Serambi Ummah

Islam Tak Melarang Menerima Transfusi Darah dari Umat Non Muslim, Simak Penjelasannya

Tidak ada larangan dalam Islam menerima transfusi darah dari umat non muslim, terlebih bila darah tersebut sangat dibutuhkan

Editor: Eka Dinayanti
Serambi Ummah
tidak ada larangan dalam Islam menerima transfusi darah dari umat non muslim. 

BANJARMASINPOST.CO.ID - SETETES darah sejuta kehidupan.

Slogan ini mengambarkan betapa berharganya darah, meski hanya setetes.

Ini tentu saja dari sudut penerima darah (resipien), seperti pasien yang habis menjalani operasi besar.

Yang menjadi pertanyaan adalah halalkah kalau resipien mendapatkan darah dari nonmuslim? Ini terkait kebiasaan nonmuslim yang mengonsumsi makanan maupun minuman yang diharamkan syariat, seperti daging babi, anjing, khamar dan lainnya.

Ustadz Syahdan, seorang Penyuluh Agama Islam Kementerian Agama Kota Banjarbaru berpendapat, pada dasar membantu sesama itu adalah perbuatan yang dianjurkan dan tidak memandang SARA (Suku Agama, Ras dan Antar golongan), karena sebagai insan makhluk sosial satu dengan yang lain saling memerlukan.

Begitu juga ketika ada seseorang yang mendonorkan darahnya, karena pada dasarnya, menerima donor darah itu hukumnya boleh.

Demikian juga seorang muslim boleh menerima donor dari nonmuslim.

Menurut ulama, yang tergabung dalam Darul Ifta Mesir, tidak ada larangan dalam Islam menerima transfusi darah dari umat non muslim.

Terlebih bila darah tersebut sangat dibutuhkan untuk pengobatan, maka hukumnya diperbolehkan.

Permasalahannya, apakah boleh nonmuslim mendonorkan darahnya untuk muslim yang sedang sakit, atau tidak? Jawaban dari itu adalah tidak ada larangan bagi nonmuslim untuk mendonorkan darahnya pada seorang muslim yang sedang sakit.

Hal ini karena tidak dilakukan kecuali karena adanya kebutuhan, baik darah tersebut berasal dari orang muslim maupun dari nonmuslim.

Menerima donor darah dalam keadaan ini menurut para ulama hukumnya boleh karena mendesak.

"Pada sisi lain, Imam Nawawi dalam kitab Syarah Shahih Muslim, menerangkan, tubuh dari nonmuslim sejatinya adalah suci, tidak najis. Adapun ayat yang mengatakan, nonmuslim adalah najis, yang dimaksud ayat itu adalah aqidah mereka. Dengan demikian, jika non muslim itu sejatinya suci, maka darah mereka pun demikian-boleh menerima transfusi," katanya, Kamis (1/12).

Selanjutnya Ustadz Syahdan juga mengatakan, Imam Bukhari menyebutkan dalam Shahih Bukhari, bersumber dari Ibnu Abbas secara mu’allaq, muslim tidaklah najis baik hidup dan matinya.

Halaman
123
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved