Serambi Ummah
Tebar Kebaikan ala Guru Kulur
Simak perbincangan banjarmnasin post dengan guru Ahmad Barmawi, berikut perbincangan lengkapnya
BANJARMASINPOST.CO.ID - TUMBUH besar di lingkungan pesantren, sosok Ahmad Barmawi kental oleh didikan agama dari sang kakek, Guru Muhammad Aini. Beranjak remaja, semangatnya menuntut ilmu agama turut menguat. Dia pun melanjutkan pendidikan di Pondok Pesantren Subulussalam dan Darussalam Martapura dan berbagai halaqah pengajian di Kota Intan.
Kini, setelah mendapat kepercayaan untuk melanjutkan kiprah sebagai pemuka agama, ulama yang kerap disebut Guru Muda ini terus menebar pesan-pesan kebaikan.
Baik di pondok pesantren yang dia pimpin, majelis-majelis yang tersebar di sejumlah titik, hingga tiap kesempatan mengisi tausiah keagamaan, tak hanya di Kabupaten Tapin.
Lebih jauh, berikut petikan wawancara BPost dengan Guru Kulur.
Bagaimana cara membentengi diri di era sekarang di tengah dunia yang semakin berkembang?
Sudah digambarkan, semakin hari mendekati akhir zaman, dunia semakin rusak. Tinggal kita membentengi diri dengan cara memperkuat iman. Apapun peluang bermaksiat, bahkan di depan maka, maka InsyaAllah akan selamat. Begitu pula sebaliknya. Bila iman kita lemah, maka sejauh apapun akan didatangi atau dikerjakan. Yang membuat kita aneh adalah kita sadar semakin berkembang dunia tentunya kemaksiatan juga berkembang pesat, namun tidak dibarengi upaya meningkatkan keimanan yang berlebih. Seperti adanya judi online yang bisa diakses di handphone. Siapa saja bisa mengakses tanpa dibatasi orang lain. Maka iman di diri masing-masinglah yang berperan banyak mencegah hal itu.
Bagaimana upaya kita memperkuat iman tersebut?
Ada banyak cara memperkokoh keimanan. Di antaranya mendengarkan nasihat-nasihat yang baik, sebagaimana dikatakan, Addinu Nasihah (dasar agama adalah nasihat). Dalam Al-Qur’an juga dijelaskan lewat Surah Al Asr yang artinya “Demi masa, sesungguhnya manusia dalam kerugian. Kecuali mereka yang beriman, beramal saleh dan menasihati dalam hal kebaikan dan kesabaran.” Inilah peran nasihat dalam upaya memperkuat iman. Perbanyak mendengarkan nasihat baik yang bisa didapat di mana saja, baik di bangku sekolah, guru, ulama, orang tua maupun sumber lainnya.
Bagaimana memberi nasihat kepada sesama, sedangkan kita masih merasa berdosa?
Modal pertama kita memberi nasihat adalah belajar. Analoginya kita belajar lalu mengajar atau dapat nasihat lalu menasihati. Adapun bila merasa diri belum pantas menasihati saat orang melakukan keburukan atau dosa, maka itu bukanlah masalah.
Sebisa mungkin kita menasihati atau mengingatkan agar orang tidak melakukan hal buruk dengan catatan jangan merasa diri kita sudah benar apalagi paling benar. Dengan begitu, besar harapan kita perlahan meninggalkan apa yang menurut kita buruk yang masih ada di diri kita. Jadi semacam berbuat baik dengan cara mencegah keburukan, maka hal baik juga akan datang pada kita. Seperti menjadi pribadi yang lebih baik.
Adapun hal yang kurang pantas adalah seseorang yang merasa dirinya bagus padahal buruk, namun dengan percaya diri memberikan nasihat yang baik kepada orang yang bermaksiat atau berbuat buruk.
Terkait kiprah Anda sebagai dai, apa harapannya ?
Tentunya kita bersama-sama berusaha untuk terus menebar kebaikan. Sehingga keimanan, ketakwaan terus meningkat. Kondisi ini akan berdampak pada masyarakat yang juga akan lebih baik. Kita tidak menebar kebencian, hanya kasih sayang terhadap sesama. Agar sama-sama dalam kebaikan. (tab)
Dapatkan informasi lainnya di Googlenews, klik : Banjarmasin Post
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/Guru-Ahmad-Barmawi2.jpg)