Opini Publik

Rasa Khawatir Masyarakat Berpotensi Picu Resesi 2023

Berbagai media outlet ramai membahas resesi, bahkan beberapa content creator tidak mau ketinggalan menyebarluaskan informasi tentang resesi.

Editor: Eka Dinayanti
istimewa
SARI ANINDITA WIDHIANTARI 

Oleh : SARI ANINDITA WIDHIANTARI (Tenaga Teknis Financing Hub, Sekretariat
Nasional SDGs, Kementerian PPN/Bappenas)

BANJARMASINPOST.CO.ID - MENJELANG menyambut tahun baru, istilah ‘Resesi 2023’ masih hangat diperbincangkan oleh masyarakat. Berbagai media outlet ramai membahas resesi, bahkan beberapa content creator pun tidak mau ketinggalan dalam menyebarluaskan informasi tentang resesi. Namun, informasi yang bertujuan untuk mengedukasi masyarakat justru menimbulkan rasa takut pada masyarakat, dan berpotensi mampu menciptakan resesi itu sendiri.

Secara umum resesi dapat dikatakan sebagai penurunan aktivitas perekonomian yang signifikan, dikutip dari The Economist (2022) salah satu indikasi utama resesi adalah Produk Domestik Bruto (PDB) suatu negara yang menurun selama dua kuartal berturut-turut. Resesi dapat berdampak fatal seperti menghambat ekspansi dunia usaha, pemutusan hubungan kerja massal yang akan meningkatkan jumlah pengangguran.

Dunia beberapa kali telah mengalami resesi seperti krisis keuangan tahun
2008 yang diakibatkan oleh kredit macet pada sektor properti Amerika Serikat. Lalu pada tahun 2020, dunia kembali menghadapi resesi yang diakibatkan oleh Pandemi Covid-19, di mana sebagian besar negara mengalami penurunan pertumbuhan ekonomi, tidak terkecuali Indonesia. Saat ini, ketika mayoritas negara masih pada tahap pemulihan ekonomi, invansi Rusia terhadap Ukraina menciptakan disrupsi pada rantai pasok global, yang mengakibatkan harga pangan dan energi melonjak sehingga daya beli masyarakat menurun. Internasional Monetary Fund (IMF) memprediksi invasi tersebut akan mengakibatkan lebih dari sepertiga ekonomi global mengalami resesi pada tahun 2023, di mana perekonomian Uni Eropa, Amerika Serikat, dan Tiongkok akan menurun. IMF juga menyatakan inflasi pada negara berkembang akan meningkat, bahkan dapat
mencapai 9 persen, maka tidak heran jika Indonesia mulai meningkatkan kewaspadaannya.

Cuplikan pernyataan yang dibuat oleh Presiden Joko Widodo mengenai
perkiraan perekonomian Indonesia pada tahun 2023, tentu menimbulkan rasa penasaran masyarakat Indonesia tentang resesi, mulai dari pengertian dari resesi, dampak yang akan ditimbulkan, hingga cara menyikapinya.

Saat ini, dengan berbagai kemudahan dalam mendapatkan informasi, masyarakat dapat mencari informasi terkait resesi hanya melalui pencarian kata kunci di situs ataupun kanal youtube. Salah satu video yang paling viral adalah milik Raymond Chin, yang berjudul “2023: Menuju Kehancuran Dunia” yang telah ditonton sebanyak 5,5 juta. Di dalam kanal youtube-nya, Raymond Chin menyatakan bahwa tahun 2023 menjadi tahun yang paling menyeramkan, sebanding dengan Perang Dunia Kedua. Masyarakat pun diimbau untuk melakukan persiapan agar tidak jatuh miskin pada tahun 2023. Walaupun tujuan utama Raymond adalah untuk mengedukasi masyarakat, dan masyarakat yang merasa demikian, namun beberapa pernyataan yang dibuatnya berhasil membuat masyarakat takut dalam menghadapi perekonomian Indonesia tahun depan. Raymond bukanlah satu-satunya, masih banyak narasi yang menceritakan betapa menakutkannya dampak dari resesi. Inilah yang dimaksud dengan Fear Mongering, yakni menyebarkan ketakutan irasional dengan sengaja, dan bertujuan untuk mempengaruhi pendapat dan tindakan publik.

