Berita Banjarmasin

Fenomena Curhat ke Sosial Media, Begini Pandangan Dosen Ilmu Komunikasi Fisip ULM

Media sosial seolah menjadi wadah baru bagi banyak orang untuk meluapkan isi hati. Begini pandangan dosen Fisip ULM

Penulis: Noor Masrida | Editor: Hari Widodo
Banjarmasinpost.co.id/Noormasrida
Dosen Prodi komunikasi Fisip ULM, Sri Astuty M.Si memberikan tanggapannya tentang fenomena masyarakat yang senang curhat di sosial media, Jumat (9/12/2022)  

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN-Media sosial seolah menjadi wadah baru bagi banyak orang untuk meluapkan isi hati. 

Tidak sekadar membagikan hal-hal bahagia atau aktivitas sehari-hari, tapi banyak pula orang yang menjadikan sosmed sebagai wadah untuk berbagi keluh kesah.

Bahkan secara ekstrem, sosial media bisa dijadikan tempat mengadu dengan 'dalih' memviralkan keluhan tersebut yang mana tujuannya agar masalah bisa cepat terselesaikan. 

Nyatanya tidaklah demikian, Dosen Prodi Ilmu komunikasi FISIP Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Sri Astuty M.Si, menilai bahwa membagikan keluhan di sosial media dengan maksud memviralkannya adalah sesuatu yang cukup kompleks. 

Baca juga: Viral Ibu Curhat Anaknya Meninggal Gegara Tindakan di Rumah Sakit, RSUD Ulin Banjarmasin Buka Suara

Baca juga: Cerita Korban Penipuan Bermodus Chat Kurir di Banjarmasin, 35 Juta Raib dalam Sejam

Baca juga: Jenis Curhat yang Termasuk Ghibah, Buya Yahya Imbau Tak Cerita dengan Sembarang Orang

"Jangan pernah berpikiran misalnya ini sosial media punyaku, terserah aku mau membagikan yang mana saja. Ingat, meskipun dunia digital, tapi tetap di balik itu semua kan ada orang-orangnya. Jadi alangkah baiknya supaya masyarakat lebih bijak menggunakan sosial media," papar Sri Astuty. 

Jika ingin membicarakan sesuatu di sosial media harus dipikirkan baik-baik apakah itu akan berdampak bagi si empunya diri atau tidak. 

"Lalu jika berkoar-koar di sosial media, apakah dia menuangkan itu hanya karena emosi sesaat atau bagaimana. Kan yang rugi diri sendiri, cuma karena cuitan atau ungkapan saat emosi dampaknya bisa saja menjadi negatif ke dirinya ataupun ke objek yang dia bicarakan," lanjut wanita yang menjabat sebagai koordinator wilayah Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) Banjarmasin ini. 

Lebih lanjut, Sri Astuty juga tidak menampik jika literasi digital masyarakat di Indonesia dan Kalimantan Selatan khususnya memang masih terbilang rendah. 

Gadget yang canggih sering kali tidak dibarengi dengan kemampuan seseorang untuk mengenali dirinya sendiri dalam ber sosial media

"Dalam ber sosial media atau secara umum saat menggeluti dunia digital, ada 4 hal yang mendasar yang seharusnya dimiliki dan 4 unsur tersebut haruslah berkesinambungan," ungkap Sri Astuty. 

4 hal yang dimaksudkan adalah kecakapan digital, etika digital, budaya digital, dan pengamanan digital. 

"Kecakapan digital adalah kemampuan seseorang untuk ber sosial media baik menjalankan suatu aplikasi, misalnya dia bisa mengakses platform digital seperti YouTube, Facebook ataupun yang lainnya," katanya. 

Sedangkan etika digital adalah kemampuan untuk memilah dan memilih apa saja yang bisa kita bagikan di sosmed, atau bagaimana seharusnya kita bersikap tentang sesuatu di sosial media

"Sedangkan budaya digital ini bisa dimiliki, ketika etika dan kecakapan digital sudah dikuasai, sudah jadi budaya bagi kita," tambahnya. 

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved