Tajuk
Karhutla Ancam Dunia Pendidikan
Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) mulai mengancam dunia pendidin, terbaru SMPN 2 Gambut terbakar gegera Karhutla
KEBAKARAN lahan dan hutan (Karhutla) di Kalsel yang mendekati gedung-gedung sekolah patut diwaspadai. Jika tidak diantisipasi dari awal, bisa jadi Karhuta di sekitar sekolah akan mengancam kelangsungan dunia pendidikan.
Paling baru, kawasan SMPN 2 Gambut, Kecamatan Gambut, Kabupaten Banjar Kalsel, Kamis (21/9/2023) sore mendadak gempar. Kebakaran lahan dan hutan (Karhutla) membakar sisi kiri gedung SMPN 2 Gambut tersebut. Sebelumnya api juga berkobar hebat di lahan semak belukar di belakang SMPN 4 Jorong, Selasa (19/9/2023) malam.
Tak hanya itu, kebakaran lahan terjadi di Jalan Jeruk Purut, Kelurahan Sungai Andai, Banjarmasin Utara, di samping sekolah, yakni SMPN 35 Banjarmasin, Rabu (6/9/2023) siang lalu. Semak belukar di sekitar SDN Bajayau di Desa Bajayau Kecamatan Daha Barat, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Senin (4/9/2023) siang juga terbakar.
Kasus ini hanya sedikit karhutla yang mengancam proses belajar mengajar di sekolah. Banyak posisi gedung sekolah di Kalsel sangat dekat dengan lahan kering yang berpotensi untuk terjadi kebakaran.
Pada akhir Agustus 2023 silam, Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kalimantan Selatan (BPBD Kalsel) sendiri telah mendeteksi 7.735 titik api yang menyebabkan Karhutla berdasarkan pantauan aplikasi “Sipongi” dan patroli udara.
Baca juga: Tutorial Cara Ikut Pendaftaran CPNS 2023 yang Dibuka Hari Ini, Simak Langkah Buat Akun SSCASN
Baca juga: Info Cuaca Banjarmasin dan 32 Kota Jumat 22 September 2023, Bandung dan Semarang Sejuk
Secara keseluruhan di 13 kabupaten dan kota, Satgas Karhutla menangani 1.762 hektare luas terdampak dengan rincian sebanyak 650 kali peristiwa di antaranya 29 kali kebakaran hutan dan 621 kali kebakaran lahan. Jika kebakaran lahan itu terjadi pada saat jam sekolah tentu sangat menganggu. Khususnya akibat kabut asap yang ditimbulkan.
Dengan kondisi karhutla yang sering terjadi, bahkan di kawasan yang dekat dengan prasarana sekolah, tentu dunia pendidikan juga harus melakukan antisipasi. Warga sekolah, baik guru dan siswa harus turut mewaspadai penyebab yang bisa memicu terjadinya karhutla di lingkungan sekitarnya.
Selain itu, guna mencegah dampak buruk akibat karhutla, siswa yang sekolahnya di daerah rawan karhutla sebaiknya menggunakan masker. Pemerintah daerah, dalam hal ini Dinas Pendidikan pun sebaiknya membijaksanai dengan memberlakukan aturan khusus untuk sekolah-sekolah di kawasan rawan karhutla, misalnya memundurkan jam masuk sekolah.
Proses pembelajaran yang berlangsung di luar ruangan seperti praktik olah raga atau kegiatan lain yang berbentuk kegiatan fisik pun sebaiknya diganti sementara dengan pembelajaran teori di dalam ruang kelas. Semoga bencana karhutla ini segera berlalu. (*)
Dapatkan informasi lainnya di Googlenews, klik : Banjarmasin Post
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/kebakaran-pada-bangunan-SMPN-2-Gambut.jpg)