Akan tetapi, Mantan Menteri Keuangan dan Ekonom berasal dari Universitas
Indonesia, Chatib Basri, justru menyatakan bahwa probabilitas Indonesia
mengalami resesi relatif kecil. Dikarenakan keterikatan Indonesia
dengan ekonomi global relatif terbatas dibandingkan dengan negara lain.
Bahkan, di saat perekonomian global sedang melambat, keadaan perekonomian Indonesia justru membaik. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa perekonomian Indonesia pada triwulan ketiga pada tahun 2022 mengalami peningkatan sebesar 5,72 persen dari triwulan tahun sebelumnya.

Hal tersebut terdorong dari tingkat permintaan domestik yang terus
membaik, dan tingkat ekspor yang meningkat mencapai 21,64 persen. Secara garis besar, BPS menyampaikan perekonomian hampir di seluruh provinsi mengalami peningkatan, dengan provinsi di Pulau Jawa sebagai penyumbang utama. Selain itu, Chatib Basri menambahkan apabila Indonesia terdampak resesi, yakni melalui kegiatan perdagangan khususnya ekspor, meskipun begitu tidak akan menyebabkan Indonesia untuk masuk ke dalam jurang resesi, karena kontribusi ekspor terhadap PDB Indonesia hanya 25 persen. Justru rasa pesimistis dan kekhawatiran masyarakat yang lahir dari pemberitaan negatif resesi yang berlebihan, berpotensi membuat resesi
benar-benar terjadi di Indonesia.

Berdasarkan New Keynesian Economics, perilaku dan ekspektasi dapat memengaruhi keputusan ekonomi. Apabila masyarakat memiliki rasa pesimis akan terjadi resesi di masa depan, maka masyarakat cenderung akan menyimpan uang mereka sehingga daya beli masyarakat menurun, mengurangi permintaan produksi dan perusahaan akan membuka lebih sedikit lowongan
kerja. Keputusan ini dapat menurunkan permintaan agregat, yakni jumlah
permintaan barang dan jasa dalam perekonomian pada tingkat harga tertentu, serta menghambat pertumbuhan ekonomi. Dari sisi investasi, anggapan resesi akan terjadi dapat membuat para investor menilai bahwa investasi terlalu berisiko dan memutuskan untuk tidak melakukannya, hal ini pun dapat menyebabkan permintaan agregrat menurun akibat jumlah uang beredar yang berkurang.

Penelitian yang dilakukan oleh Richard Stephens dari Keele University
menyatakan bahwa kekhawatiran seseorang yang menyebabkan penurunan
pengeluaran mereka dapat mempengaruhi bahkan memperpanjang resesi. Berdasarkan hasil wawancara para psikolog terhadap 2000 penduduk Texas, Amerika Serikat, pasca resesi tahun 2008, ditemukan bahwa kewaspadaan masyarakat terhadap resesi meningkat, akan tetapi pengetahuan terhadap ekonomi justru tidak ada peningkatan. Masyarakat yang memiliki informasi dan pengetahuan tentang permasalahan ekonomi yang baik sangat diperlukan, karena hal ini dapat mempengaruhi keputusan ekonomi mereka dan juga implikasinya terhadap resesi. Maka, Stephens mendorong masyarakat untuk mencari dan mencermati sumber informasi yang relevan
dan akurat.

Banyaknya informasi yang bertebaran khususnya di internet dapat menjuruskan masyarakat kepada informasi yang salah, dan menimbulkan rasa khawatir berlebih yang tidak perlu. Maka, guna memastikan informasi yang didapatkan berasal dari sumber terpercaya, perlu untuk mengidentifikasi
keakuratan informasi yang dituangkan oleh penulis, seperti referensi yang digunakan dapat diandalkan atau tidak, dan tidak ada bias di dalam informasi. Ditambah, apabila ingin mengetahui hal-hal terkait resesi dan mendapatkan informasi mendasar tentang kondisi perekonomian Indonesia
yang tepat, dapat langsung mencari tahu pada sumber informasi utama yakni seperti website Kementerian Keuangan, ataupun Bank Indonesia.

Sikap masyarakat dalam menghadapi pergantian tahun juga perlu diperhatikan. Tidak ada salahnya jika memilih untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap resesi, namun alangkah baiknya bila masyarakat berperilaku seperti biasa tanpa dipenuhi rasa cemas. Saat ini yang perlu menjadi fokus masyarakat adalah terus meningkatkan rasa optimisme dalam menyambut tahun 2023, dan menyesuaikan langkah perekonomian yang akan diambil ke depannya, bukanlah mengubah drastis keputusan ekonomi. (*)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved