Berita Tanahlaut

Gaungkan Tanahlaut di Mancanegara Lewat Film, Sukamta Sebut Anggaran Rp 5,5 Miliar untuk Jaga-jaga

Pada film WLCFBB bukan nama besar artis yang ditonjolkan, tapi mengedepankan kekuatan konten yakni kekayaan alam, budaya, dan wisata di Tala.

Penulis: Idda Royani | Editor: Eka Dinayanti
MASTURI UNTUK BPOST GROUP
INILAH woro-woro film WLCFBB 

BANJARMASINPOST.CO.ID, PELAIHARI - Seperti halnya Pemerintah Kota Banjarmasin, saat ini Pemerintah Kabupaten Tanahlaut (Tala), Kalimantan Selatan (Kalsel), juga sedang menggarap sebuah film.

Tujuannya sama yakni untuk mempromosikan daerah masing-masing.

Nada minor pun juga muncul di kalangan masyarakat karena biaya pembuatan film tersebut dinilai cukup besar.

Di sisi lain kondisi ekonomi masyarakat masih tertatih-tatih pascapandemi.

Informasi dihimpun banjarmasinpost.co.id, Senin (28/11/2022), biaya pembuatan film tersebut mencapai Rp 5,5 miliar dan telah dianggarkan dalam APBD 2023 pada Dinas Pariwisata Tala.

Film tersebut diberi judul When Love Call From Bottom of Borneo (WLCFBB) atau Cinta Memanggil dari Tanahlaut yang digarap produser Joko Nugroho dari Happening Film, Jakarta.

Ini adalah rumah produksi yang bergerak di bidang pembuatan film dan audio visual content dalam format digital.

Baca juga: Tanahlaut Berharap Pemprov Kalsel Ambilalih Jalur Perbatasan Riampinang-Banjar, Ini Pertimbangannya

Baca juga: Kadinkes Tanahlaut Ajukan Pengunduran Diri Gegara Ini, Bupati Sukamta Beri Lampu Hijau

Mengenai hal itu, Bupati Tala H Sukamta menegaskan pengalokasian anggaran tersebut hanya bersifat untuk jaga-jaga.

"Saya bilang demikian karena biaya pembuatan film itu diupayakan dari dana sponsor," sebutnya.

Ia menerangkan saat ini pihak produser sedang menggalang sponsor di dalam negeri maupun luar negeri.

Pasalnya Happening Film memiliki akses ke sejumlah distributor di luar negeri seperti di Malaysia dan Inggris.

Pemerintahannya juga turut membantu menggalang sponsor lokal.

Jika dana dari sponsor mencukupi, maka dana yang telah dianggarkan sebesar Rp 5,5 miliar itu tidak akan terpakai.

"Kalau dana sponsor kurang, barulah akan diambilkan dari anggaran itu. Jadi, pembuatan film ini bukan seperti PBJ (pengadaan barang dan jasa) tapi kerjasama," tandas Sukamta.

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved