Jendela

Penyalahgunaan Kuasa

Pemimpin adalah penguasa, dan karena itu setiap orang berpeluang untuk menyalahgunakan kekuasaan

Editor: Eka Dinayanti
istimewa
Prof DR H Mujiburrahman MA 

Oleh: Mujiburrahman

BANJARMASINPOST.CO.ID - “HAMPIR semua orang sanggup menyandang penderitaan, tetapi jika kau ingin menguji karakter seseorang, berilah dia kekuasaan.” Pernyataan ini seringkali dinisbahkan kepada Abraham Lincoln, Presiden Amerika Serikat ke-16. Namun, kalau kita baca Reuters Fact Check, ungkapan ini ternyata bukan berasal dari Lincoln, melainkan dari Robert G. Ingersoll tentang Lincoln. Dalam sebuah kuliah yang disampaikannya pada 1895, Ingersoll menambahkan,“Keagungan Lincoln adalah meskipun memiliki kekuasaan yang nyaris mutlak, dia tak pernah menyalahgunakannya, kecuali dari sisi memberikan pengampunan.”

Pujian terhadap Lincoln itu patut menjadi renungan ‘kita’ dalam arti masing-masing kita. Tak perlu harus menjadi presiden untuk mempunyai kekuasaan. Majikan terhadap pekerja, guru terhadap murid, dosen terhadap mahasiswa, pria terhadap wanita, orangtua terhadap anak, bahkan seseorang terhadap dirinya sendiri. Tentu saja, termasuk dalam kekuasaan adalah berbagai jabatan formal, baik di pemerintahan atau swasta. Singkat kalimat, sekecil apapun kekuasaan di tangan kita, apalagi besar, sesungguhnya ia akan menjadi ujian terhadap diri kita, yang akan menunjukkan karakter kita yang sebenarnya.

Perubahan karakter seseorang saat berkuasa dipengaruhi oleh berbagai sebab. Salah satu yang terpenting adalah tujuan atau niat ketika dia berjuang mendapatkan kekuasaan itu. Jika niatnya adalah ingin memperkaya diri, keluarga dan kelompok, mengejar popularitas dan kehormatan belaka, maka dapat dipastikan dia akan menyalahgunakan kekuasaan itu. Sebaliknya, jika niatnya adalah ingin menggunakan kekuasaan untuk menegakkan keadilan, membela kaum yang lemah dan menyejahterakan orang banyak, maka perilakunya saat berkuasa cenderung akan sesuai dengan niat ini pula.

Biasanya, orang yang ketika berkuasa menyalahgunakan kekuasaannya adalah orang yang sangat ambisius dan mau melakukan hampir apa saja demi mendapatkan kekuasaan. Dia juga orang yang sangat egois, meskipun dalam tampilannya seolah dia adalah pribadi yang suka mengalah. Egoisme itu juga tampak pada sikapnya yang fanatik buta pada kepentingan keluarga dan kelompok, karena keduanya adalah perpanjangan dari egonya. Sebaliknya, orang yang ingin menggunakan kekuasaan untuk kebaikan bersama cenderung tidak ambisius, tidak mau menghalalkan segala cara, serta tidak fanatik buta.

Selain itu, orang yang suka menyalahgunakan kekuasaan biasanya kurang percaya diri. Karena itu, dia lebih suka mengandalkan identitas agama, etnis, organisasi atau kekuatan uang, ketimbang kemampuannya dalam memimpin, program-program yang ditawarkan atau rekam jejak prestasinya. Lebih buruk lagi, dia lebih suka menghina dan merendahkan orang lain yang menjadi saingannya ketimbang menghargai prestasinya. Dia lebih mampu melihat kekurangan orang lain, tetapi tidak mau mengaca diri, melakukan introspeksi.

Karena itu, bagi orang semacam ini kekuasaan adalah keberuntungan yang harus dinikmati. Dia akan menerapkan ‘aji mumpung’. Kalau tidak sekarang, kapan lagi. Jika ada peluang korupsi, sikat saja. Jika ada fasilitas negara, ambil sepuasnya. Jika ada kesempatan membalas dendam, hantam saja. Dia tak malu melakukan jual-beli jabatan. Jika ingin jabatan A, bayar sekian. Bahkan, sekadar surat rekomendasi pun dimintai bayaran. Ia tak segan memeras bawahan, meminta upeti dan melayaninya hingga terbungkuk-bungkuk.

Penyalahgunaan kekuasaan itu semakin tampak setelah dia tidak berkuasa lagi. Ada yang tertangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Ada pula yang aman-aman saja, tetapi namanya seolah lenyap di masyarakat. Orang tidak lagi menghargainya karena dulu orang menghormatinya semata karena dia berkuasa. Ketika kekuasaan hilang darinya, rasa hormat itu pun hilang. Apalagi ketika berkuasa, dia membuat orang jengkel dan marah. Ibarat bunga mawar, ia jatuh saat layu. Tak ada orang yang sudi memungutnya lagi.

Karena itu, dapat dipahami jika orang yang suka menyalahgunakan kekuasaan itu sangat takut kehilangan kekuasaan. Ketika masa jabatan menjelang habis, dia semakin khawatir. Diam-diam dia sadar bahwa nilai dirinya semata tergantung pada jabatan yang didudukinya. Dirinya sendiri, sebagai manusia, tidak pernah diupayakannya untuk bernilai. Dia malah menghancurkan nilai dirinya dengan penyalahgunaan kekuasaan. Bukankah nilai diri seseorang terletak pada hati dan perbuatannya, ketulusan niat dan keluhuran budi? Lebih menderita lagi, jika dia tidak memiliki ilmu dan keterampilan yang dapat diandalkan.

Alhasil, introspeksi ini memang sangat tepat untuk para pejabat, tetapi ia juga relevan untuk semua orang. Nabi Muhammad SAW bersabda, “Setiap kamu adalah pemimpin, dan setiap kamu akan bertanggungjawab dengan kepemimpinannya.” Pemimpin adalah penguasa, dan karena itu setiap orang berpeluang untuk menyalahgunakan kekuasaan. Semakin besar kekuasaan, semakin besar pula kerusakan yang diakibatkan oleh penyalahgunaannya, tetapi juga semakin besar manfaatnya jika digunakan untuk kebaikan bersama. (*)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved