinya dikerjakan tidak mengapa ditinggalkan pun tidak mengapa

Editor: Eka Dinayanti
Serambi Ummah
Ilustrasi Perjanjian Pranikah 

BANJARMASINPOST.CO.ID - Meski belum banyak orang melakukannya, ada beberapa calon pasangan suami-istri sebelum melakukan pernikahan terlebih dahulu membuat perjanjian pranikah.

Ada beberapa alasan melakukan perjanjian pranikah, salah satunya adalah sebagai tindakan preventif apabila terjadi perceraian, karena dengan dibuatnya perjanjian pra nikah akan mempermudah pembagian harta gonogini.

Lantas bagaimana pandangan tokoh agama, terkait perjanjian pranikah tersebut.

Apakah perjanjian pranikah ini sesuai dengan syariat Islam? Menurut salah satu ulama di Kabupaten Tanahbumbu, Ustadz Hidayatullah Ali, persoalan itu tidak jadi masalah selama disepakati kedua belah pihak calon mempelai laki-laki dan perempuan yang akan menikah dan berumah tangga.

“Jika ditanya apakah perjanjian pranikah diperkenankan dalam Islam jawabannya kita harus kembali ke dalam hukum-hukum Islam. Hukum di dalam Islam ada lima yaitu wajib, haram, sunah, makruh dan mubah. Maka secara singkat penjelasannya pranikah masuk dalam kategori hukum mubah artinya dikerjakan tidak mengapa ditinggalkan pun tidak mengapa,” jelasnya.

Baca juga: Perjanjian Pranikah dalam Pandangan Islam, Diperbolehkan Agama dan Undang-undang Perkawinan

Selama isi perjanjiannya tidak ada satupun yang menentang hukum syariat Islam, semisal ada isi perjanjian yang haram maka hukumnya berubah menjadi haram.

Tetapi kalau tidak ada maka kembali ke hukum awal yaitu mubah.

Bagi umat muslim yang melakukan perjanjian pranikah, kembali ke kaidah hukum di dalam Islam, kalau di dalamnya ada perjanjian yang haram maka hukumnya berdosa. \

Jika tidak ada, maka kembali ke hukum asal mubah (boleh dikerjakan boleh ditinggalkankan).

Pernikahan, tambahnya, adalah ibadah kepada Allah SWT bahkan ulama bersepakat pernikahan adalah ibadah yang sangat panjang dan dinilai pahala apabila di dalamya diisi dengan cinta kasih sayang saling menghormati saling faham.

Pasangan juga saling menghargai suami menghormati istri, istri menghormati suami maka semua itu bisa berlaku kalau dilandasi dengan ilmu agama yang kuat dan hati yang baik dan akhlak yang baik sehingga tidak memerlukan pranikah atau perjanjian perjanjian yang lainnya.

Senada dengan Ustadz Hidayatullah Ali, Ustadz Abdurahman dari Simpangempat Tanahbumbu, juga mengatakan itu boleh saja dilakukan oleh pasangan yang mau menikah, karena ditakutkan terjadi perceraian.

“Boleh saja, selama masih tidak keluar dari ajaran islam,” katanya.

Namun selain itu perjanjian seperti itu, biasanya yang harus diketahui oleh calon mempelai antara perempuan dan laki-laki, misalnya tidak memberikan nafkah selama beberapa bulan hingga jatuhnya talak satu. B

iasanya ada beberapa poin yang harus diketahui pasangan. ( Serambi Ummah)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved