Religi

Hukum Bertaubat Namun Tak Meminta Maaf kepada yang Dizalimi, Ustadz Adi Hidayat Beri Penjelasan

Ustadz Adi Hidayat terangkan mengenai hukum bertaubat kepada orang yang dizalimi. Simak penjelasan pendakwah ini

Penulis: Mariana | Editor: Irfani Rahman
kanal youtube Adi Hidayat Official
Ustadz Adi Hidayat terangkan mengenai hukum bertaubat dari perbuatan zalim namun tak meminta maaaf terhadap yang dizhalimi 

BANJARMASINPOST.CO.ID - Pendakwah Ustadz Adi Hidayat menjelaskan hukum bertaubat dari perbuatan zalim namun tidak meminta maaf kepada orang yang dizalimi.

Pemaafan dan pengampunan kepada seorang hamba, dikatakan Ustadz Adi Hidayat adalah hak prerogratif Allah SWT.

Konsekuensi perbuatan seorang hamba, Ustadz Adi Hidayat menuturkan akan melahirkan berbagai hal dari Allah SWT, misal kalau berbuat baik akan mendapat pahala kebaikan, sebaliknya jika berbuat buruk terancam berpotensi mendapat dosa.

Zalim dalam ajaran Islam adalah meletakkan sesuatu atau perkara bukan pada tempatnya. Orang yang berbuat zalim disebut zalimin dan lawan kata dari zalim adalah adil.

Baca juga: Pemicu Datangnya Jin dan Setan di Rumah, Ustadz Adi Hidayat Jabarkan Benda yang Bisa Merusak Akidah

Baca juga: Ketentuan Berobat Menggunakan Hewan yang Diharamkan dalam Islam, Begini Penjelasan Buya Yahya

Ustadz Adi Hidayat menjelaskan umat Islam akan menuai apa yang ia buat, jikalau melakukan perbuatan tercela maka terancam akan dihukumi dosa.

"Dikatakan terancam karena ada pintu untuk berbuat taubat untuk menuttup kesalahan yang dilakukan," terang Ustadz Adi Hidayat dikutip Banjarmasinpost.co.id dari kanal youtube Adi Hidayat Official.

Dalam konteks berbuat salah atau berperilaku zalim, terbagi dua bagian ada terkait dengan Allah SWT secara langsung, misalnya terkait ibadah misalnya meninggalkan shalat sengaja, tidak puasa Ramadhan.

Cara bertaubatnya meminta ampun kepada Allah berjanji tidak mengulanginya lagi, meningkatkan ketaatan kepada Allah, menambah ibadah sunnah, dan mengganti apa yang sesuai ketentuan syariat, jikalau puasa maka harus lakukan qadha dan ketentuan lainnya yang telah dirumuskan dalam kitab fikih.

"Jika perbuatan zalim yang pernah dikerjakan dan kita berlindung kepada Allah dari perbuatan demikian, terkait dengan hak anak cucu Adam atau sesama manusia, maka jalan yang harus dilakukan adalah diselesaikan dulu dengan orang atau manusia yang dimaksud," papar Ustadz Adi Hidayat.

Sekalipun Anda memohon ampun kepada Allah, namun tidak meminta maaf atau tidak menyelesaikan dengan orang yang bersangkutan, maka taubat yang dilakukan belum sempurna.

Dan masih menggantung, masih akan dibahas dalam hisab saat kembali kepada Allah SWT, bahkan berpotensi melahirkan pengaduan dari orang yang dizalimi berpotensi mengurangi pahala yang telah Anda dapatkan.

Hal ini sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan dalam hadist shahih yang berbunyi:

أَتَدْرُونَ مَا الْمُفْلِسُ؟ قَالُوا الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لَا دِرْهَمَ لَهُ وَلَا مَتَاعَ (رواه مسلم)

"Tahukah kalian, Siapakah orang yang mengalami bangkrut berat diantara kalian?" Para sahabat menjawab pertanyaan Nabi: “Mereka adalah orang yang tidak memiliki suatu harta apapun”. (HR. Muslim, No: 2581).

Baca juga: Sunnah-sunnah Sebelum Shalat Taubat, Ustadz Abdul Somad Jelaskan Waktu Terbaik Melaksanakannya

Baca juga: Kekeliruan Wanita Muslim Diuraikan Ustadz Khalid Basalamah, Mempercantik Diri Mengubah Ciptaan Allah

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved