Religi

Bolehkah Nazar Dibatalkan Padahal Keinginan Terkabul? Ini Kata Ustadz Adi Hidayat

Ustadz Adi Hidayat terangkan mengenai Nazar. Apakah Nazar bisa dibatalkan jika keinginan terkabur, ini kata pendakwah yang bisa disapa UAH

Penulis: Mariana | Editor: Irfani Rahman
kanal youtube Adi Hidayat Official
Ustadz Adi Hidayat terangkan mengenai Nazar. Apakah nazar bisa dibatalkan saat keinginan telah terkabul, simak penjelasannya 

BANJARMASINPOST.CO.ID - Pendakwah Ustadz Adi Hidayat menjelaskan mengenai dibatalkannya Nazar padahal keinginan telah terwujud.

Dikatakan Ustadz Adi Hidayat, kaum muslimin hendaknya mengetahui makna dan ketentuan Nazar, adanya nazar dapat mengubah hukum suatu perbuatan atau ibadah.

Sehingga diterangkan Ustadz Adi Hidayat, seseorang mewajibkan kepada dirinya sendiri yang asalnya tidak ada dalam ketentuan syariat Islam.

Ustadz Adi Hidayat menjelaskan Nazar pada awalnya tidak berlaku hukum umum pada umat Islam.

"Tapi seseorang melekatkan itu kepada dirinya sendiri untuk melakukan sesuatu, bentuk nazar ada dua, yang pertama dibenarkan secara syariat dalam ketaatan kepada Allah, yang kedua mengerjakan kewajiban yang bertentangan dengan nilai syariat atau maksiat," terang Ustadz Adi Hidayat dilansir Banjarmasinpost.co.id dari kanal youtube Adi Hidayat Official.

Baca juga: Cara Berkah dalam Mencari Nafkah, Ustadz Adi Hidayat Beri Penjelasan

Baca juga: Hukum Bertaubat Namun Tak Meminta Maaf kepada yang Dizalimi, Ustadz Adi Hidayat Beri Penjelasan

Sabda Nabi Muhammad SAW melalui Siti Aisya dalam hadist yang diriwayatkan Imam Bukhari, nazar yang mengarah kepada ketaatan maka lakukan ketaatan itu.

Misalnya seseorang yang bernazar mendapatkan promosi jabatan tertentu, maka akan menyantuni 10 anak yatim, perbuatan ini adalah bagian dari ketaatan kepada Allah SWT.

"Bagian ibadah yang dibenarkan dalam syariat Islam, hukumnya umum, tapi orang itu menjadikan itu mengikat untuk dirinya, sedangkan dalam Alquran Surah Al-Maun menjelaskan mengenai santunan orang-orang miskin, atau secara spesifik sabda Nabi SAW mengenai menyantuni anak yatim," paparnya.

Misalnya nazar lainnya, jika promosi jabatan maka akan menunaikan ibadah haji atau ibadah umrah.

Ibadah haji dan umrah hukumnya terbuka, kapanpun ada kemampuan bisa dilaksanakan. Namun orang itu mengikat dirinya untuk menunaikan itu.

"Jika seseorang mengikat dirinya dalam ketaatan sabda Nabi SAW maka lakukan," tegasnya.

Namun jika seseorang bernazar kepada Allah dalam konteks untuk melakukan maksiat maka hendaknya tidak dilakukan, dilarang bermaksiat kepada Allah SWT.

Contoh nazar yang dilarang adalah seseorang yang berjanji jika dapat promosi jabatan maka akan berjudi atau mabuk-mabukan. Itu adalah hal yang tidak dibenarkan atau tidak boleh dilakukan.

"Apabila Allah kabulkan keinginan itu maka orang tersebut terikat dengan nazar, dengan ketentuan, kewajiban yang melekat pada harapan yang disebutkan," jelas Ustadz Adi Hidayat.

Baca juga: Erupsi Gunung Semeru Terjadi, Ini Doa Terbaik saat Kena Musibah, Buya Yahya Beri Penjelasan

Baca juga: Cemburu yang Dibolehkan dalam Rumah Tangga, Ustadz Khalid Basalamah: Jika Terjadi Pelanggaran Agama

Halaman
123
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved