Suka Duka Hidup di Pesantren

Pernah Mengenyam Pendidikan Ponpes di Banjarbaru, Vera Kini Terbiasa Hidup Teratur dan Disiplin

Verawati, warga Banjarmasin, merasakan manfaat hidup teratur yang ia dapat semasa remaja mondok di sebuah pesantren di Banjarbaru.

Penulis: Salmah | Editor: Eka Dinayanti
Istimewa/Verawati
Verawati 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARBARU - Verawati, warga Banjarmasin, merasakan manfaat hidup teratur yang ia dapat semasa remaja mondok di sebuah pesantren di Banjarbaru.

Walaupun diakuinya hanya sebentar mondok, tapi tetap ada manfaatnya.

"Manfaat dirasakan adalah diajarkan kedisiplinan dari berbagai hal, tentang waktu salat yang tepat waktu, waktu makan, waktu tidur maupun belajar, semua sudah ada aturan. Kalau ada yang melanggar pasti ada sanksi yang diterima, namun sanksi itu sangat mendidik santri," ujarnya.

Memang bagi Verawati awalnya berat menjalani segala aturan tersebut.

Namun akhirnya ia pahami bahwa di manapun tinggal pasti akan ada norma atau aturan yang mengikat, berikut pula ada konsekuensi jika tak taat aturan.

Baca juga: Kisah Alumnus Ponpes Darul Hijrah Putra Cindai Alus, Kabupaten Banjar, Selalu Ikhlas Berbagi

Baca juga: Pernah Tinggal di Pesantren, Alumnus Ponpes Al Falah Putri Banjarbaru Belajar Memupuk Solidaritas

Di pondok selain ustadzah yang mendidik dan membimbing, juga ada para santriwati senior yang membantu dalam pengawasan.

Hal ini tentunya mengajarkan bagaimana seorang senior harus menjadi tauladan sehingga bisa dihormati yuniornya.

Diingat Verawati pula, selama di pondok para santriwati diajarkan bagaimana ikhlas dan bersyukur atas apapun rezeki yang diberikan Allah SWT.

"Paling ingat, saat jam makan, ke dapur dengan teman-teman. Apapun menu yang disediakan, itulah rezeki kita. Semua mendapat porsi yang sama. Kami berdoa dan belajar mensyukuri nikmat," tukasnya.

Selepas belajar di pondok, Verawati melanjutkan pendidikan mukim atau belajar di rumah ustadz/ustadzah, atau bisa disebut sekarang home schooling, di wilayah Sungai Lulut, Banjarmasin.

"Belajar mengaji kitab dan pelajaran pendidikan agama Islam lainnya. Hanya saja saya jadi tidak banyak teman belajar seperti di pondok pesantren," ungkapnya.

Bekal pernah menjadi santriwati tentunya menjadi tauladan bagi anak-anaknya.

Tak heran tiga anaknya dengan keinginan sendiri juga mondok pesantren.

"Semasa anak-anak masih kecil saya sering berbagi cerita tentang kehidupan di pesantren, alhamdulilah mereka jadi tertarik untuk belajar di sana," pungkasnya.

(banjarmasinpost.co.id/salmah saurin)

 

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved