Banjarmasin Post Cetak
Safar Bulan Sial, Benarkah?
Banyak orang beranggapan bulan Safar adalah bulan sial, apakah benart, ini kata KH Husin Nafarin LC MA
Oleh: KH Husin Naparin LcC MA
Ketua MUI Provinsi Kalsel
SAFAR adalah nama bulan kedua sesudah bulan Muharram dalam kalendar Islami (Hijriyah). Sebagian masyarakat muslim warga Banjar beranggapan Safar bulan sial, sehingga banyak yang tidak berani melakukan sejumlah aktivitas kehidupan di bulan ini.
Misalnya saja mengadakan pesta Perkawinan. Ada kepercayaan jika menggelar pesta perkawinan di bulan Safar ini, maka kelurganya bisa jadi tidak harmonis bahkan bisa berujung pada terjadinya perceraian. Lalu perempuan hamil selalu berdoa agar tidak melahirkan di bulan Safar. Sebab apabila melahirkan di bulan Safar, anaknya harus ditimbang. Apabila tidak, dikhawatirkan menjadi nakal dan bodoh.
Pada bulan Safar pula, warga biasanya tidak berani memulai membangun rumah. Apabila dilanggar maka berakibat terjauh dari kedamaian. Rumah yang ditinggalinya tidak akan membawa ketentraman dan kenyamanan bagi penghuninya.
Selain itu, warga biasanya juga tidak berani memulai usaha di bulan Safar. Karena kalau dilanggar bisa mengakibatkan usahanya mengalami kebangkrutan.
Sementara itu kondisi ini berbeda dengan persepsi sebagian masyarakat Jawa Timur misalnya, yang beranggapan bulan Safar adalah bulan biasa. Sebaliknya bagi mereka bulan sial adalah bulan Muharram (bulan Syura). Hal itu membuat mereka biasanya menunda hajatan di bulan Muharram ke bulan Safar.
Kepercayaan akan adanya kesialan di bulan Safar sudah ada sejak dahulu di kalangan bangsa Arab. Menurut Syekh Abdul Hamid Muhammad Ali Quds di dalam kitabnya Kanz An-Najah was- Surur, Li Ad’iyah allati Tasyrah As-Shudur: “Pada hari Rabu terakhir bulan Safar (Arba Mustamir) setiap tahun turun 320.000 bala yang nantinya disebar kesepanjang tahun”. Diriwayatkan pula, sesudah perang Saiba, seorang wanita Yahudi memberikan paha kambing masak beracun kepada Nabi Muhammad SAW, untuk membunuhnya. Beliau selamat, namun seorang sahabat bernama Barra bin Azib tewas, ini terjadi pada bulan Safar.
Safar berarti kosong, pada bulan ini biasanya bangsa Arab zaman dahulu meninggalkan tempat kediaman untuk berperang atau bepergian jauh sehingga menjadi kosong. Ada juga yang meyakini nama Safar diambil dari nama suatu jenis penyakit perut akibat adanya sejenis ulat besar berbahaya yang bersarang di dalamnya. Pendapat lain menyatakan safar adalah sejenis angin berhawa panas yang menyerang bagian perut dan mengakibatkan orang yang ditimpanya menjadi sakit.
Barangkali dengan beberapa keyakinan dan peristiwa ini, muncul kepercayaan akan sialnya bulan Safar; tak lain merupakan khurafat atau khayalan turun temurun dari nenek moyang yang kemungkinan tidak beragama Islam.
Safar sebenarnya bulan biasa, tidak mempunyai keistimewaan yang harus menjadi sorotan. Bulan yang mendapat sorotan dalam Al-Qur’an adalah bulan Haram, yaitu Zul Qa’dah, Zul-Hijjah, Muharram, dan bulan Rajab (At-Taubah, 36), dan bulan Ramadhan (Al Baqarah 185).
Nabi Muhammad SAW melarang menjelek-jelek masa. Sabda beliau : “Allah, Dialah yang menciptakan masa. Allah SWT juga mengatur segala-galanya pada waktu siang dan malam.” (HR.Muslim, 2246)
Dapat kita simpulkan bahwa persepsi Safar bulan sial tidak berdasarkan Al-Qur’an dan Hadits, hal itu hanya pendapat seorang ulama (Syekh Abdul Hamid Muhammad Ali Quds); karenanya tidak dapat dijadikan dasar. Hadits tentang nahasnya Arba Mustamir menurut Syekh Abdurrahman bin Ali di dalam kitabnya Tamyiz At-Thayyib Min Al Khabaits adalah hadits maudhu (palsu).
Batimbang anak yang dilahirkan di bulan Safar agar terhindar dari kejelekan juga hanyalah kebiasaaan. Sebab seorang anak yang baru lahir menurut Islam hendaklah diazankan, dicukur rambutnya, diberi nama yang baik, diaqiqahi dan di khitan.
Tahukah anda almarhum KH Zaini Gani (guru Sakumpul) memulai membangun rumah pada bulan Safar, dan beliau menyarankan kepada pengusaha muda H Norhin (Citra Sasirangan) untuk memulai membangun perumahan di Citra Graha, Jalan A Yani Km 17,5 pada tahun 2006 lalu, juga pada bulan Safar. (*)
Dapatkan informasi lainnya di Googlenews, klik : Banjarmasin Post
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/KH-Husin-Naparin-Lc-MA-Ketua-MUI-Provinsi-Kalsel.jpg)