Berita Banjar

Pengamat Pendidikan: Pembalajaran Muatan Agama di Sekolah Perlu Ditambah

Menurut pengamat, perlu dilakukan mendesain pembelajaran yang mungkin perlu ditambahi dengan muatan-muatan agama di kegiatan sekolah.

banjarmasinpost.co.id
sdn murung kenanga kabupaten banjar 


BANJARMASINPOST.CO.ID, MARTAPURA - Fenomena sejumlah Sekolah Dasar Negeri (SDN) yang kekurangan peserta didik baru di Kabupaten Banjar, juga mendapat tanggapan pengamat pendidikan dari FKIP ULM, Mohammad Yamin.

Menurut Mohammad Yamin, ada kesan sesungguhnya adalah bagian dari potret bahwa masyarakat orangtua anak didik sudah memandang lebih percaya kepada sekolah agama atau pesantren demi menyiapkan hari depan anak-anaknya.

Selain itu pendidikan di sekolah negeri cenderung mengajari anak didik dengan pengetahuan umum saja, pengetahuan agama sedikit.

"Itu adalah fakta tak terbantahkan. Ini berbeda dengan sekolah agama atau pesantren yang sangat jelas kuat menyajikan mata pelajaran agama mulai dari Al-Qur’an Hadist, Aqidah Akhlak, Fiqih, Sirah Nabawi dan lain-lain yang dipandang perlu untuk menguatkan kehidupan anak didik di masa depan tanpa kemudian meninggalkan mata pelajaran umum sebagai bagian dari kurikulum nasional," urainya.

Tidak salah jika orangtua mengambil preferensi kepada sekolah agama atau pesantren karena mereka berpandangan, agama di(ter)pakai dalam kehidupan sehari-hari, berbeda dengan hanya belajar mata pelajaran umum yang tidak ada kaitannya dengan kehidupan lingkungan sekitar.

"Preferensi orangtua menyekolahkan anak-nya ke sekolah agama sebetulnya bukan hanya di Martapura di lain juga iya, termasuk di Jawa," ulasnya.

Diterangkan Mohammad Yamin, persoalannya adalah mengapa setiap masa penerimaan peserta didik baru (PPDB), jumlahnya terus berkurang dan itu dirasakan hampir semua sekolah negeri, terlepas mungkin efek zonasi juga berpengaruh, akan tetapi preferensi orangtua menyekolahkan anak-anaknya ke sekolah agama atau pesantren lebih kuat beralasan dari pada faktor lainnya.

"Ini jika dianalisis lebih mendalam menjadi tantangan tersendiri bagi sekolah negeri atau sekolah umum sebagai upaya menarik kembali minat orangtua kembali masuk ke sekolah negeri atau umum,” ujarnya.

Salah satu hal mendasar yang kemudian perlu dilakukan adalah mendesain pembelajaran yang mungkin perlu ditambahi dengan muatan-muatan agama di kegiatan sekolah.

“Hal lain yang mungkin juga perlu dilakukan adalah mendekatkan sekolah negeri kepada masyarakat sekitar dengan mengundang anak-anak masyarakat sekitar mengenal profil sekolah, mengadakan kegiatan kemasyarakatan dan agama yang bertujuan untuk membangun kesadaran kembali bersekolah ke sekolah negeri," urainya

Disisi lain, lanjut dia, kreativitas dan inovasi guru serta pimpinan sekolah agar anak-anak di lingkungan sekitar mau sekolah ke sekolah negeri.

"Ada guru dan pimpinan sekolah mengerjakan hal-hal rutinitas. Ada juga guru dan pimpinan sekolah kaya kreativitas dan inovasi. Sekolah-sekolah sedemikian bisa dilakukan evaluasi dulu oleh dinas pendidikan setempat. Jika berturut-turut tidak ada perubahan, dimungkinkan regrouping," sebutnya.

Menurut dia, regrouping adalah akhir setelah perjalanan panjang.

"Namun tentu harus pertimbangkan asas pelayanan pendidikan negara harus hadir di daerah itu," pungkasnya.

 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved