Opini Publik

Banjar dan Perjuangan Laut Masa Revolusi

perjuangan rakyat Kalimantan masa lalu tidak terpisahkan dengan laut, baik di masa Perang Banjar (1859-1905) maupun Revolusi Kemerdekaan (1945-1949).

Editor: Eka Dinayanti
bpost cetak
Ahmad Barjie B, Komisi Informasi dan Komunikasi MUI Kalsel Mahasiswa Pascasarjana UIN Antasari 

Oleh: Ahmad Barjie B, Penulis Buku 4 Pahlawan Nasional Banjar Kalimantan Selatan

BANJARMASINPOST.CO.ID - BELUM lama tadi beberapa perwira TNI dari Pangkalan Angkatan Laut Banjarmasin bersilaturahim dengan Kesultanan Banjar yang diwakili Datu Dr Taufik Arbain. Di rumahnya Datu Taufik ditemani penulis dan Gusti Surian. Banyak hal yang kedua pihak bicarakan, diantaranya kami menekankan bahwa perjuangan rakyat Kalimantan masa lalu tidak terpisahkan dengan laut, baik di masa Perang Banjar (1859-1905) maupun Revolusi Kemerdekaan (1945-1949).

Divisi IV Pertahanan Kalimantan yang dipimpin Brigjen TNI Hassan Basry, juga tentara laut. Baru setelah dilakukan restrukturisasi dan pembenahan kemudian dijadikan sebagai angkatan darat, dan Hassan Basry sempat menjadi Pangdam X Lambung Mangkurat, berkedudukan di Banjarmasin. Sebelum ditetapkan pemerintah sebagai Pahlawan Nasional, nama beliau juga diabadikan sebagai salah satu kapal perang, yaitu KRI Hassan Basry.

Bagaimana perjuangan beliau bersama sejumlah ekspedisi laut untuk menyeberang dari Jawa ke Kalimantan dan perjuangan setelahnya, sudah banyak diuraikan dalam buku-buku sejarah perjuangan Kalimantan. Bersama Hassan Basry banyak tokoh lain yang perjuangannya juga perlu kita garisbawahi. Salahsatunya Letnan I (Laut) Musthafa Ideham.

Palagan Batakan
Usai Perang Dunia II, tentara Sekutu (Inggris, Australia dll) datang ke Indonesia untuk melucuti senjata tentara Jepang dan memulangkan mereka ke negeri asal. Tugas yang sama juga dijalankan di Kalimantan. Tentara Sekutu asal Australia tiba di Banjarmasin 17 September, sebulan setelah Proklamasi 17 Agustus 1945, di bawah pimpinan Jenderal Sir Albert Thomas Blamey. Setelah menjalankan tugas, tentara NICA/Belanda mengambil alih kekuasaan yang sempat vakum akibat pendudukan Jepang. Belanda tidak mau tahu dan tidak mengakui Indonesia sudah merdeka. Mereka sudah siap secara sipil dan militer, karena itu ketika ada letupan perlawanan rakyat, seperti Perlawanan 9 November 1945 di Banjarmasin, Belanda dapat mengatasinya dengan mudah, sehingga banyak pejuang yang jadi korban.

Guna membantu perjuangan rakyat Kalimantan melawan Belanda, Gubernur Kalimantan pertama Pangeran Mohammad Noor yang berkedudukan di Yogyakarta mengumpulkan pemuda Banjar di Jawa Timur. Di Surabaya ada laskar Hizbullah/Sabilillah yang tergabung dalam Ikatan Pejuang Kalimantan (IPK) pimpinan H Gusti Abdul Muis. Dari sini direkrut sejumlah pejuang untuk dikirim ke Kalimantan. Melalui pantai Tuban diberangkatkan tiga ekspedisi kapal layar beranggotakan 36 pemuda pejuang, dengan menyamar perahu dagang. Kapal dipenuhi dengan 20 ton beras, 20 ton gula pasir dan puluhan ton garam, ketiga barang ini sangat langka dan diperlukan di Kalimantan. Sedangkan senjata berupa 20 peti granat tangan, 17 pucuk LE buatan Jepang disembunyikan di bawah palkah kapal.

Ketiga kapal mulai berlayar akhir Februari 1946 dengan singgah sebentar di Kalianget Madura. Pertama pimpinan Abdullah bertugas sebagai penggempur, kedua pimpinan Abdul Kadir Jailani sebagai pasukan cadangan, dan ketiga pimpinan Musthafa Ideham sebagai penyelidik dan koordinator. Setelah berada di laut lepas, ternyata terjadi badai dahsyat, dan kapal pimpinan Abdullah hilang lenyap. Dua lainnya selamat dan mendarat darurat di pulau Kangean.

Awal April dua kapal yang tersisa meneruskan pelayaran dan berhasil mencapai pantai Batakan Tanah Laut pada 6 April pukul 20.00 malam. Barang-barang yang dibawa sebagian dibagikan dan dijual kepada penduduk, terutama garam yang sangat dibutuhkan nelayan setempat. Di Batakan dibentuk pemerintahan kecil darurat, dengan menunjuk Pembakal Abdullah sebagai Kepala Pemerintahan, Juhri sebagai Pejabat Kiai, Haji Husaini Kepala Kejaksaan, Salman komandan tempur untuk Gunung Birah, Tabri komandan tempur Tanjung Dewa dan Talib komandan tempur Pasukan Laut. Musthafa Ideham dkk melatih kemiliteran pemuda secara kilat. Karena senjata api sangat terbatas, para pemuda hanya berbekal parang, tombak, keris, pedang, mandau dan bambu runcing.

Di Batakan digali parit-parit pertahanan dan pos-pos pengintai pada tempat strategis. Pos Gunung Birah untuk mengadang musuh dari Pelaihari, Batu Tungku dan Panyipatan, Pos Tanjung Dewa untuk menghadapi tentara laut Belanda.

Jumat 13 April 1946 tentara Belanda menyerang pejuang dari arah Pelaihari, dalam serangan pertama ini Belanda kalah dan terpaksa balik ke Pelaihari. Tiga hari kemudian, 15 April, Belanda melakukan serangan besar-besaran dari darat, laut dan udara. Kampung Batakan dihujani dengan bom-bom api sehingga luluh terbakar. Sebuah truk penuh tentara Belanda berhasil dimusnahkan dengan diguling ke jurang. Pertempuran sengit ini berlangsung selama tiga hari, terkenal dengan sebutan Palagan Batakan. Tercatat 8 orang pejuang Batakan gugur, dan ekspedisi laut pimpinan Musthafa Ideham kehilangan 4 personel, yaitu Anang B, Syahran, Abdul Kadir dan Syukur.

Pimpinan ekspedisi ini, Musthafa Ideham, masih berumur panjang hingga pensiun dari militer. Beliau sempat mengabdikan dirinya di ranah sipil, sebagai Ketua Yayasan Universitas Islam Kalimantan (Uniska) Muhammad Arsyad al-Banjari, bersama teman seperjuangannya KH Gusti Abdul Muis. Beliau meninggal 30 Maret 1995 dalam usia 79 tahun dan dimakamkan di TMP Bumi Kencana Banjarbaru.

KH Gusti Abdul Muis (1918-1992) saat hidupnya sempat bercerita bahwa hubungan Jawa dengan Kalimantan sangat erat. Dulu (1526), saat 1.000 tentara laut Demak membantu Pangeran Samudra (Sultan Suriansyah), armada Demak juga berlabuh dari Tuban. Sekitar 420 tahun kemudian dari Tuban pula diberangkatkan sejumlah armada laut untuk membantu perjuangan rakyat Kalimantan. Pemuda Kalimantan yang ada di Jawa saat itu, juga militer Jawa dan masyarakat sipilnya banyak membantu. Tidak terkecuali pemuda dari Kalimantan juga ikut berjuang di Jawa, seperti Drs H Rustam Effendi (90), yang dulu aktif menjadi Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP) di Malang dan Surabaya, dan belakangan sukses sebagai pengusaha alat-alat berat di Jakarta. Semua sangat berkesan dan mengharukan. Wajarlah kita semua hidup dalam Negara Kesatuan. (*)

 

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved