Opini

Ideologi dalam Sinema September

unia sinema dan politik Indonesia setiap bulan September selalu ramai dengan kontroversi soal pemutaran sebuah film, yaitu Pengkhianatan G30S/PKI.

Tayang:
Editor: Edi Nugroho
DokumentasiBanjarmasinpost.co.id
Satrio Wahono Sosiolog dan Magister Filsafat UI 

Alhasil, masyarakat harus diizinkan pula menonton film semacam Jagal secara terbuka jika demokrasi ingin diterapkan secara murni dan konsekuen. Sebab, film ini bisa menjadi referensi yang melengkapi film-film lain bertema sejenis. Masalahnya, selama ini pemutaran film tersebut beberapa kali dibubarkan secara paksa oleh sejumlah pihak, sehingga masyarakat mendapati akses mereka terbatas ke film-film tersebut. Ini jelas tidak menjunjung tinggi asas kesetaraan (equality) dan keadilan (fairness) dalam demokrasi.

Akhirulkalam, pemutaran film Pengkhianatan G30S PKI tidaklah perlu mengundang keributan. Biarkan orang bebas menonton film tersebut sebagai referensi sejarah. Akan tetapi, berikan pula kebebasan bagi masyarakat untuk menonton film-film lain sebagai referensi pelengkap. Atau, berikan pula kemudahan perizinan bagi para insan perfilman untuk membuat film bertema serupa. Dengan demikian, pertarungan ideologis antaranak bangsa justru bisa berlangsung secara damai, cerdas, elegan, dan produktif. (*)

 

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved